Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 151


__ADS_3

Area 21+....


*************


Tangan Daniel mulai menggenggam dan bermain dengan memijat kedua perbukitan itu. Dia melepaskan pagutannya perlahan, sebelah tangannya mulai melepaskan pengamanan terakhir milik Arinda dan juga miliknya. Tangan Daniel bermain di sebuah lembah yang lembab dan memiliki gua sangat licin juga basah namun masih tersegel rapat.


Sang pemilik lembah bergerak menahan sensasi yang menggetarkan seluruh tubuhnya. Dia dapat merasakan king kobra milik Daniel sudah siap untuk memasuki gua di lembah itu.


“bolehkah?” Daniel menatap Arinda dengan hasrat yang harus di tuntaskannya malam ini, Arinda menganggukkan kepalanya perlahan menyetujui permintaan Daniel. Degupan jantung mereka seirama, perlahan-lahan king kobra memasuki gua yang basah, lembab dan licin.


Arinda mencengkeram sprai ranjang dan menggigiti bibir bawah, saat kepala king kobra memasuki gua yang tersegel rapat. Karena sangat licin dan basah, kepala king kobra sudah masuk separuh di gua itu. Pemilik king kobra menatap wajah istrinya yang terlihat kesakitan, di menghujani ciuman lembut untuk menenangkan istrinya. Dia memagut lembut bibir Arinda kembali lidahnya mengabsen setiap detail di mulut mungil itu.


Melihat Arinda cukup tenang mulai terbiasa, king kobra kembali mencoba dengan lembut memasuki tubuhnya ke dalam gua yang sempit dan basah. Namun agak kesulitan, dengan upaya terakhir king kobra mendesak dengan sedikit kuat hingga pemilik gua sedikit menjerit,


“aahhh saakiiit...” Arinda sedikit menjerit, di sudut matanya menetes air sebening kristal. Air mata menandakan jika kini kehormatan yang selalu di jaganya telah dia berikan pada suaminya.


King kobra kini sudah bersemayam sepenuhnya di dalam gua sempit, dia masih berdiam diri tidak bergerak menunggu si empunya gua terbiasa dengan kehadiran king kobra di guanya.


“tahan sayang, sebentar lagi tidak akan terasa sakit...” Daniel mengecup kening dan kembali memberikan ciuman lembut di bibir Arinda, sebelah tangannya menggenggam lembut perbukitan memberikan sensasi kenikmatan yang tiada tara.


Gua sempit itu menjepit king kobra kuat memberikan sensasi pijatan enak pada pemilik king kobra. Pemilik king kobra menatap pemilik gua, sudah mulai tampak tenang dan terbiasa dengan kehadiran king kobra di sana. Dia pun mulai menggerakkan king kobra berpesta pora mengobrak-abrik gua sempit dengan ritme yang semula lembut berubah menjadi sedikit cepat dan kuat, membuat si pemilik gua meleng*h dan mengeluarkan suara yang terdengar nyanyian indah bagi pemilik king kobra.


Permainan king kobra pun berakhir saat king kobra merasa sangat mual hingga dia dengan berani memuntahkan seluruh bisanya di dalam gua sempit dan licin itu. Dia memuntahkan bisa yang sangat banyak, hingga membuat pemilik king kobra meneteskan peluh yang begitu banyak di wajah, punggung dan dadanya. Dalam kamar itu menggema suara nafas yang tersengal-sengal dari Arinda dan Daniel, dia menatap istrinya dengan lembut. King kobra lalu keluar dari gua sempit itu, mata Daniel melihat ada bercak darah yang ikut keluar dari gua sempit itu bersamaan dengan bisa milik king kobra.


“terima kasih sayangku, kamu menjaganya selama ini dan memberikannya hanya untukku” Daniel mengecup kening dan pipi Arinda. Dia lalu menyelimuti tubuh mereka yang tidak mengenakan sehelai benang pun, kelopak bunga mawar bertebaran di ranjang dan lantai kamar. Daniel merebahkan tubuhnya di samping Arinda yang masih tersengal-sengal setelah olah raga malam yang baru saja mereka lakukan. Tangannya memeluk tubuh Arinda di balik selimut, setelah merasa cukup beristirahat tangan itu kembali menyentuh perbukitan lembut itu.


Arinda menatap Daniel yang mulai bereaksi, mata Arinda menatap king kobra terlihat segar bugar di balik selimut yang mereka kenakan. Matanya membulat sempurna melihat king kobra yang kembali siap tempur, dia kembali menatap Daniel dengan mata sayu berharap jika mereka bisa melakukan olah raga malam kembali.


Tanpa meminta persetujuan Arinda, Daniel kembali menyerang gua sempit itu dengan king kobra miliknya. Permainan itu kembali berlanjut dengan beberapa posisi yang membuat pemilik gua tidak henti-hentinya mengeluarkan nyanyian merdu di telinga pemilik king kobra, hingga pukul dua dini hari di mana king kobra lagi-lagi memuntahkan bisanya di gua sempit itu.


