
“jangan tanya dulu deh, mbak Cantika udah datang blom?” tanya arinda akan melangkahkan kakinya ke arah pantry.
“eits....lu mau kemana? Cantika nggak datang hari ni. Ndese katanya mo istirahat aja di apartemennya”
“ooo” Arinda akan melangkah keluar langsung di halangi Maya.
mungkin sakit mbak Cantika kemarin tambah parah, lebih baik ntar sore gue jengukin ah ke apartemennya guman Arinda dalam hati.
“Udah di bilang Cantika nggak da di kantornya, kok malah pergi sih?"
“mau ke pantry gue may, mo bikin kopi buat ngilangin ni kantuk”
“Ntar aja, sekarang lu rebahan di sofa”
“mo ngapain sih may?”
“Udah lu rebahan sekarang” perintah Maya lalu mengambil plastik yang berisi maskeran. Maya memasangkan ke wajah Arinda dengan rapi
“Aduuh may...musti maskeran sekarang? Lu nggak liat ini masih pagi dan kerjaan gue udah pada numpuk”
“Kalo untuk cantik, nggak ada nanti-nantian. Lu nggak liat wajah lu udah kayak panda, akika udah sering bilang kalo ye musti jaga penampilan”
“serah lu deh may” Arinda mengikuti kemauan Maya dan merebahkan badannya di sofa, dia memejamkan matanya sebentar.
“say..”
“Hmm”
“sebenarnya, kenapa lu nggak bisa bocan (bobok cantik) tadi malam?”
Arinda langsung teringat kejadian saat di perusahaan Daniel. Wajah Arinda yang putih bersemu merah mengingat kejadian itu.
Arinda langsung bangun dari rebahannya, masker yang baru saja Maya letakkan meluncur jatuh memperlihatkan wajah nya yang merona.
“kamu kenapa sih say? Kenapa muka kamu merah kayak udang rebus?” maya memicingkan matanya memperhatikan Arinda dengan seksama.
“Gue....gue nggak kenapa-napa, Cuma hari ni kerasa gerah aja” bohong Arinda mengipasi wajahnya.
“Mencurigakan”
“Maskerannya udah kan. Gue mo ke pantry dulu”
Arinda mengambil langkah seribu untuk menghindari nyinyiran Maya, tapi di halangi oleh Maya.
“eits...nggak semudah itu Rosalinda. Sebelum lu crita akika nggak akan biarin lu keluar dari ruangan”
“May kayaknya lu lebih cocok jadi polisi dari pada desainer deh”
“ada ya polisi ngondek kayak akika, yang ada penjahat pada kabur semua dari penjara. (Tersadar Arinda yang mencoba mengalihkan pembicaraan) Eits... lu mo ngalihin pembicaraan nggak akan bisa cin. Ayo lu terus terang ama akika, ato akika bakalan kutuk lu kayak malin kundang”
__ADS_1
“jadi batu deh gue” Arinda duduk di meja kerjanya membuka laptopnya.
“Rin...”
“Apa sih mak? Kepo banget deh ah”
“Siapa juga yang nggak kepo, kalo lu nya main rahasia-rahasiaan ama akika”
“Beneran nggak ada apa-apa Maya. Kalo ada pa-pa pasti lu orang pertama yang bakalan gue kasih tau”
“Ya bener ya...kalo ada pa-pa, akika orang pertama yang lu kasih tau!!! ya udah deh” Maya mengambil buku yang berisi sampel bahan gaun
“Lah...ngambek. Jangan ngambek dong may, ntar gantengnya ilang lo” canda Arinda.
“Ariiin....udah tau akika ini cantik dan sexy. Masih aja ngungkit masa lalu” kata Maya berpura-pura sedih.
“Iya deh, maya ku cantik. Mo kemana kok bawa buku bahan?”
“biasalah rin, mo nyari bahan buat gaun wedding”
“perlu di temenin kagak? Sekalian gue mo ilangin rasa ngantuk ni”
“Ya udah ayuk” Maya mengajak Arinda ke bahan kain langganannya.
***
Kediaman Arsenio...
Daniel sudah rapi dengan pakaian casual yang di kenakannya. Kakinya yang panjang di baluti celana Skinny fit jeans warna hitam, memakai baju kaus v-neck menutupi badan sixpacknya, dengan blazer yang senada dengan skinny fit jeans nya menambahkan aura ketampanan di miliki Daniel.
