
Arinda berada di dalam taksi menatap pemandangan kota CH yang di guyuri hujan lebat, hatinya merasa tidak tenang dan gelisah saat melihat awan yang begitu gelap.
Mama....
panggil Arinda dalam hati, jantungnya berdetak dengan cepat.
Ifan berada di samping ibunya, menatap sedih wanita yang sudah melahirkannya dengan penuh perjuangan antar hidup dan mati. Kedua matanya yang masih menutup matanya, wajahnya terlihat pucat. Ifan menggenggam tangan ibunnya terasa dingin, bunyi mesin penyambung hidup masih terdengar cepat. Dia melihat layar monitor ventilator yang menurun drastis, Ifan mendekatkan wajahnya ke telinga ibunya
“ma... hikss.... jika mama sudah tidak kuat hikss... Ifan rela ma....Ifan rela melepaskan mama... La.... Illaha... Ilallah” bisik Ifan dengan linangan air mata di telinga sang ibu.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiitt.......
Mobil taksi yang di tumpangi Arinda berhenti di pelataran rumah sakit, setelah membayar ongkos taksi Arinda berlari cepat menuju ruang ICU. Langkah Arinda sempat terhenti saat dia mendengar suara ibunya memanggil namanya,
Arindaa..... suara ibunya seperti bisikan di telinga Arinda, dia melangkahkan kakinya dengan cepat. Arinda berkali-kali hampir terjatuh saat berjalan terburu-buru menuju ruang ICU ibunya. Arinda terburu-buru melewati teman-teman Ifan yang duduk di kursi tunggu. Mereka berdua berpandangan dengan alis bertaut,
“yang tadi itu....” kata Bayu terhenti menatap ke arah gadis yang terburu- buru ke ruang ICU.
“sepertinya itu kakaknya Ifan” kata langit, mereka berdua berdiri dari tempat duduk lalu menghampiri ruang ICU.
Tepat saat dia menginjakkan kakinya di depan pintu ruang ICU bunyi dari mesin penyambung ibu Arinda berbunyi panjang.
Tiiiiiiiiiiiiiiiit .....
Pada layar monitor ventilator yang terpasang di tubuh ibu Arinda menayangkan satu garis lurus dengan bunyi menandakan ibu Arinda telah kembali ke pangkuan Sang Khalik. Arinda mematung di luar kamar ICU ibunya, matanya menatap ibunya terbaring kaku di atas tempat tidur.
“ma...mama..... ma” panggil Arinda, air matanya menetes dia dekati ibunnya yang sudah tertidur untuk selama-lamanya.
“ma.... ini Arin ma... mama...ayo bangun ma... mama” panggil Arinda dengan mengoyang-goyangkan tubuh ibunya. Dokter yang berada di sana mulai melepaskan semua alat-alat yang menyokong hidup ibu Arinda.
“jangan dok... mama saya baik-baik saja... jangan di cabut dok... saya mohon” kata Arinda dengan tangis yang menjadi-jadi.
Ifan segera memeluk Arinda dari belakang, menahannya agar tidak mengganggu pekerjaan dokter.
“mbak...mbak... udah mbak... ikhlaskan mama mbak...” kata Ifan yang juga menangis memeluk erat dari belakang.
Kedua tangan Arinda bergetar memegang lengan adiknya yang kekar, tangisnya pecah. Dia terduduk di lantai menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya menangis sejadi-jadinya. Ifan berjongkok di belakang dan memeluk erat Arinda, mereka berdua menangis di samping tempat tidur ibu mereka. Kini mereka hanya tinggal berdua, mereka sudah tidak memiliki sanak saudara yang lain.
***
__ADS_1
Arinda duduk termenung di lorong rumah sakit, air mata terus membanjiri dan membasahi pipinya. Ifan meminta pihak rumah sakit untuk mengurus jenazah ibunya dengan baik sementara itu Ifan menemani kakaknya yang terlihat sedih.
“mbak....” panggil Ifan, Arinda menatap adiknya. Wajahnya tampak pucat, matanya bengkak akibat menangis seharian. Namun kecantikannya tidak luntur sama sekali walaupun wajahnya terlihat lusuh saat ini.
“mama, akan dimakamkan sore ini. Teman-teman Ifan sudah membantu kita untuk mengurus segala sesuatunya di rumah” kata Ifan, arinda menatap adiknya. Air mata kembali tumpah mereka saling berpelukan, menumpahkan segala kesedihan di hati mereka.