“terima kasih sayangku” Daniel mengecup pipi Arinda yang sudah tak mampu lagi membuka matanya karena kelelahan akibat menemani king kobra bermain. Dia pun ikut terlelap di samping setelah menarik istrinya untuk tidur dalam pelukan dan Menjadikan lengan miliknya bantal untuk Arinda.


***

__ADS_1


Alarm di ponsel milik Daniel, menandakan waktu sholat subuh telah masuk. Mata Arinda membuka perlahan-lahan, melihat Daniel yang masih terlelap dengan wajah menghadap ke arahnya. Wajahnya merona teringat dengan kejadian yang baru beberapa jam terjadi, perlahan-lahan dia mendudukkan tubuhnya dengan menyingkirkan tangan Daniel yang melingkar di pinggangnya. Sebelah tangannya menahan selimut untuk tidak turun dari dada yang di tutupinya.


Dia meraih sembarang pakaian yang tergeletak di lantai dan memakainya untuk menutupi tubuh polosnya. Arinda mengetahui jika pakaian yang di kenakannya adalah kemeja milik Daniel.


Pakai ini saja sementara dari pada nggak sama sekali, bisa-bisa Daniel kembali menyerang Arinda memasang kancing kemeja menutupi tubuhnya menurunkan kakinya dari ranjang, lalu dia berdiri dan akan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Saat akan melangkahkan kakinya, Arinda terduduk kembali saat merasakan sakit di area sensitifnya.


“aawww sssshhh” Arinda mengeluh kesakitan membuat Daniel terbangun dari tidur lelapnya. Matanya melihat istrinya yang terduduk menahan rasa sakit,


“sayang, kamu kenapa? apakah masih terasa sakit?” Daniel duduk dan menghampiri Arinda yang mengangguk pelan dengan wajah merona. Dia menundukkan pandangannya tak mampu menatap Daniel yang tahu jika saat ini istrinya sangat malu padanya.


Dia lalu memeluk Arinda yang membelakanginya, tangan kekar miliknya melingkar di pinggangnya. Arinda semakin salah tingkah dengan perlakuan Daniel,


“Dan, sudah waktunya sholat subuh. Aku harus mandi sekarang” Arinda melepaskan tangan Daniel dan mencoba untuk berdiri kembali. Kembali rasa sakit itu mendera di bagian sensitifnya, membuatnya kembali terduduk.


Daniel tampak iba melihat Arinda yang kesakitan karena ulahnya, dia meraih boxer miliknya dan melangkah masuk ke kamar Mandi. Mengisi Jacuzzi dengan air hangat, dia kembali ke kamar menghampiri Arinda lalu duduk di hadapannya.


“kemarin saat akan kemari mommy bilang ada obat-obatan dan jamu untukmu, di mana?” Daniel mempertanyakan obat-obatan yang di beri Aileen pada Arinda.


“di koper itu” Arinda menujuk sebuah koper tergeletak di samping lemari di walk in closet. Daniel segera melihat-lihat obat apa saja yang ada di koper itu, Aileen ternyata sudah mempersiapkan herbal untuk Arinda dalam kondisi saat seperti sekarang. Ada juga berbagai jamu untuk stamina dan kesehatan tubuhnya.


Daniel mengambil herbal dan menaburinya di jacuzzi, bau herbal semerbak tercium dalam kamar mandi itu. Arinda bertanya-tanya dalam benaknya apa yang di lakukan Daniel, setelah semua selesai Dia kembali menghampiri istrinya dan langsung membopong Arinda,


“Daniiel, apa yang kamu lakukan?” Arinda melingkarkan tangannya ke leher Daniel. Memegang dengan erat suaminya, Daniel tersenyum lalu berbisik di telinga Arinda.


“sayang, kamu yakin akan berjalan dengan kondisi di sana masih terasa sakit?” Daniel menatap Arinda dengan tatapan penuh makna dan maksud tersembunyi. Arinda pasrah dan membiarkan Daniel membantunya ke kamar mandi, perlahan-lahan Dia mendudukkan Arinda di closet duduk yang tertutup. Tangannya akan membuka kancing kemeja di pakai Arinda namun di cegahnya. Kedua tangannya memegang tangan Daniel,


“kamu mau ngapain?” Arinda menatap Daniel,


“aku akan membantumu untuk mandi, tidak mungkin kan kamu mandi dengan menggunakan ke mejaku?” Daniel tersenyum nackal.


“a a aku bisa sendiri Daniel, sakitnya sudah berkurang dan lagi aku bisa berjalan ke sana sendiri”


Daniel tidak menanggapi perkataan Arinda, dia langsung membuka kemeja yang di kenakan hingga memperlihatkan bukit yang terpampang indah dengan hasil karya abstrak Daniel menghiasi dada dan perbukitan itu.

__ADS_1


************


tetap terus dukung Author


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊


jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss


🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


halu again...



Tasya....



Aldo...



Ifan (adik Arinda



Alexa Cahya Handoyo (eks. Daniel)


__ADS_1


Lutfi...


__ADS_2