
“Rin, kamu hamil?” Tanya Tasya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“ember, ni pere satra lagi Hamidah” maya membenarkan ucapan Cantika.
“slamat ya Rin, pantas aja tu tuan muda ngirim pasukan body guard bejubel gitu. Yang di jaga bukan satu, tapi dua” Tasya memeluk Arinda hangat.
“slamat ya Rin” Aldo mengulurkan tangan berjabat tangan dengan Arinda.
“makasih ya Tasya, Aldo” Arinda tersenyum senang.
“o ya Btw bus way, lu bedua pada ngapain datang ke sindang?” tanya Maya pada Aldo dan Tasya. Mereka saling berpandangan lalu malu-malu meong, kembali duduk di sofa ruangan Arinda. Begitu juga arinda yang kembali duduk di belakang meja kerjanya.
“helooo, akika lagi nanya nich. Bentar bentar, akika kok cumi-cumi bau organ lagi jatuh cinta ya?” jiwa detektif emak Maya terbangun. Mereka bertiga menatap ke arah Aldo dan Tasya yang terlihat berbeda, Cantika menangkap sepasang cincin melingkar di jari manis mereka berdua.
“tentu aja May, orang di depan kamu lagi ada yang kasmaran gitu” goda Cantika.
Aldo dan Tasya menjadi salah tingkah dengan ucapan Cantika, Arinda tersenyum senang melihat sahabatnya akan melepas masa lajangnya.
“jadi maksud kedatangan kami kemari, meminta Wo Pearl Stars khususnya Arinda untuk menghandle pesta pernikahan kami” Aldo penuh harap Arinda menyetujui permintaannya. Ingin sekali rasanya Arinda menyetujui permintaan Tasya dan Aldo, namun dia teringat dengan nyonya Dian yang begitu membencinya.
“sorry Do, tapi aku selaku pemilik Pear Stars menolak permintaanmu jika kamu meminta Arinda untuk menjadi event manager di pesta kalian” kata Cantika.
“gue tahu, kalian semua menolak permintaan ini karena nyokap gue. maafin nyokap gue Rin, tapi percayalah Rin nyokap gue sudah berubah dia sudah tidak seperti terakhir bertemu. Plisss Rin, gue mohon lu mau jadi event managernya” Aldo meminta Arinda untuk menjadi even manager di acara pernikahannya. Arinda tampak bepikir lalu menatap ke arah Maya dan Cantika.
“ sebentar ya Do, gue diskusi dulu” Arinda mengajak Cantika dan Maya untuk berbicara di tempat lain meninggalkan Tasya dan Aldo
di ruangan mereka.
***
Pesawat jet set milik Arsenio tinggal landas menuju negara JP tepatnya ke kota FK, sesaat berada di kantor Arebeon Daniel mendengar laporan body guard yang mendengar tentang Alat lain yang di pasang oleh Jeni.
“apa benar gadis ini yang berbicara dengan Marcus?” tanya Daniel sekali lagi sambil memperlihatkan foto Jeni.
“ benar tuan muda, perempuan ini juga mengatakan jika Lutfi akan menjerat ikan emas. Sepertinya mereka akan melakukan sesuatu tuan muda” lapor body guard itu. Di saat body guard itu berbicara, Jeni berdiri kembali menyelinap ke ruang IT dan terlihat melakukan sesuatu.
Ansel dan Daniel memperhatikan dengan seksama,
__ADS_1
“Sel, tunggu tikus itu lengah. Setelahnya kamu langsung ke ruang IT untuk mengambil alat yang sebenarnya di tanam di sana” perintah Daniel,
“baik tuan muda” Ansel segera melaksanakan perintah Daniel. Daniel meraih ponsel miliknya langsung menghubungi Arvin dan Yuda.
Arvin sedang bersama Yuda baru keluar dari kantor polisi dengan raut wajah serius. Dia akan menelepon Daniel namun tidak jadi karena Daniel menghubunginya lebih dulu.
“Halo bro” sapa Arvin tidak dengan candaan apa pun. Daniel mendengar nada serius dari Arvin tertegun,
“dapat info apa?” tanya Daniel dingin,
“sebaiknya, gue ke kantor lu segera” Arvin meminta Yuda menyetir ke kantor Daniel.
“ku tunggu” Daniel memutuskan sambungan teleponnya.
Arvin tampak mengepal erat tangannya, mendapat info yang sangat mengejutkan baginya. Mereka berdua masuk dalam mobil, Arvin duduk di samping kursi pengemudi. Matanya masih menatap ponsel berisi informasi yang baru saja di dapatnya. Keluar dari parkiran kantor polisi sebuah mobil hitam mengikuti mobilnya.
