
Mereka tersenyum senang, senyuman itu perlahan-lahan mulai memudar. Perlahan-lahan Sean mendekatkan bibirnya ke bibir Davira, mencium bibir itu dengan lembut. Ciuman yang terasa begitu manis dan memabukkan, sambil berciuman Sean melangkahkan kakinya maju mendorong lembut tubuh Davira ke atas ranjang yang di hiasi kelopak bunga mawar merah dan pink.
Davira tampak malu-malu saat melihat Sean melepaskan baju kemeja yang di kenakannya. Kedua tangannya menutupi wajah yang memerah karena malu, untuk pertama kalinya Davira melihat tubuh suaminya yang tidak jauh berbeda dengan Daniel dan Arvin.
Tubuh sempurna yang sangat di idam-idamkan oleh para hawa, bagaikan pahatan pantung yang begitu sempurna. Sean perlahan-lahan merebahkan tubuh Davira ke atas ranjang empuk itu sambil memagut lembut bibir Davira. Ciuman itu berubah menjadi nakal, lidah Sean mulai mengabsen setiap detail yang ada di dalam mulut Davira.
“ummmm.... mmmm ... ” Davira sangat menikmati perlakuan lembut suaminya.
Bibir Sean melangkah turun menjelajahi leher putih Davira, meninggalkan jejak kemerahan di sana. Sebelah tangan Sean mulai membuka kancing baju Davira, memperlihatkan perbukitan yang di tutupi pengamanan berwarna pink.
Terlihat begitu indah dan menggiurkan bagi Sean, bibir itu mulai bermain-main menjelajahi setiap perbukitan yang di paksa keluar dari pengamannya.
Kedua perbukitan itu tidak lepas dari Sean yang terus memainkannya, entah sejak kapan pengaman itu menghilang dan tidak lagi membatasi bibir juga lidah Sean yang bermain dengan lincah. Dari menggigit, menjilat dan memberikan sensasi membuat Davira menjadi kalang kabut merasakan perasaan yang belum pernah dia alami.
Suara yang sama sekali tidak pernah dia keluarkan kini bernyanyi merdu dan menggema di kamar pengantin itu.
“sayang... aku sudah tidak tahan lagi” ujar Sean yang sudah di liputi hasrat kuda jantan liar.
Davira menatap Sean dengan nafas terengah-engah, dia hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan mengizinkan Sean untuk mengambil hal miliknya. Sean membuka pengamanan terakhir milik Davira, dia juga terburu-buru membuka celana miliknya hingga kini mereka berdua sama-sama tidak mengenakan sehelai benang pun.
Mata Davira terbuka lebar saat melihat banana Amb milik Sean, wajahnya merona merah seketika berpikir apakah akan muat di sana.
“sayang, kamu jangan gugup. Tenangkan tubuhmu, rileks saja mungkin akan sakit tapi akan terasa berbeda nantinya” ujar Sean menenangkan istrinya yang termenung menatap banana Amb dalam kondisi siap tempur. Kembali bibir mereka berpaut dan saling memagut, Sean sudah merasa sangat tidak tahan. Hasratnya sudah berada di tingkatan tertinggi, dengan membisikkan doa ke telinga istrinya Sean mempersilahkan banana miliknya memasuki ke sebuah lembah licin dan basah.
Saat banana berjumpa dan berusaha masuk ke goa itu, dia tertahan di pintu masuk karena deringan ponsel milik Sean. Deringan ponsel itu terus berdering cukup lama, namun sama sekali tidak di hiraukan Sean yang tengah berkonsentrasi dengan pekerjaan baru miliknya.
Banana Amb belum masuk sepenuhnya, namun dia tetap berusaha untuk masuk ke dalam goa yang segelnya belum terbuka. Rasa sakit di bawah sana di tahan Davira dengan menggigiti bibir bawahnya,
“ssssssshhh... saaaaakiiiiit” ujar Davira perlahan.
“sabar sayang, sebentar lagi...” ujar Sean yang terlihat kepayahan. Kembali terdengar deringan ponsel milik Sean membuat dirinya terkejut hingga membuat banana Amb keluar dari jalurnya.
Banana Amb gagal masuk ke dalam goa licin itu, membuat Sean kesal dan frustasi,
“kak sebaiknya, kakak angkat dulu teleponnya. Mungkin saja itu penting” ujar Davira yang berada di bawah tubuh Sean.
“biarkan saja, hal ini lebih penting” ujar Sean mengabaikan deringan telepon itu yang sudah tidak terdengar lagi.
Kembali banana Amb mencoba masuk ke dalam goa, dengan sedikit kepayahan dan tenaga Sean mencoba kembali. Konsentrasinya kembali buyar dengan deringan telepon ke sekian kalinya, banana Amb kembali keluar dari jalurnya.
Sean sangat kesal turun dari tubuh Davira segera meraih ponselnya, tertulis nama Ansel di sana. Dia begitu kesal pekerjaannya terganggu berniat akan memaki Ansel,
“ha...” Sean yang akan memaki terhenti saat Ansel langsung berbicara setelah mendengar teleponnya di angkat.
“Sean, sorry ganggu waktu kamu. Tapi saat ini ada keadaan urgent, nona Arinda menghilang ada orang yang menculiknya” ujar Ansel membuat kemarahan Sean mendadak menghilang.
