
Dengan kilatan mata tajam Arinda membalas tatapan mata Daniel yang penuh kecemburuan, kening Daniel berkerut saat dia di tatap kesal oleh istrinya. Tatapan Arinda semakin mendominasi membuat kecemburuan Daniel yang sempat mengudara perlahan hilang, tersungging senyuman nackal di bibirnya mengerti dengan tatapan mematikan Arinda.
Jika dia kesal begini membuatku semakin ingin memakannya lagi ujar Daniel dalam hati menatap istrinya. Arinda masih kesal dengan kecemburuan Daniel yang membuatnya mendapat hukuman manis, membuat mereka hampir tidak bisa menghadiri akad nikah Aisyah dan Arvin.
Jujur saat ini dia merasa sangat lelah dan letih, pinggangnya terasa sangat pegal. Bukan hanya karena dia sedang mengandung namun juga hukuman manis Daniel membuat pinggangnya semakin pegal dan sakit. Merasa iba pada belahan jiwanya, saat menuju ke kamar Arvin tangan Daniel senantiasa di pinggang Arinda untuk memberikan pijatan lembut agar pinggangnya tidak terasa pegal.
“Arvin sedang di kamar mandi nona” ujar Ansel tersenyum senang melihat kebahagiaan Daniel.
“kita menunggu di bawah saja bagaimana sayang?” tanya Daniel dengan sebelah tangannya di pinggang Arinda.
“baiklah, ayo kita ke bawah. O ya sebentar, untuk mahar dan seserahannya apa sudah lengkap tuan Ansel?” tanya Arinda.
“sudah nona Arinda, ini” tunjuk Ansel membawa perlengkapan alat sholat yang di hias dalam kotak sehingga tampak indah.
"hanya ini?” tanya Arinda.
“iya nona Arinda” jawab Ansel membuat Arinda menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ada apa sayang?” tanya Daniel heran mendengar ucapan istrinya,
“sayang, apa masih ada waktu sebelum akad nikah nanti?” tanya Arinda pada Daniel.
“masih sayang, ada apa?” tanya Daniel menatap jam mewah di pergelangan tangannya.
“kita ke mal sekarang” ujar Arinda segera menarik tangan suaminya melangkah menuju lift.
Arvin baru selesai berwuduk sudah merasa tenang sempat melihat Arinda dan Daniel yang berjalan terburu-buru. Ansel menghampiri Arvin segera menarik dia untuk ikut pergi bersama Daniel dan Arinda, tak lupa Ansel membawa mahar yang di minta Aisyah.
“lu ngapain narik gua, nyantai bro? Kayak lu aja yang mau merit, assalamualaikum bos ama nyonya bos” omel Arvin pada Ansel setelah itu dia menyapa Arinda dan Daniel dengan santai, mereka berempat berdiri di depan lift.
“sayang, apa kamu sekarang ngidam mau jalan-jalan ke mall?” tanya Daniel pada Arinda yang tampak serius.
__ADS_1
“bukan sayang, kita harus membeli beberapa barang yang akan di serahkan pada Aisyah. Apa mungkin hanya satu hadiah itu saja Arvin berikan pada Aisyah?” Arinda menunjuk mahar yang di pegang Ansel.
“trus, apakah masih ada hal yang lainnya nona Arinda?” tanya Ansel bingung, membuat Arinda menghela nafas panjang.
“sayang kamu masih ingatkan di hari pernikahan kita. Mommy menyiapkan begitu banyak barang pada ku, ingat bukan?” Tanya Arinda mengingatkan Daniel dengan begitu banyaknya persiapan serta hadiah yang di siapkan Aileen.
Daniel, Ansel dan Arvin hanya menganggukkan kepalanya, lalu memandang ke arah Arinda kembali dengan penuh tanya.
“jika Arvin hanya membawa satu barang itu saja, dia dan Aisyah akan mendapat hujatan dari keluarga besar Aisyah. Kita tidak tahu bagaimana sikap masing-masing keluarga Aisyah, lebih baik sedia payung sebelum hujan” ujar Arinda membuat Arvin, Ansel dan Daniel paham. Arinda kembali menatap ke arah Arvin yang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“keluargamu tidak datang Arvin?” tanya Arinda membuat Daniel cs terdiam dengan wajah terlihat sedih. Pintu lift terbuka, mereka berempat masuk ke dalam lift. Suasana di dalam lift itu terasa canggung.
“mereka tidak akan datang” ujar Arvin dengan wajah dingin membuat Arinda tidak enak.
