Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 280


__ADS_3

Nomor ponsel itu di perhatikan seksama oleh Daniel, mata elangnya menatap ke arah Yuda yang langsung di mengerti olehnya.


“Dan, ni orang kayaknya punya dendam kesumat ama lu dah. Segala akun bank lu aja bisa dia bekukan” komentar Arvin.


Daniel tampak berpikir lama, dia masih menebak-nebak siapakah dalang di balik semua apa yang terjadi.


“Vin, ada info terbaru tentang Vivi dan juga Marcus?” Daniel mencurigai setiap musuh.


“Marcus sudah kagak bakalan bisa menghirup udara bebas, dia udah di jebloskan ke penjara NK kabarnya dia di hukum penjara seumur hidup. Tentunya bakalan kagak bisa lagi gangguin Arebeon dan Arsenio. Vivi sudah kapok dan memilih balik ke negara MK, menjalani perannya sebagai bos mafia milik ayahnya” jelas Arvin, sengaja menyuruh anak buahnya untuk terus memantau pergerakan Marcus dan Vivi.


“bagaimana dengan Lutfi?” Daniel masih berpikir siapakah musuh sebenarnya.


“dia sudah kagak bisa gangguin kita, karena dia udah...” sebelah tangan Arvin membentuk garis melintang di lehernya mengodekan jika Lutfi sudah berada di alam lain.


“ gua dengar kalo yang melakukannya adalah anak buah Vivi yang punya dendam dengannya” ujar Arvin kembali.


Daniel berpikir keras kembali, mata elangnya menatap layar laptop namun pikirannya melayang entah ke mana. Lamunannya terhenti saat melihat ponselnya bergetar dengan nama Arinda yang tertulis di layarnya.


Suasana di ruang kerja Daniel terasa hangat oleh Arvin, Yuda dan Ansel. Kemarahan Daniel sudah mulai berkurang saat melihat istrinya yang menghubungi.


“assalamualaikum sayang”


“waalaikum salam sayang, sudah sampai di kantor?” tanya Arinda, Dia sudah menunggu kabar dari suaminya, namun Daniel terlalu sibuk tidak kunjung menghubunginya.


“iya sayang, aku sudah sedari tadi sampai di kantor. Maaf aku tidak sempat menghubungi, begitu banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan”


“tidak apa-apa sayang, kamu sudah makan siang?” Arinda duduk di meja makan bersama Maya, Cantika dan Aisyah.


“sebentar lagi sayang, setelah pekerjaan ini selesai kami akan makan siang bersama” ujar Daniel.


“ sayang, mbak Cantika sedari tadi mencoba menghubungi tuan Ansel. Tapi tidak terhubung. Apakah sekarang dia bersamamu?” Arinda menatap Cantika yang menunggu buntuk bisa berbicara dengan suaminya.


“Ansel ada di sini, apa dia ingin berbicara dengannya?”


“ iya sayang” kemudian Arinda memberikan ponsel miliknya pada Cantika. Ada perasaan lega terpancar di wajah Cantika, saat bisa berbicara dengan Ansel.

__ADS_1


Cantika menanyakan apa yang terjadi pada Ansel dan ponsel miliknya yang tidak bisa di hubungi. Suaminya pun menjelaskan keadaan ponsel lamanya, tidak berapa lama Yuda sudah selesai menyelamatkan data dan menyalinnya ke ponsel milik Ansel yang baru.


Ansel menyerahkan kembali ponsel milik Daniel, dia masih menebak-nebak siapakan yang berani untuk mengacau Arebeon juga mengawasi Arinda.


Evan??? Daniel teringat dengan Evan yang menyukai istrinya. Dia meraih ponselnya menyentuh layar ponsel untuk menghubungi, terdengar suara nada sambung menunggu seseorang untuk mengangkatnya.


“assalamualaikum Dan” sapa si penerima telepon yang tidak lain adalah Sean. Dia baru saja akan mengautopsi mayat,


“waalaikum salam, apa Evan masih mencoba peruntungannya pada Arinda?” tanya Daniel langsung to the point.


