Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 278


__ADS_3

“tenang bos, gua akan mencari ke luar. Gua rasa dia belum jauh” ujar Riko langsung di angguki oleh Arvin.


Riko segera melangkah keluar dari kamar itu, matanya menatap pintu belakang yang terbuka lebar. Dia segera melangkah dengan cepat menuju pintu belakang melihat ke sekeliling halaman belakang yang langsung menuju hutan kecil. Dia menelusuri jalan setapak yang terlihat sudah di lewati orang.


Arvin kembali ke tempat mereka menemukan mayat, Ziko datang menghampiri bosnya setelah menelepon polisi. Arvin melihat dengan seksama pada mayat itu, Matanya menangkap tangan pada mayat menggenggam erat.


“ziko, lu ke mobil sekarang cari sesuatu untuk melapisi tangan gua” mata Arvin masih menatap ke arah tangan.


Ziko segera melangkah keluar menuju mobil Arvin, memeriksa sesuatu yang dapat di gunakan bosnya. Sebuah sarung tangan hitam berada di laci mobil, dia segera mengambil sarung tangan itu dan memberikannya pada Arvin.


“ini bos” Ziko menyerahkan sarung tangan hitam itu pada Arvin yang segera di kenakannya. Dengan penuh ke hati-hatian dan sedikit memaksa Arvin membuka tangan mayat itu, dia dan Ziko melihat sebuah memory card berukuran micro di sana.


Segera Ziko kembali ke mobil mengambil tisu untuk menyimpan memory card yang baru saja di temukan Arvin. Setelah membungkus memory card itu dengan tisu, Arvin segera menyimpannya ke dalam saku celananya.


Tidak berapa lama, polisi datang dan segera memasang garis polisi di rumah itu. Arvin dan Ziko memberikan keterangan pada polisi juga ikut bekerja sama membatu penyelidikan polisi.


Mayat yang mereka temukan segera di bawa oleh pihak polisi untuk di autopsi, Arvin pun merekomendasikan Arsen medical untuk memudahkan pekerjaan mereka.


“ baiklah tuan Arvin, kami akan menghubungi anda jika ada perkembangan” kata polisi yang mengakhiri pertanyaannya pada Arvin dan Ziko. Riko kembali dari pencariannya yang tidak berhasil, dia mengucapkan maaf pada Arvin.


“sorry bos, gua hanya menemukan jejak mobil yang melesat ke arah jalan sana. Dari jejak mobil yang gua perhatiin, sepertinya mobil jenis avanza” ujar Riko, polisi mendengar keterangan itu segera bertindak cepat.


Mobil ambulans datang, beberapa perawat berseragam putih dengan logo Arsen medical di samping dada sebelah kiri. Mereka segera bertindak cepat, Arvin melihat para petugas yang mengangkat mayat itu.


“baiklah pak polisi, kami pamit dulu. Jika ada perkembangan kami akan mengabari secepatnya, juga sebaliknya kami harap pihak polisi juga mengabari bila ada informasi apa pun” ujar Arvin sambil menyalami salah seorang polisi berpakaian kemeja putih serta celana jeans hitam. Ciri khas ketua penyelidik atau detektif dari kepolisian yang menangani pembunuhan dan tindakan kriminal lainnya.


“baik Tuan Arvin” ujar detektif itu. Arvin dan Riko kembali ke mobil mereka, Ziko memasang helmnya.


“ziko, lu ke penthousenya Daniel buat jaga Aisyah dan yang lainnya. Awasi jika ada sesuatu yang mencurigakan segera kabari, gua dan Riko akan ke Arebeon buat ngasih ini ke dia” ujar Arvin langsung di mengerti Ziko.


“sip bos. Apa perlu gua bawa beberapa anak-anak bos?” tanya Ziko.


“kagak usah, cukup lu ama bodyguard Daniel. Kalian jaga di depan pintu penthouse” ujar Arvin menyalakan mesin mbilnya.


"beres bos” Ziko segera menstarter motor besar miliknya. Melaju dengan cepat menuju penthouse Daniel yang sudah diketahui alamatnya dari Arvin.

__ADS_1


Mobil Arvin melaju menuju Arebeon corp. Mata Riko mengawasi ke arah belakang mobil juga ke sisi samping mobil, Begitu juga Arvin menatap waspada.