“Dan....kamu tidak ke kantor hari ini?” tanya Aileen heran melihat penampilan putranya yang berbeda.
“Iya mom, tapi hanya sebentar. Dan ada janji dengan Sean hari ni mom” kata Daniel memulai sarapannya.
“apa kamu sakit Dan?” tanya oma Ayu khawatir.
“Tidak oma, Dan baik-baik saja. Ada hal penting yang ingin Dan diskusikan dengan Sean” kata Daniel tidak ingin omanya khawatir.
“Darren, jam berapa orang tua Amanda akan datang?” tanya Michael pada Darren.
“sore nanti mereka akan datang Dad” jawab Darren.
“Dan, sore nanti kamu sudah harus ada di rumah oke. Mommy tidak mau tau” Aileen mengingatkan Daniel untuk berada di rumah sore nanti.
Daniel hanya diam lalu menganggukkan kepalanya dan melanjutkan sarapannya,
“O ya Dan, sejauh mana persiapan pesta ulang tahun perusahaan. Daddy dengar kamu sudah dapat Eo yang mengurusnya” tanya Michael.
“Sudah dad, semuanya sudah beres. Segala sesuatunya sudah di urus oleh Eo itu, kita hanya tinggal datang di hari D day saja” jelas Daniel.
__ADS_1
“alhamdulillah, akhirnya ada Eo yang mau mengurus pesta dalam waktu yang singkat. Mommy dengar banyak Eo yang mundur karena waktu yang sempit, apa nama kantor Eonya Dan?” tanya Aileen penasaran
“Pearl Stars Wo&Eo”
Huukk...huk...huk...
Aileen tersedak saat minum air.
“Pearl Stars...bukannya kamu sudah membatalkannya?” tanya Michael heran memukul-mukul lembut punggung Aileen untk mengurangi batuknya.
“Awalnya, Dan enggan untuk mau kerja sama. Tapi Ansel mengeluh kalo banyak Eo yang mundur karena tenggat waktu yang singkat, jadi Dan memutuskan akan mencoba memakai Eo Pearl Stars” jelas Daniel.
Daniel melirik jam yang melingkar di tangannya.
“Oma , mom, dad.... Daniel akan berangkat sekarang. Kak Darren aku akan mengusahakan untuk bisa datang nanti” kata Daniel yang beranjak pergi.
Sebelum pergi, seperti biasa Daniel menyalami dan mencium pipi wanita yang di sayangi dan di hormatinya, lalu menyalami daddynya.
Ansel berdiri dari duduknya saat Daniel menghampirinya di ruang tamu. Ansel heran melihat Daniel yang tidak memakai jas tapi malah memakai pakaian casual.
“Tuan muda, apakah hari ini tuan muda tidak akan ke kantor?”
“Kita ke kantor, tapi hanya sebentar. Setelah selesai jum’atan kita akan ke tempat Sean”
“Ke tempat Sean? Apakah tuan muda merasa kurang sehat? Jika iya, saya akan membatalkan meeting hari ini tuan”
“itu tidak perlu, kita berangkat sekarang” perintah Daniel.
Mereka berdua beriringan jalan keluar dari Mansion Arsenio, Sakti membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Daniel untuk naik.
Ansel sudah duduk di samping kemudi. Sakti lalu menghidupkan mesin mobil lalu meluncur ke perusahaan Arebeon Corp.
Triiit....
Terdengar bunyi notifikasi pesan wa yang masuk. Daniel mengecek smartphone miliknya, tidak ada pesan apa pun. Daniel melihat kearah Ansel duduk di sebelah kemudi mobil tampak sedang fokus berbalas pesan.
“pesan dari siapa? Apakah dari klien?” tanya Daniel melihat Ansel dari kaca spion mobil depan.
“Bukan tuan muda, saya hanya membalas pesan dari teman saya”
“Teman? Sean ato Arvin?” tanya Daniel yang kini membuka smartphone miliknya.
“Teman baru tuan muda” kata Ansel melihat ke arah depan.
“ Teman baru? Siapa? Apakah aku mengenalnya?” interogasi Daniel penasaran.
*************
terus dukung Author
__ADS_1
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
( Π_Π )