“Evan!!! Jadi lu telepon gua Cuma nanya soal Evan? Kenapa kagak lu telepon ke ponselnya?” Sean bingung, tiba-tiba saja Daniel menelepon dirinya menanyakan soal Evan.


“langsung saja” Daniel harus bertindak sangat hati-hati. Jika sampai dia salah paham akan membuat semuanya berantakan, dia kembali merasa sangat kesal menatap tajam pada laptop miliknya.


“ Evan saat ini sudah kembali ke AM, beberapa bulan ini mungkin dia akan berada di sana. Ada beberapa pekerjaan dan kerja sama yang harus di handle nya” jelas Sean, masuk ke dalam ruang autopsi.


Daniel lalu meminta Yuda untuk melacak keberadaan Evan, ponselnya masih terhubung dengan Sean. Tanpa sengaja dia juga mendengar suara Arvin,


“Dan, si kutu kupret Arvin ada di sana?” tanya Sean terdengar kesal.


“ya” Daniel menjawab singkat langsung meloudspeker ponselnya. Sean tahu jika saat ini ponsel Daniel dapat di dengar semua orang di ruangannya,


Dia sangat kesal saat akan mengajak Davira pujaan hatinya makan siang bersama, perawat dan bersama beberapa polisi datang ke ruangannya. Polisi menjelaskan jika Arvin merekomendasikan Sean untuk mengautopsi mayat yang mereka temukan di rumah terpencil.


“harusnya lu senang, gua kan orang baik ngasih lu kerjaan biar lu kagak gabut” Arvin cengengesan.


“dasar teman kagak punya akhlak lu” Sean benar-benar sangat kesal.


“aku yang menyuruh Arvin, apa kamu mau protes? Apa kamu sudah mengautopsi mayat itu?” ujar Daniel santai membuat Sean mati kutu. Matanya menatap tajam layar laptop, beberapa file terbuka untuk di pelajarinya.


Arvin, Ansel dan Yuda hanya menahan tawa, terbayang oleh mereka bagaimana terkejutnya wajah Sean saat ini.


“ha.. i i itu sedang... sedang aku kerjakan. Secepatnya aku akan mengirim laporannya padamu” ujar Sean, Daniel segera mengakhiri panggilannya secara sepihak membuat Sean semakin kesal tingkat dewa.


“dasar kakak ipar kagak punya akhlak, apa dia punya sixs sense? Tahu aja kalo gua ada niatan mau ngajak Davira pacaran” ujar Sean kesal, perawat dan polisi hanya tersenyum melihat kekesalan Sean. Dia segera memberitahu Davira jika makan siang bersama mereka di tunda karena pekerjaan yang di perintahkan Daniel.

__ADS_1


Tidak hanya Sean yang merasa sangat kesal dengan hal itu, Davira pun merasa sangat kesal. Dia sangat jarang dapat bersama dengan Sean karena pekerjaan mereka yang begitu sibuk akhir-akhir ini. Baru di saat ada kesempatan semua itu harus di batalkan, Davira meraih ponselnya menghubungi Daniel untuk menyatakan protes.


Mata elang Daniel melihat layar ponselnya tertera nama Davira di sana,


“assalamualaikum kak Dan”


“waalaikum salam”


“kak Dan senang banget gangguin acara Vira dengan kak Sean. Kami sangat jarang punya waktu bersama, sekalinya ada waktu kak Dan malah gangguin. Saat malam minggu kak Darren yang gangguin, kenapa semuanya pada jahat sih?” Davira meluapkan segala kekesalannya pada Daniel.


“ sudah?” tanya Daniel menanggapi dingin, membuat Davira semakin mengeluarkan kekesalannya. Dia menjauhkan ponselnya dari telinga, membiarkan adiknya mengomel seperti para emak-emak berdaster. Arvin dan lainnya dapat mendengar dengan jelas kemarahan Davira.


Daniel kembali mendekatkan ponselnya ke telinga di saat Davira sudah terdengar sedikit tenang,


“sudah selesai?” ujar Daniel,


“sudah” Davira masih terdengar kesal.


“ ya sudah” Daniel mematikan ponselnya secara sepihak.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


maaf pada semua reader🙏🏻


🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2