Daniel sedang berada di kantornya bersama Ansel, mereka tampak sangat sibuk menyelesaikan semua masalah akibat ulah perusahaan Elterzn. Begitu banyak yang harus mereka urus hingga makan siang pun Daniel dan Ansel tidak sempat.


Ponsel Ansel bergetar langsung di angkat olehnya tanpa melihat layar ponsel,


“Assalamualaikum” sapa Ansel dengan sebelah tangan masih sibuk menyusun beberapa file.


“ waalaikum salam Sel, Daniel mana?” tanya Arvin.


Kening Ansel mengerut saat mendengar si penelepon menanyakan Daniel. Da lalu melihat layar ponselnya tertulis nama Arvin di sana.


“ woi kutu kupret, gua nanya malah di anggurin gini”


“aku masih mendengar” Ansel bersikap seperti Daniel.


“ si Daniel mana? udah gua teleponin dari tadi kagak di angkat. Gua teleponin ke bininya malah di bilang kalo Daniel di kantor”


“sebentar aku ke ruang tuan muda sekarang” Ansel membawa file dengan sebelah tangannya untuk di serahkan pada Daniel. Telepon dari Arvin masih terhubung,


“masuk” terdengar suara Daniel menyuruh masuk, Ansel membuka pintu ruang kerja Daniel. Mata elangnya menatap tajam layar laptop di depannya,


“tuan muda, ada telepon dari Arvin. Dia sudah menghubungi ponsel anda sedari tadi” Ansel memberitahu Arvin yang menelepon Daniel beberapa kali.


Mata elang itu lalu menatap layar ponselnya, melihat ada dua puluh lima panggilan tidak terjawab. Ansel segera meloud speker ponsel miliknya.


“hmm” Daniel hanya berdehem dingin menyahuti telepon dari Arvin.


“lu ke mana, bro? Dari tadi gua hubungi sama sekali kagak di jawab. Ampe gua teleponin bini lu buat nanya posisi lu di mana” Arvin mengomel seperti emak-emak.


Aura dingin dan mencengkam segera terasa di ruangan kerja Daniel, hal itu di rasakan oleh Ansel.


“kamu menelepon Arin?” tanya Daniel dingin.


“ ya iyalah bro, gua neleponin bini lu buat tau lu ada di penthouse ato kagak. Kenyataannya lu malah di Arebeon”

__ADS_1


“Kamu punya nomor Arin?” Tanya Daniel semakin memberi tekanan dingin melebihi hawa AC yang sedang menyala.


Waduh cecunguk satu ini apa kagak nyadar kalo Tuan muda bakalan nggak senang kalo ada cowok yang hubungi Nona tanpa sepengetahuan dia guman Ansel dalam hati sambil menelan ludahnya kasar.


Arvin termenung saat Daniel menanyakan pertanyaan yang sama kembali, dia baru menyadari jika apa yang di lakukannya sudah membangkitkan sisi yang paling tidak ingin di temuinya.


Mati gua.... Baru nyadar gua kalo Raja iblis cemburuan tingkat dewa, apalagi dia paling kagak senang bininya di teleponin ama cowok lain. alamat kagak bisa pulang buat ketemu ama neng Aisyah dah gua, kasian si entong bakalan puasa. Ni mulut lemes banget guman Arvin dalam hati sambil memukul-mukul mulutnya. Riko sudah dapat menebak jika saat ini sahabat bosnya pasti sudah mengeluarkan tanduk dan siap untuk menelan siapa saja hidup-hidup.


“bo..bo...bos gua turun di sini aja. Gua ingat masih ada kerjaan yang musti kudu di selesaikan” pinta Riko cari selamat.


Kilatan mata Arvin yang tidak ingin merasakan dampak dari kemarahan Daniel sendirian mengenai tepat ke arah Riko,


Lu keluar, lu yang bakal gua kirim ke malaikat maut sekarang tatapan yang di artikan oleh Riko saat ini, dia hanya bisa pasrah dan duduk tenang di bangku penumpang samping Arvin.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


maaf pada semua reader🙏🏻


🙏🏻🙏🏻, karena beberapa hari ini author harus istirahat total jadi semua karya Author harus terlambat up. 😷😷😷


secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2