Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 156


__ADS_3

Mereka berdua menuruni anak tangga melewati ruang keluarga dan tamu menuju pintu keluar Mansion.


“om ucapkan terima kasih karena kamu udah mau mampir kemari Sean” Michael menyalami Sean.


“aduuh om ini sudah seperti ama siapa aja. Sean udah menganggap keluarga ini sebagai keluarga kedua Sean. Kapan pun om membutuhkan Sean akan datang. Kalau begitu Sean pamit om” Sean pamit pada Michael lalu membuka pintu mobilnya.


“hati-hati ya Sean,”


“iya om, assalamualaikum” Sean pamit meninggalkan mansion Arsenio menuju apartemen Arvin.


“waalaikum salam” Michael membalas ucapan salam Sean lalu melangkahkan kakinya masuk kembali ke kediaman Arsenio.


***


Tiga puluh menit perjalanan menuju Apartemen Arvin yang terletak di tengah pusat kota J, mobil Sean segera di parkirkan bawah apartemen yang menjulang


Sean turun dari mobilnya lalu menuju lift menekan tombol untuk ke lantai apartemen Arvin. Lift berhenti di lantai apartemen Arvin, dia lalu melangkah menuju apartemen yang terlihat dua anak buah Arvin berjaga di depannya. Wajah mereka tampak lebam dengan beberapa luka sayatan di tangan yang tidak terlalu parah. Anak buah kepercayaan Arvin yang sudah lama mengikutinya, Reno dan Zico.


“ada apa ini? Ren” tanya Sean pada Reno menjaga di depan pintu kamar Arvin.


“sebaiknya dokter Sean masuk saja ke dalam” Zico mempersilahkan Sean untuk masuk ke apartemen Arvin.


Sean melangkahkan kakinya menuju kamar Arvin, selama ini Sean tahu Apartemen Avin tidak pernah di jaga begitu ketat. Dia semakin khawatir saat melihat darah berceceran di lantai, matanya menatap ke sekeliling ruangan mencari keberadaan Arvin.


“Arviiiin” Sean terkejut saat melihat kondisi sahabatnya yang tampak mengenaskan. Di bagian perutnya ada luka yang di perban secara asal dan masih mengeluarkan darah, wajahnya memar dan ada beberapa bagian yang mulai lebam.


“Anj*ng lu kenapa bisa jadi begini? Siapa yang udah berani bikin lu kayak gini? Trus kenapa lu bukannya ke rumah sakit malah di sini dengan kondisi seperti ini” Sean cemas melihat temannya yang mengenaskan.


“lu nggak usah... banyak... bacot. Cepat lu.... oba...obatin gua...” Arvin mulai tidak sadarkan diri. Sean segera melakukan pertolongan pertama, dia meminta Zico dan Reno untuk menolongnya mengangkat Arvin untuk membawanya ke Mobil.


Zico dan Reno segera bertindak dan membantu Sean membawa Arvin ke mobil miliknya. Sean merogoh ponselnya di dalam saku celana segera menelepon rumah sakit Arsen Medical dan meminta petugas medis untuk menyiapkan ruang operasi.

__ADS_1


Di dalam mobil, Sean memangku kepala Arvin membiarkan anak buah Arvin membawa mobil miliknya. Dia segera menginterogasi anak buah Arvin,


“sebenarnya apa yang terjadi, Zico?” Sean mulai panik dan menekan luka Arvin agar tidak mengeluarkan darah,


kedua anak buah Arvin saling berpandangan bingung bagaimana menjelaskan apa yang terjadi pada Sean. Anak buah Arvin bernama Zico duduk di samping kemudi mobil mulai menceritakan dan menjelaskan apa yang terjadi,


“sebenarnya, tadi bos Arvin datang ke markas buat menginterogasi lagi orang yang kami sekap Yoga. Saat itu orang-orang kami banyak yang melakukan tugas di luar kota buat nyari info pada siapa yoga bekerja dan sebagian lagi mengurusi restoran bos. Mendadak saja markas kami di serang orang-orang terlatih dengan memakai topeng hitam, saat itu bos Arvin sedang di ruangan Yoga dan berusaha melawan orang-orang yang ternyata datang untuk mengambil nyawa Yoga” jelas Zico pada Sean.


