
“tidak, aku tidak akan pernah menerima keputusanmu. Kamu milikku Aldo, siapapun perempuan yang ada di dekatmu akan aku hacurkan” Raisa meneteskan air mata karena tidak bisa menerima keputusan Aldo.
“kamu sudah tidak waras”
“ya.. aku memang tidak waras dan itu semua karena dirimu” Raisa menangis menghampiri Aldo dan ingin memeluknya, namun Aldo dengan segera menepisnya.
“jangan pernah kamu mendekati ku lagi. Kalau tidak kamu sendiri akan tahu apa akibatnya” Aldo pergi meninggalkan Raisa yang menangis tersedu-sedu memanggil-manggil namanya.
“Aldo... aldo... aldo...” panggil Raisa dengan berurai air mata.
Mobil Aldo sudah jauh meninggalkan taman dekat rumahnya, Raisa tampak sangat terpukul dengan keputusan Aldo.
Jika aku tidak bisa memilikimu Aldo, maka wanita mana pun tidak akan bisa memilikimu, aku akan menghancurkan perempuan mana pun hingga kamu kembali kepadaku kata Raisa dalam hati dengan niat yang tidak baik di hatinya.
Pintu kamar Arinda terbuka, dokter keluar bersama dengan Cantika.
“bagaimana dengan keadaan Arin?” tanya Daniel khawatir.
“nona Arin terkena demam tinggi akibat syok dan dia begitu terpukul, saya sudah menyuntik dan memasang infus di tangannya. Biarkan dia beristirahat, saat dia bangun nanti baru beri dia makan dan obat yang resepnya sudah saya berikan pada nona ini” jelas dokter.
Cantika memberikan resep obat pada Ansel untuk segera di tebus di apotek terdekat. Ansel segera pergi, sebelumnya dia memerintahkan para bodyguard Daniel untuk berjaga di sekitar rumah Arinda.
Daniel tidak peduli lagi dengan sopan santun, saat ini baginya dia berada di samping cinta pemilik hatinya. Cantika mengantarkan dokter sampai ke depan pintu, lalu duduk di samping Maya. Ifan sudah sangat penasaran bertanya pada Cantika.
“mbak.. maaf sebelumnya, pria itu siapa? Wajahnya sangat familiar sekali, melihat ke khawatiran, kasih sayang dan perhatiannya seperti memiliki hubungan yang tudak biasa dengan mbak Arin?” tanya Ifan melihat ke arah pintu kamar Arinda yang terbuka. Dari tempat mereka duduk dapat melihat ke arah dalam kamar Arinda.
Daniel duduk di samping tempat tidur Arinda, sesekali dia merendam handuk kecil ke air hangat yang di gunakannya untuk mengompres kening Arinda. Wajah cantik Arinda tampak pucat, Daniel membelai wajah Arinda dengan punggung tangannya dengan lembut dan rasa sayang.
Cantika dan Maya yang melihat adegan itu tampak senang,
“ kamu nggak salah tebak, Fan. Pria yang di samping mbak mu saat ini memang benar-benar jatuh cinta dan sangat menyayangi mbakmu. Kamu tentunya mengenal Daniel Arsenio dari keluarga Arsenino bukan?” tanya Cantika.
__ADS_1
“ pengusaha ternama dan paling tersohor di negeri IN, siapa yang tidak mengenalnya” kata Ifan menatap Cantika dan Maya.
“nah.. dialah Daniel Arsenio my idol” kata Maya menatap Daniel dengan binar-binar kagum melihat kasih sayang Daniel pada sahabatnya Arinda. Daniel menggenggam tangan Arinda dengan erat, sesekali dia mengecup punggung tangan Arinda.
“jadi, abang yang di dalam kamar mbak Arin itu, Daniel Arsenio?” kata Ifan terkejut.
“hmmm hmmm” kata Maya menganggukkan kepalanya.
“Apa abang itu matanya sakit?” tanya Ifan membuat Cantika dan Maya heran dan bingung.
“loh kok ni lekong malah bilang my idol matanya sekong? Kalo akika jadi ye bakalan senang punya kakak ipar tajir melintir seperti tuan Daniel” kata Maya heran.