Mobil ambulance berwarna hijau tua khas melambangkan milik militer terparkir di pelataran rumah sakit, hujan deras mengguyur kota CH ikut mengantarkan kepergian ibu Arinda. Segala administrasi rumah sakit sudah di urus Langit dan Bayu, Arinda dan Ifan naik ke mobil Ambulance menuju rumah mereka. Langit dan Bayu terlebih dahulu ke kesatuan untuk melapor pada atasan mereka. Setelah itu teman-teman Ifan yang lain datang ke rumah duka untuk membantu mengurus hal lainnya.
Dalam perjalanan menuju kediaman mereka, Arinda ingat dia belum mengabari Cantika dan Maya.
“Fan.... hiksss... mbak.., pinjam ponsel kamu sebentar, ponsel mbak mati. Mbak belum ngasih kabar ke Maya dan bos Mbak kalo mbak di sini sekarang.” kata Arinda mulai tampak tenang dan ikhlas, matanya masih tampak merah dan berkaca-kaca saat melihat keranda jenazah ibunya.
“ini mbak” Ifan memberikan ponselnya pada Arinda.
Arinda langsung mengetik nomor Maya dan menghubunginya...
Maya masih mengitari jalan dan tempat yang selalu Arinda kunjungi,
Aduuuh.... ni pere sastra cepat banget hima layangnya. Nggak tahu apa akika khawatir guman Maya menjalankan mobil pelan sambil celingak celinguk di jalanan, Dia sangat khawatir pada Arinda.
Ddrrrt....drrrt....
Ponsel Maya bergetar menandakan ada telepon yang masuk.
“hallo.... Maya speaking!!! Ni baik ya?”
“may.... ini gue Arin...” kata Arinda di seberang sana. Maya langsung menghentikan mobilnya mendadak,
“omg Ariiiin.... akika kuatir banget lu hima layang. Lu kemindang, akika udah nyariin lu dari tadi? Lu ganti nomor baru?”
“hikss... ini nomor adek gue Ifan, gue di CH sekarang... nyokap gue... nyokap gue ....hiksss” arinda kembali menangis sedih membuat Maya panik.
“lu napa nangis Rin? Kenapa ama nyokap lu?”
“ nyokap gue May... nyokap gue... hiksss... udah... nggak.... ada... May” kata Arinda sedih dan menitikkan air mat..
“Astaga, lu kasih tahu alalmat lu sekarang. Akika capcus ke CH”
“May, tolong sampein ke mbak Cantika kalo gue ijin beberapa hari ni”
__ADS_1
“lu nggak usah mikirin kerjaan sekarang. Akika nyusul kesindang, ntar akika kirim pesan wa ke Cantika lu ijin”
“makasih ya May, gue tutup dulu soalnya gue udah di rumah sekarang”
“oke, ampe ketemu ntar di sana ya say. Yang Tabah ya say, akika ikut sedih”
"makasih ya May, udah dulu ya. gue musti turun sekarang"
Maya mematikan sambungan teleponnya, dia segera memberi tahu pada Daniel yang masih mencari Arinda. Maya sengaja memberi tahu Daniel karena menurutnya saat ini Arinda sangat membutuhkan dukungan Daniel.
Drrrt.... drrtt...
Ponsel Daniel bergetar, Ansel membantu mengangkat telepon yang masuk ke ponsel nya.
“kamu sudah tahu Arin di mana?” tanya Daniel to the point.
“aduuuh my idol, nggak sabaran amir. Nih Akika Cuma mau bilang sekarang Arin ada di kota CH. Akika baru dapat kabar darinya kalo nyokap Arin udah nggak ada”
“nggak ada? Maksudnya?” daniel terkejut mendengar kabar dari Maya.
“maksud akika nyokapnya Arin udah mataram alias meninggal. Sekarang akika mo capcus ke CH”
Daniel dan Ansel mendengar kabar itu langsung mengucapkan innalillahi wainna ilaihi roji’un, dan menanyakan alamat pasti rumah Arinda.
“May, kamu ke bandara sekarang. Tunggu aku di bandara” kata Daniel. Ansel mematikan sambungan telepon dari Maya,
************
di episode ini author rasanya udah nggak sanggup nahan air mata...
tapi Author tetap semangat buat para readers tercinta...
tetap terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss
🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