Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 251


__ADS_3

Para perempuan itu hanya bisa menangis, tidak beberapa lama para suami dan orang tua perempuan yang masih lajang datang setelah mendapat laporan dari beberapa warga yang melihat pertengkaran mereka. Para suami dan orang tua sangat terkejut melihat para istri dan anak perempuan mereka berlutut di depan sorang pria muda dengan ketampanan yang hakiki.


“Assalamualaikum” sapa salah seorang pria yang di tunjuk sebagai perwakilan dari para suami dan orang tua.


“Waalaikum salam” sapa Ansel, Daniel hanya menatap dingin dan datar pada mereka yang baru datang untuk menyelamatkan para istri dan anak gadis mereka.


Daniel sudah merasa jengah dengan para penghujat dan pembuat masalah terhadap istrinya. Dia menyerahkan segala urusannya pada Ansel dan juga pengacara yang sudah di hubungi Ansel. Daniel memilih masuk ke dalam rumah Arinda di iringi Arvin yang mengikutinya dari belakang.


“kamu mau ngapain?” tanya Daniel pada Arvin yang sudah masuk ke dalam rumah.


“hehehe... gua ke sini mo bicara ama calon bidadari gua” ujar Arvin menatap ke arah Aisyah menatap dingin pada Arvin. Daniel menatap dingin Arvin yang masih cengengesan,


“neng, ikut abang bentaran yuk, kagak enak ngomong di sini” ujar Arvin mengajak Aisyah untuk berbicara di tempat lain.


“nggak mau, kamu aja yang pergi dari sini. Aku mau di sini nemenin mbak Arinda” tolak Aisyah tidak mengerti dengan situasi, tatapan Daniel semakin dingin pada Aisyah yang bergelayut manja pada Arinda.


Alamak si eneng ini, kagak ngerti apa ada raja iblis yang udah siap untuk makan dia hidup-hidup ujar Arvin dalam hati melihat perubahan sikap Daniel.


Perempuan ini, berani-beraninya dia memeluk Arinda. Sudah lima bulan aku menahan rasa rinduku pada istri dan calon anak kami, dia masih saja menempel dengan Arin guman Daniel tidak senang dengan Aisyah.


“Syah... lebih baik kamu bicara baik-baik dengan Arvin. Selesaikanlah masalah kalian, mbak baik-baik saja kok” ucap Arinda pada Aisyah.


“mbak yakin?” tanya Aisyah sedikit khawatir. Daniel semakin tidak menyukai sikap Aisyah,


Perempuan ini menganggap aku apa? Aku tidak akan sekejam itu pada istriku guman Daniel semakin kesal. Arvin mengambil tindakan dengan menarik tangan Aisyah meninggalkan Daniel dan Arinda berdua.


Ansel yang akan melapor pada Daniel segera di tahan Arvin, dia tahu jika saat ini Daniel butuh waktu berdua dengan Arinda.


“udah besok aja lu laporan ke Danielnya, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dulu” ujar Arvin menarik tangan Ansel. Suasana di depan rumah Arinda sudah kosong melompong, para pembuat rusuh sudah di tangani dengan baik oleh Ansel.

__ADS_1


“kamu... lepasin tangan kamu” ujar Aisyah kesal pada Arvin masih memegang tangannya. Dia semakin kesal saat Arvin bersikap masa bodoh, malah semakin berani menautkan jari-jemarinya ke jari jemari Aisyah yang semakin menbuatnya sangat kesal.


“kalian mau ke mana?” tanya Ansel pada Arvin masih menggenggam erat tangan Aisyah.


“kami mau ke suatu tempat. Kamu boleh ikut menjadi saksi sekarang” ujar Arvin langsung melangkah sedikit menyeret Aisyah. Mau tidak mau Aisyah terpaksa menurut dan mengikuti Arvin yang membawanya pergi masuk ke dalam mobil.


Ansel merasa sangat dilema, dia tidak bisa meninggalkan Daniel dan Arinda begitu saja. tapi apa yang di ucapkan Arvin ada benarnya juga, saat ini Daniel lebih membutuhkan waktu berdua dengan Arinda. Dia lalu memilih mengikuti Arvin yang sudah duduk di dalam mobil. Sebelum berangkat meninggalkan rumah Arinda, Ansel sempat berpesan pada para body guard yang berrjaga untuk terus menjaga Daniel dan Arinda dari jarak jauh.