“karena itulah aku nanya apa tuan Daniel matanya sakit? Orang seperti kami, yang tidak memiliki apapun mana bisa di bandingkan dengan keluarga kaya raya sekelas tuan Daniel” kata Ifan menatap kakaknya yang tertidur pulas.
Nggak adek nggak mbaknya, pikiran mereka tetep aja sama.... guman Maya yang tidak habis pikir dengan sikap Ifan yang sebelas dua belas dengan Arinda. Cantika menatap Ifan, dia tahu dan mengerti jika Ifan sangat mengkhawatirkan kakaknya.
Ifan tidak ingin nantinya kakaknya akan di cemoohkan, di hina dan di hujat oleh keluarga yang kelak akan menjadi bagian hidup kakaknya. Perkataan Ifan yang meragukan Daniel dapat di dengar olehnya, dia memaklumi bagaimana sikap Ifan yang tidak ingin kakaknya tersakiti dan menderita nantinya. Daniel mengecup kening Arinda yang masih tertidur dan berbisik di telinga nya,
“tunggu sebentar, aku akan berbicara dengan adikmu” katanya.
“bisa kita berbicara sebentar” kata Daniel datar tanpa ekspresi. Ifan mengerti jika pembicaraan mereka ini akan bermakna berbeda. Ifan saat itu tidak lagi memakai seragam militernya, jadi dia bisa berlaku sebagai Adik yang menyayangi kakaknya.
Maya melihat kedua orang pria dengan tatapan bingung,
Kok perasaan akika, pembicaraan mereka ini berbeda? Apa akika ikut juga ya? Kata Maya dalam hati.
Daniel dan Ifan berjalan keluar rumah Arinda, tepatnya Ifan mengajak Daniel menuju sebuah tempat pelatihan bela diri di kompleks rumah mereka. Daniel sudah dapat menebak jika pembicaraan mereka tidak akan mudah. Dia menyuruh para bodyguard untuk tetap di rumah Arinda, dengan patuh para bodyguard kembali ke tempat mereka masing-masing.
Mobil Aldo memasuki halaman rumah Arinda dan Ifan, dia turun dari mobil lalu melangkahkan kaki menuju rumah sederhana itu. Maya sedang duduk bersama Cantika di kamar Arinda menemani sambil berbincang-bincang. Saat Aldo mendekat, para bodyguard langsung menghentikan langkahnya,
“maaf anda mau kemana tuan?” tanya bodyguard pada Aldo.
__ADS_1
“aku mau bertemu dengan yang punya rumah” kata Aldo bingung melihat penjagaan yang ketat di rumah Arinda.
“maaf siapa nama anda tuan?” tanya bodyguard itu lagi. Ansel baru saja kembali dari membeli obat milik Arinda melihat ke arah pemuda yang langkahnya di hentikan oleh para bodyguard.
“ada apa ini?” tanya Ansel.
“tuan Ansel, tuan ini datang ingin bertemu dengan yang pemilik rumah” kata bodyguard. Ansel menatap pemuda di depannya,
“bukankah anda tuan Aldo, putra dari keluarga Sutomo?” tanya Ansel yang mengingat dengan jelas kejadian yang terjadi pagi tadi di kediaman Arsenio. Saat Aldo menghampiri nyonya Sutomo yang memaki Arinda.
“tuan?” Aldo bingung karena saat menghadiri acara pernikahan teman ibunya dia belum sempat mengenal siapapun.
“saya Ansel, asisten pribadi tuan Daniel Arsenio” kata Ansel memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Aldo.
“senang berkenalan dengan anda tuan Ansel. Saya Aldo, sahabat Arinda saat masih kuliah. Saya mendapat kabar mama Arinda yang sudah berpulang ke pangkuan sang Khalik, jadi saya bermaksud untuk bertemu dengan Arinda” kata Aldo sopan membalas jabatan tangan Ansel.
“anda ingin bertemu dengan nona Arinda?" tanya Ansel pada Aldo.
"iya, saya ingin bertemu dengannya jika di perkenankan" kata Aldo menatap ke arah para bodyguard.
"Mari silahkan masuk tuan,” ajak Ansel menuju rumah sederhana itu, Aldo di persilahkan duduk di ruang tamu sementara dia menemui Cantika di depan kamar Arinda untuk menyerahkan obat Arinda.
************
tetap terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss
🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