Yuda menyadari hal itu dengan segera membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Yuda mengendarai kuda besi membelah jalan raya sedikit kaku, matanya sesekali melihat ke kaca spion. Arvin heran dengan sikap Yuda yang mengendarai mobil dengan tidak biasak.
“kenapa?” tanya Arvin mengalihkan pandangan dari ponselnya menatap Yuda.
“kita di ikuti bang” Yuda kembali menatap kaca spion. Arvin pun melihat ke arah belakang mobilnya, mobil hitam itu dengan sangat gesit mendekati mobilnya.
Shuut... shuuut... praang....
Arvin terkejut saat mendapati kaca spion mobilnya pecah karena tembakkan senjata api yang memakai peredam suara.
“An**ng mereka pake senjata, ba***at” Arvin mengelak dengan mengagumkan. Dengan skillnya yang seorang pembalap liar dan ahli dalam ngedrift, membuat mobil yang mengikuti mereka kehilangan jejak.
Mobil Arvin bersembunyi di sebuah gang antara ruko cafe, matanya tetap mengawasi mobil yang mengejar mereka.
“Ba***at, siapa mereka? Berani nyari mati mereka. Lu nggak apa-apa Yud?” tanya Arvin menatap ke sampingnya.
“nggak apa-apa bang” Yuda tampak memegangi lengannya yang ternyata terkena serimpetan peluru yang di tembakkan oleh mereka.
“nggak apa-apa lu bilang, tapi lengan lu udah robek kayak itu” Arvin melihat darah mengalir di antara sela jarinya, dengan sigap Arvin mengambil kotak P3K di mobilnya.
“untung gue sering liat Sean ngobatin gua. Jadi ilmunya ke pake sekarang, sepertinya mereka udah nggak ngejar kita. Lebih baik kita sekarang ke Arebeon” Arvin kembali mengendarai mobilnya menuju kantor Daniel.
__ADS_1
Dalam perjalanannya menuju kantor Daniel, ponsel Arvin berdering dari nomor tidak di kenalnya. Segera dia mengangkatnya,
“Hallo” kening Arvin berkerut saat mendengar suara komandan Anton,
“Komandan Anton, atas perintah kombes Wiriya anda di pindahkan ke daerah PPU dalam waktu seminggu anda sudah harus pindah ke sana” terdengar suara pria asing yang tidak di kenal Arvin.
Anton diam menanggapi perintah yang di dapatkannya, mau tidak mau dia harus mengikuti perintah atasannya. Dia tahu hal ini akan terjadi, saat dia tidak sengaja melewati kantor atasannya yang sedang berbicara dengan kombes Wiriya.
Dia mendengar atasannya melapor tentang kedatangan Arvin dan niat mereka yang ingin menyingkirkan Arvin. Saat akan memberi informasi itu, atasan Anton datang dan memberi pemberitahuan tentang dirinya yang di pidah tugaskan.
Arvin terdiam mendengar pembicaraan Anton dengan atasannya, setelah atasannya pergi Anton segera memberi tahu rencana kombes Wiriya yang ingin menyingkirkan Arvin.
“jadi orang-orang yang mengikuti kita tadi adalah polisi bayaran yang bertugas untuk menyingkirkan kita,bang!!!” tanya Yuda pada Arvin yang tampak sangat geram.
“dalang di balik semua ini, benar-benar bikin gua marah. Kita ke kantor Daniel sekarang” Arvin melanjutkan perjalanan menuju kantor Daniel. Sebelumnya dia meminta maaf pada Anton karena membantu mereka, jabatan dan pekerjaannya di pertaruhkan. Anton tidak merasa keberatan dengan kepindahannya, baginya suatu keberuntungan terhindar dari ke sifat atasannya yang bertolak belakang dengan dirinya yang seorang polisi jujur dan menjunjung tinggi kebenaran.
Arvin sampai di kantor Daniel, setelah memarkirkan mobilnya dia dan yuda bergegas masuk ke Arebeon dan menuju kantor Daniel.
Ansel melihat kedatangan Arvin dan Yuda dalam keadaan berantakan. Dia melihat tangan yuda yang terbalt perban di mana darajh telah merembes keluar dari perban itu.
“sel, tolong hubungi Sean sekarang. Suruh dia ke sini” ujar Arvin pada Ansel yang segera menelepon Sean untuk datang ke Arebeon.
Daniel langsung berdiri dari kursi kebesarannya saat melihat kedatangan Arvin dan yuda.
*************
secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ all...