“trus bagaimana Yoga?” Sean penasaran,


“yoga tewas di tembak salah satu dari mereka, Saat itu bos Arvin mengeluarkan belati menyerang si penembak yang ternyata membalikkan keadaan dan membuat bos terluka seperti sekarang. Mereka hanya membawa satu senjata dan yang lainnya membawa senjata tajam, sepertinya mereka sengaja melakukan ini agar seolah-olah apa yang terjadi hanya pertengkaran biasa antar genk” Zico merasa aneh dengan penyerangan itu.


“maksud lu? Ini seperti sudah di rencanakan” Reno ikut berkomentar.


“betul, mereka hanya membawa senjata dan itu hanya berisi satu peluru dan menembak tepat di kepala yang berakibat sangat fatal. Mereka hanya bawa parang, tongkat dan balok kayu nyerang markas kita seperti penyerangan dari genk lain yang suka nyari gara-gara ama kita” Zico mengutarakan pendapatnya.


“trus kenapa bisa Arvin terluka parah seperti ini?” Sean menatap Arvin yang tidak sadarkan diri.


“lalu kenapa kalian tidak membawa Arvin ke rumah sakit malah membawanya ke apartemen?” Sean tidak habis pikir dengan pemikiran anak buah Arvin.


“bos meminta kami membawa ke apartemen katanya ada barang penting yang harus di periksa oleh bos. Saat kami akan ikut masuk ke apartemen bos melarang kami masuk dan menyuruh menunggu di luar” jelas Reno pada Sean.


“barang penting apa?” Sean penasaran, namun semuanya harus dia tahan saat mobil yang di kendarai Reno memasuki pelataran IGD Arsen medical.


Kedua anak buah Arvin segera membantu Sean mengangkat tubuh Arvin. Para petugas medis cepat tanggap membantu Sean membawa bankar, membaringkan Arvin dan mendorong bankar menuju ruang operasi.


“kalian tunggu di sini, sebentar lagi akan ada petugas medis yang akan mengobati luka-luka kalian” Sean segera masuk ke ruang operasi dan segera melakukan operasi pada Arvin.


Lampu di luar operasi hidup pertanda operasi sedang di lakukan. Yuda yang mendengar bosnya terkena musibah dari anak buah Arvin yang lain segera datang ke Arsen medical.


Di lobi rumah sakit Arsen Medical, Yuda segera menuju ke bagian informasi untuk mencari keberadaan Arvin. Saat tahu jika Arvin masih di ruang operasi, dia segera menuju ruang operasi dan bertemu dengan para seniornya.

__ADS_1


“bang Zico, bang Reno, gimana bos?” Yuda menghampiri mereka berdua yang duduk di ruang tunggu operasi.


“masih di dalam” ujar Reno menatap ke arah pintu ruang operasi.


“gimana kejadiannya bang?” Yuda sangat khawatir dengan kondisi bosnya yang seperti kakak baginya.


Reno menceritakan kejadian yang terjadi saat markas mereka menyerang, Sean menyelesaikan operasinya dan keluar menemui anak buah Arvin yang masih menanti di luar ruang operasi.


Mereka segera bangkit dari kursi menghampiri Sean yang baru keluar dari ruang operasinya,


“gimana keadaan bang Arvin, bang?” tanya Yuda pada Sean.


“alhamdulillah operasinya berhasil sebentar lagi Arvin akan di pindahkan ke ruang perawatan” Sean memberitahu pada anak buah Arvin untuk tidak perlu khawatir.


Petugas medis mendorong bankar milik Arvin menuju ruang VVIP yang sudah di sediakan.


“Zico, sebaiknya lu berdua jaga Arvin sebentar, ada sesuatu yang musti gua dan Yuda bahas” Sean ingin berbicara empat mata dengan Yuda.


“oke dok, kami akan ke ruangan Bos Arvin sekarang” Zico dan Reno pamit menuju ruang perawatan Arvin.


“yud, kita ke ruangan gua sekarang” Ajak Sean memasukkan tangannya ke kantong baju operasi yang belum di tukarnya, dia menggenggam erat sesuatu di tangannya. Dalam perjalanan menuju ruangannya Sean meraih ponselnya segera menghubungi Ansel untuk datang ke Arsen Medical.


************


tetap terus dukung Author😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2