“maksud kamu, apa mereka ada di luar negara?” tanya Arinda bingung, Arvin hanya menggelengkan kepalanya.
“gua... gua kagak tahu siapa keluarga karena gua sudah di buang di jalanan tanpa petunjuk identitas apa pun. Gua di besarkan di panti asuhan dan akhirnya ketemu ama nih para cecunguk” ujar Arvin menutupi kesedihan di wajahnya. Dia merangkul Ansel dan akan merangkul pundak Daniel, dengan sigap Daniel berpindah tempat menghindari rangkulan sahabatnya.
Pintu lift terbuka, mereka berempat melangkah menuju ke mobil yang sudah di persiapkan Ansel. Daniel sempat melihat ke arah Arvin merasa ada yang aneh, saat melewati beberapa orang mereka tampak berbisik-bisik sambil tersenyum-senyum ke arah Arvin. Arinda juga menyadari hal itu lalu membalikkan tubuhnya menatap Arvin.
“kenapa lu pada ngeliatin gua? Takjub ama kegantengan gua yang paripurna” ujar Arvin narsis, mata elang Daniel menatap tajam Arvin yang cengengesan.
“vin, coba kamu balik” ujar Arinda saat melihat beberapa orang menunjuk dan tersenyum-senyum ke arah Arvin.
Dengan patuh Arvin membalikkan tubuhnya, Ansel langsung tertawa terbahak-bahak melihat apa yang ada di belakang Arvin. Daniel lalu menatap dingin ke arah Ansel yang segera menahan tawanya, Arvin menjadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“ada apaan sih? Napa lu ketawa ampe segitunya?” tanya Arvin bingung.
Arinda menghela nafas, menggeleng-gelengkan kepalanya melangkah menghampiri Arvin. Rupanya ada sebuah hanger yang masih terselip di jas yang di kenakan Arvin membuatnya kelihatan aneh, Arinda yang akan membantu Arvin melepaskan hanger itu segera di cegah Daniel yang langsung mengambil alih membantu Arvin melepaskan hanger baju yang masih terpasang di sana.
“apa kamu tidak menyadarinya?” tanya Daniel menyuruh Arvin membuka jas lalu mengambil hanger itu.
__ADS_1
“Ajim... kagak sadar gua” Arvin menatap hanger yang di bantu lepas oleh Daniel.
“sebaiknya kita berangkat sekarang” ajak Arinda pada Suami, Ansel dan Arvin. Riko dan Ziko sudah menunggu di samping mobil yang sudah di hiasi dengan bung-bunga indah. Riko segera naik ke dalam mobil yang sudah di hiasi itu dan duduk di belakang kemudi, sedangkan Ziko mengendarai mobil alphard mewah yang di sediakan oleh pihak hotel yang sudah di akuisisi oleh Daniel melalui Ansel.
Sebelum menuju ke pesantren milik Abinya Aisyah, rombongan Arvin menyempatkan diri ke mall untuk menambah hantaran yang akan di berikan ke Aisyah. Rombongan itu menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung mall dengan pengawalan ketat dari body guard Daniel. Beberapa pengunjung mulai sibuk membicarakan sultan manakah yang datang dengan pengawalan body guard yang sangat ketat.
Saat mereka melihat siapa sultan yang datang, tidak lain dan tidak bukan adalah Daniel Arsenio membuat mereka histeris dan mulai mengerumuni. Dengan cepat Daniel meminta Ansel untuk bertindak menutup sementara mall itu sampai Arinda selesai berbelanja kebutuhan serahan untuk Arvin. Mall itu pun di tutup sementara, Arinda tidak melayangkan protes dengan tindakan Daniel.
Waktu sudah tidak banyak, jadi dia harus segera mencari keperluan apa saja yang akan di berikan Arvin pada Aisyah. Pihak pegawai dan staff mall pun ikut membantu Arinda mencari dan membungkus dengan indah hadiah-hadiah yang sudah di persiapkan. Para pegawai perempuan tampak terpesona dengan Daniel cs terlihat tampan duduk dengan tenang di sofa yang sudah di sediakan.
Mata elang Daniel mengawasi istrinya dari tempat duduknya, setelah memilih keperluan yang dibutuhkan Arinda ikut membantu pegawai membungkus semua hadiah. Para pegawai takjub dengan Arinda yang tidak malu-malu duduk lesehan bersama mereka.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
maaf para reader hanya up satu dulu karena ada kendala pada jaringan author...
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1