Mobil yang di kendarai Arvin melaju menuju jalanan kota, membelah jalan yang lumayan padat saat itu. Arvin mengendarai mobil tanpa berbicara sepatah kata pun begitu juga Ansel yang sibuk menulis pesan dan menghubungi pengacara Daniel. Aisyah yang duduk di bangku belakang, memilih menatap pemandangan di luar jendela mobil dengan menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.


***


Arinda masih mendiamkan Daniel yang kini duduk di sampingnya. Daniel tahu jika saat ini Arinda benar-benar marah padannya, dia meraih kedua tangan Arinda dan menggenggamnya.


“Arin Sayang.... aku mohon dengarkan penjelasan ku dulu. Semua yang kamu dengar hanya salah paham, emang benar jika niatku awal kita berjumpa di trotoar itu ingin balas dendam padamu. Tapi saat pertemuan kedua kita di kantor Arebeon, saat itulah aku jatuh cinta padamu. Untuk pertama kalinya hati ku berdetak dan merasakan arti cinta yang sebenarnya” jelas Daniel pada Arinda, dia lalu duduk bersimpuh di depan kaki Arinda mengangkat wajah Arinda yang tertunduk dengan sebelah tangannya.


“kamu jahat... kamu sangat jahat... hikss huaaaa” tangisan Arinda pecah, Daniel segera memeluk erat istrinya. Sesekali Arinda melayangkan pukulan lembut di punggung dan dada bidang Daniel.


“maaf sayang... maafkan aku” Daniel begitu sangat menyesal dia memeluk erat Arinda yang sedikit mendorongnya hingga pelukan mereka terlepas,


“kenapa.... kenapa kamu begitu jahat, membuatku tidak bisa melupakanmu. Semakin aku berusaha, semakin membuatku merindukanmu” tangisan Arinda semakin pecah mengeluarkan semua uneg-uneg dan keluh kesalnya pada Daniel.


Senyuman manis tersungging di bibir Daniel mendengar pengakuan Arinda.


Daniel terus memeluk Arinda hingga dia mulai tenang, kedua tangan Arinda melingkar di perut roti sobek yang tertutup dengan kemeja yang di kenakannya. Kepala Arinda yang tertutup hijab di belai lembut oleh Daniel yang kembali duduk di samping istrinya.


“sayang.... semenjak kapan kamu berhijab?” tanya Daniel menatap wajah cantik istrinya yang membalas menatapnya.


“semenjak aku pergi meninggalkan mu. Demi tidak di ketahui oleh kamu, aku sengaja memakai hijab tapi sekarang aku sudah terbiasa memakainya. Apa kamu tidak suka?” tanya Arinda di balas senyuman manis oleh Daniel.

__ADS_1


“ aku mencintaimu kamu bukan karena fisik atau wajahmu. Aku mencintai mu karena hatimu, sifat manjamu dan ... “


“dan?”


Daniel sengaja diam dan bungkam membuat Arinda penasaran, berbagai cara dia membujuk suaminya untuk mengatakan selanjutnya. Mata Daniel menatap perut Arinda yang membesar, di belai lembut olehnya. Matanya biasa menatap tajam kini berubah sendu menatap Arinda dengan calon bayi mereka, sebelah tangannya membelai lembut perut Arinda membuat si kembar bergerak merasakan kehadiran daddy mereka.


“maafkan aku sayang... aku tidak ada saat....” ucapan Daniel terhenti saat Arinda mengecup lembut bibir Daniel. Untuk pertama kalinya Arinda berinisiatif mencium Daniel membuat seyuman tipis tersungging di bibirnya. Perlahan Arinda melepaskan ciuman menatap kedua mata suaminya,


“kata maaf itu, seharusnya aku yang mengucapkannya. Aku terbawa emosi pergi meninggalkanmu tanpa mendengar alasan dari mu, memisahkanmu dari si kembar calon baby kita. maafkan aku sayang...” ujar Arinda penuh penyesalan. Daniel termangu mendengar penuturan Arinda,


“kembar?” kening Daniel berkerut menatap ke arah Arinda yang tersenyum manis. Dia meraih tangan Daniel satunya lagi, meletakkan kedua telapak tangan Daniel di atas perutnya. Daniel merasakan dua gerakan di sana, dia tersenyum bahagia menempelkan telinganya di perut Arinda.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...

__ADS_1


__ADS_2