
Perjalanan dari perusahaan Arebeon ke bandara hanya memakan waktu dua puluh lima menit. Daniel, Aisyah dan Ansel langsung di sambut pihak Bandara yang langsung mengantar mereka menuju pesawat jet pribadi yang terparkir di landasan pacu. Mata Aisyah membulat sempurna saat melihat kemewahan yang di miliki Daniel Arsenio, pesawat jet yang canggih dengan fasilitas terbaik.
Ansel sudah duduk di tempatnya dan memasang sabuk pengaman, Aisyah duduk di kursi samping Ansel juga sudah memasang sabuk pengaman. Matanya menatap pemandangan di balik kaca di sampingnya. Daniel duduk di depan Ansel dan Aisyah, dalam hatinya sangat ingin bertemu dengan Arinda secepatnya. Ingin memeluk dan menciumi istrinya, dia sudah sangat tidak sabar. Para pramugari dan pramugara juga sudah mengambil posisinya, pilot pesawat segera menjalankan tugasnya menerbangkan pesawat jet pribadi Daniel.
Sore hari di kota TY, seorang pemuda tampan turun dari pesawat melangkahkan kakinya memasuki bandara. Pemuda tampan itu yang tidak lain adalah Arvin sedang menantikan mobil jemputan yang di kirim oleh pihak hotel bintang lima yang sudah di pesannya di kota TY.
Mobil hotel yang di pesannya sudah datang, supir hotel itu dengan ramah menyambut Arvin. Karena sudah sore mereka kembali ke hotel untuk check in terlebih dahulu, setelah melaksanakan kewajibannya baru Arvin menuju ke alamat yang di berikan oleh uminya Aisyah.
Sementara itu, pesawat jet milik Daniel sudah mendarat dengan mulus di bandara kota TY bertepatan dengan azan magrib yang berkumandang. Mereka memilih melaksanakan kewajiban mereka sebelum ke rumah Arinda dan Aisyah.
***
Setelah selesai sholat magrib, Arinda menyiapkan makan malam untuknya dan Aisyah. Semenjak kehamilan kedua Arinda sangat senang memasak makanan dan mencoba resep-resep baru. Ponsel baru miliknya berdering, tertulis nama Ifan di sana langsung di angkat oleh Arinda.
“assalamualaikum fan”
“waalaikum salam mbak, bagaimana kabar mbak dan bang Daniel?” tanya Ifan yang sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada Arinda. Dia sengaja tidak mengatakan apa pun yang terjadi, Arinda tidak ingin membuat Ifan khawatir.
Ifan merasa curiga dengan Arinda yang sudah mengganti nomornya, namun dia lebih memilih tidak mencampuri permasalahan rumah tangga Arinda. Dia hanya di beri tahu jika Daniel sekarang berada di luar negeri menyelesaikan permasalahan perusahaan cabang lain.
“al... alhamdulillah kami baik-baik saja, o ya suami mbak titip salam buatmu” bohong Arinda.
“jadi, bang Daniel sudah balik dari luar negeri mbak?” tanya Ifan.
“be belum fan, semalam suami mbak telepon jadi dia titip salam buat kamu” bohong Arinda lagi.
“ ooo.... Ifan kira bang Daniel sudah kembali, bagaimana kabar calon ponakan Ifan mbak?”
“alhamdulillah mereka baik-baik saja, mereka berdua sangat senang dan bergerak lincah karena omnya menelepon” Arinda memegang perutnya terlihat bergerak karena gerakan aktif si kembar.
“fan jadi nggak sabar ketemu dengan mereka mbak”
“ kapan penugasan kamu selesai, Fan?”
“masih sekitar dua tahun lagi mbak, setelahnya Ifan akan di kirim penugasan ke wilayah lain lagi”
“saat kamu liburan, jangan lupa kunjungi mbak. Apa kamu nggak kangen sama mbak?”
__ADS_1
“insyaallah mbak, saat mendapat liburan nanti Ifan akan ke kota J bertemu dengan mbak, bang Daniel dan ponakan ku”
Raut wajah Arinda berubah sendu saat mendengar Ifan memanggil nama Daniel, matanya berkaca-kaca membelai perutnya yang membesar di balik baju kaus besar di kenakannya.
Maafkan mbak Fan, ujar Arinda dalam hati. Setetes cairan bening jatuh dari mata indahnya, buru-buru dia menyeka air mata agar tidak di ketahui oleh Aisyah.
Tok... tok.... tok...
Terdengar beberapa kali ketukan dan suara ucapan salam dari depan pintu rumah Arinda.