__ADS_1
“apa?!! bagaimana bisa Arinda di culik?” Sean terkejut, Davira mendengar hal itu juga ikut terkejut menatap Sean yang masih berbicara dengan Ansel.
“Aku tidak bisa menjelaskannya di telepon, sekarang aku, tuan muda Darren dan kepolisian menuju Arsen Medical. Kami menunggu mu di sana” ujar Ansel mengakhiri teleponnya. Sean akan berbicara dengan istrinya kebingungan saat tidak menemukan Davira di sampingnya.
“sayang...sayang...” Sean mencari-cari Davira, terdengar percikan air di kamar mandi.
Tok... tok... tok...
Sean mengetuk pintu kamar Mandi dan memanggil istrinya,
“Sayang...” panggil Sean,
“ sebentar sayang....sebentar lagi aku akan keluar” ujar Davira, Sean menatap pintu kamar mandi lalu menatap banananya dalam keadaan mode tidur dan tenang.
“huh..... kasihan lu tong. Musti puasa dulu sekarang” Sean menatap iba pada banana Amb terlihat sedih.
Davira keluar dari kamar mandi, rambutnya basah di gulung dengan handuk putih. Tubuhnya di tutupi jubah mandi, dia membuka pintu kamar mandi melihat Sean duduk di tepi ranjang sambil melihat ponsel miliknya.
“kak Sean, sebaiknya sekarang kakak siap-siap. Kita ke rumah sakit sekarang” ujar Davira, mengeluarkan pakaian miliknya.
Dengan berat hati dia mendekati Davira yang tengah siap-siap, kepalanya tersandar di pundak istrinya sambil memeluk dari belakang tubuh Davira.
“maaf sayang, malam pengantin kita...” Sean tampak lesu dan sedih.
“masih ada malam-malam lainnya kak, saat ini kak Daniel dan lainnya membutuhkan bantuan kita. Sekarang kak Sean mandi ya” ujar Davira sambil mengecup pipi suaminya.
“ada apa sayang?” tanya Sean
“Vira mau menelepon mommy, mau menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi...” Davira menatap ponselnya,
“ jangan dulu sayang" cegah Sean.
"kenapa kak?"
"kalau mommy atau oma tahu Arin hilang, pastinya mereka sudah pannik dan heboh. sepertinya Daniel tidak memberi tahu mommy atau oma jika Arin sudah menghilang"
Davira diam dalam benaknya dia juga membenarkan apayang di utarakan Sean.
"jika kamu hubungi mommy dan mommy tahu Arinda menghilang, Oma dan mommy tentunya akan shock. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang, Ansel dan Kak Darren sudah menuju kesana. Kita dengarkan penjelasan dari mereka nanti” Sean telah tampak rapi.
"baiklah kak" ujar Davira menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas miliknya, mereka segera keluar dari kamar pengantin melangkah menuju lift. Beruntung lift sedang berada di lantai mereka, saat pintu lift terbuka mereka segera masuk ke dalam lift menekan tombol menuju lantai bawah.
Lift sudah berada di lantai lobby, Dengan terburu-buru Sean dan Davira melangkah keluar dari lift saat pintu terbuka, mereka pun berpapasan dengan Maya yang hendak masuk lift.
“Davira...”
__ADS_1
“kak Maya,”
“loh pengantin baru mo kemindang?” tanya Maya bingung saat melihat Sean dan Davira sudah tampak rapi.
“ kita mau ke rumah sakit,” Ujar Sean.
“Arinda udah ketemu?” Tanya Maya berharap jika ada kabar baik.
“kita belum tahu kak May, tadi kak Ansel minta kita ke rumah sakit sekarang. Kita juga hanya tahu kalo kak Arin menghilang” ujar Davira.
“sebenarnya apa yang terjadi May?” tanya Sean.
Maya pun menceritakan apa yang diketahui olehnya sambil melangkah menemani mereka melewati loby hotel.
“ trus tu body guard laporan ma My idol, kalo body guard yang jagain Arinda pada metong. Dari yang akika dengar ada polisi terluka parah merupakan saksi kunci hilangnya Arinda, ” Ujar Maya.
pantas saja Ansel buru-buru meminta kami untuk kerumah sakit sekarang Gumam Sean dalam hati.
“ May, makasih infonya. Kita ke rumah sakit sekarang " ujar Sean memberikan kuncinya pada petugas vallet untuk mengambil mobil miliknya.
“ kalian hati-hati ya, jangan lupa tele-tele akika jika ada info terbaru” ujar Maya memilih tinggal di hotel menjaga Cantika dan Aisyah.
"iya kak May, tolong kak May rahasiakan ini dulu dari mommy dan oma. jika mereka tahu akan membuat mereka terpukul" ujar Davira.
" tenang aja, akika kagak bakalan bilang ke tante Aileen dan oma. kanua berdua Titi DJ" Maya melambaikan tangannya ke arah Sean dan Davira.
Mobil Sean sudah terparkir di pelataran lobi hotel, waktu menunjukkan pukul dua pagi. Walaupun badan mereka terasa sangat letih karena acara pesta, mereka tetap harus ke rumah sakit melakukan kewajiban mereka sebagai dokter dan membantu Daniel.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
maaf pada semua reader🙏🏻
🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...