“fan sepertinya ada tamu di depan rumah mbak, maaf ya mbak matikan dulu. Lain kali mbak hubungi kamu lagi. Jangan lupa sholat dan jaga kesehatan mu ya Fan” pesan Arinda pada Ifan.
“ iya, mbak juga hati-hati. Kalau ada apa-apa segera hubungi Ifan ya. Assalamualaikum”
“waalaikum salam” Arinda memutuskan panggilan di ponselnya. Dia meletakkan ponsel di atas meja ruang makan, melangkahkan kakinya menuju pintu depan yang masih terdengar ketukan.
“assalamualaikum” terdengar suara pria di luar sana yang tidak terasa asing bagi Arinda. Kedua tangannya menyanggul rambutnya dengan rapi, lalu meraih hijab yang terlampir di kursi dan memakai menutupi kepalanya.
“waalaikum salam” sapa Arinda membuka pintu, matanya membulat sempurna saat melihat pemuda yang ada di depan saat ini. Begitu pun pemuda yang tidak lain adalah Arvin, terkejut saat melihat istri sahabatnya yang berada di rumah Aisyah yang ingin di temuinya.
“Arvin...” wajah Arinda seketika memucat, dia terlihat sangat khawatir.
“jika kamu di sini, berarti...” Arinda terlihat semakin panik dan akan menutup pintu rumahnya,
“Rin... Arin..... sebentar, dengarkan penjelasan ku dulu” ujar Arvin menahan pintu dengan kakinya. Arinda menekan pintu dengan kuat membuat kaki Arvin terjepit,
“aduuuh” teriak Arvin kesakitan membuat Arinda kembali membuka pintu menatapnya.
“kamu nggak apa-apa Vin” tanya Arinda melihat Arvin memegangi kakinya.
“ kagak nyangka gua, kalo kekuatan emak-emak sedang marah bisa membuat patah kaki seseorang” canda Arvin meringis kesakitan.
“ka kaki mu patah? Ayo sekarang kita ke rumah sakit” Arinda semakin panik mendengarnya.
"kagak... kagak Rin. Canda gua Rin” ujar Arvin menenangkan Arinda terlihat panik.
Raut wajah Arinda berubah kesal menatap tajam ke arah Arvin yang menurutnya menyebalkan. Dengan senyuman khasnya Arvin duduk di bangku teras,
__ADS_1
“peace Rin, gua Cuma canda lu jangan marah gitu jadi takut gua. Lu ama si Daniel udah satu paket komplit dah kalo udah marah. Lihat gua udah mau telan gua bulat-bulat gitu” ujar Arvin sambil membelai kakinya yang masih kesakitan. Arinda kesal dengan ucapan Arvin memilih duduk di kursi single berseberangan dengan kursi Arvin.
Tanpa mereka berdua sadari, para tetangga khususnya perempuan yang iri dan syirik melewati jalanan di depan rumah Arinda dan Aisyah. Mereka baru pulang dari arisan kompleks yang di adakan di salah satu dari mereka, tidak hanya mengocok arisan para tetangga perempuan itu juga mulai bergosip tentang Arinda dan Aisyah. Mereka melihat Arvin, pria yang tidak di kenali mereka datang berkunjung ke rumah Arinda.
“hei lihat itu, si pela**r bersama seorang pria”
“benarkan apa yang ku katakan. Tu cewek bukan cewek baik-baik, pake hijab tapi malah berbuat dosa ampe hamil di luar nikah”
“mungkin tu cowok mo make dia kali ya”
“aduuuh ibu-ibu hati-hati yang punya suami. Ntar ada pelakor yang mau rebut suami ama pacar kita sekarang ini kan musim pelakor”
“iya benar ibu-ibu, apa lagi pelakor yang lagi bunting dan miskin. Butuh suntikan dana dari para pria yang mau di kibulin”
Para perempuan itu mulai berbicara buruk tentang Arinda, mereka sengaja mengeraskan suara mereka hingga terdengar oleh Arinda.
Sindiran dan hujatan yang di layangkan oleh para perempuan itu membuat Arvin kesal dan marah.
“aduuh ibu-ibu dan mbak-mbak udah pada balik dari berghibah ya. Mulutnya makin pedes aja kedengarannya. Ati-ati loh ibu-ibu dan mbak-mbak, ntar suami dan pacar-pacarnya di rebut pelakor karena bosan dengerin mulut-mulut ibu yang sudah seperti radio rusak” ujar Arinda membuat Arvin termenung, dia tahu bagaimana sikap Arinda selama ini. Tidak pernah dia menyangka jika Arinda akan bertindak membalas ujaran mereka.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1