Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 287


__ADS_3

Daniel terus menelusuri jejak ban mobil yang berakhir pada jalanan beraspal yang bercabang, jejak dari mobil itu sudah menghilang. Polisi menelusuri dua jalan yang berbeda, Daniel memukul setir kemudinya bingung harus memilih jalan yang mana.


“tenang Dan, lu jangan emosi. Lebih baik kita menelusuri jalan sebelah kiri. Menurut perkiraan gua, orang yang menculik Arinda pastinya akan menuju keluar kota untuk menghilangkan jejak” ujar Arvin menunjuk jalan sebelah kirinya. Daniel mengikuti arah yang di tunjuk Arvin, mobil itu melaju menuju jalan sebelah kiri.


Mereka melaju mengikuti mobil polisi yang sudah melaju lebih dulu. Kembali mereka di hadapkan dengan jalan yang bercabang.


“Tuan Daniel, sebaiknya kita berpencar. Kami akan mengambil jalan sebelah kiri, kami akan menghubungi anda jika ada perkembangan” ujar polisi mengambil jalan sebelah kiri.


“baiklah” Daniel melajukan mobilnya menuju jalanan sebelah kanan. Arvin dan Daniel terus mengawasi sepanjang jalan yang ada, memeriksa kemungkinan mereka bisa menemukan Arinda.


Mobil Daniel berhenti sejenak di pinggir jalanan, dia mencoba melihat ke sekeliling jalanan yang kosong melompong. Tidak ada mobil satu pun yang lalu lalang,


“sepertinya kita sudah terlambat” ujar Daniel sedih.


“Sabar Dan, gua yakin Arinda baik-baik saja. Lu harus berpikir positif, yakin bahwa yang di Atas akan melindungi Arinda dan baby kalian” Arvin memberi semangat pada Daniel. Ponsel milik Arvin bergetar dengan nomor asing yang tidak ada di daftar kontaknya.


“Halo Assalamualaikum”


“ Waalaikum salam tuan Arvin, kami menemukan sebuah mobil yang di tinggalkan begitu saja di tepi jalan. Sebaiknya anda ke lokasi kami di jalan sebelah kiri” ujar polisi yang mengambil jalur kiri.


“baik pak, kami segera ke sana” ujar Arvin segera memberi tahu Daniel untuk ke jalan sebaliknya. Daniel segera memutar balik laju mobilnya, dia langsung tancap gas menuju ke arah jalan sebaliknya.


Tidak begitu lama mereka sampai di mana polisi menemukan sebuah mobil di tinggalkan begitu saja. Beberapa polisi sudah berdatangan memeriksa mobil itu dengan teliti, mereka menemukan sebuah bross bermatakan batu swarovski yang di kenakan Arinda.


“ini milik Arinda” ujar Daniel melihat bross di tangan polisi.


“sepertinya penculik ini sudah memperhitungkan segalanya, dia segera berganti mobil agar tidak terlacak oleh kita” kata komandan polisi.


Daniel melangkah pergi menaiki mobilnya kembali, Arvin segera menyusul lalu duduk di samping kemudi.


“lu mau ke mana Dan?” tanya Arvin khawatir.


“Aku mau mencari Arin, saat ini dia pasti sangat ketakutan” Daniel terlihat sangat khawatir dan kacau.

__ADS_1


“Lu mau nyari ke mana. Kota J ini besar Dan, lu harus tenang. Sebaiknya sekarang kita balik ke hotel, kita tunggu sampai pagi baru kita lanjut nyari Arinda” Arvin sangat mengenal bagaimana watak Daniel keras kepala.


“Tidak, aku harus mencari Arinda sekarang” Daniel sudah membuat keputusan.


“Dan, lu nggak sendirian. Gua udah nyuruh anak-anak untuk menyebar mencari kemungkinan di mana Arinda. Polisi juga ikut membantu kita, sebaiknya sekarang kita balik ke hotel menunggu info” Arvin kembali membujuk Daniel untuk kembali ke hotel.


Dia tidak ingin mengambil resiko dengan keadaan Daniel yang sama sekali tidak fokus, masih teringat dirinya saat Daniel mengalami kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya.


Daniel tetap keras kepala, nasehat serta bujukan Arvin sama sekali tidak di indahkannya. Dia menyalakan mesin mobilnya bermaksud untuk mencari Arinda kembali, Terpaksa Arvin mengambil tindakan yang mungkin saja akan membuat Daniel marah besar.


“Sorry Dan” ujar Arvin, dengan gerakan cepat tangan Arvin memukul titik fatal membuat Daniel tidak sadarkan diri.


Arvin memindahkan tubuh Daniel yang tidak sadarkan diri ke kursi belakang, komandan polisi dan beberapa polisi menatap Arvin yang kepayahan memindahkan tubuh Daniel.


“ Butuh bantuan Tuan Arvin” ujar salah seorang polisi menawarkan bantuan.


“Sangat” ujar Arvin singkat, dengan sigap beberapa polisi membantu Arvin membaringkan tubuhnya di bangku kursi penumpang.


“Terima kasih banyak bapak-bapak polisi” ujar Arvin.


“Hal itu terpaksa saya lakukan pak polisi. Keadaan Daniel tidak fokus dan emosinya kagak stabil, jika di biarkan akan membahayakan bagi dirinya sendiri. Apabila terjadi sesuatu padanya, akan menjadi penyesalan terbesar baginya kelak (Arvin menatap sahabatnya dari balik kaca mobil) Baiklah kami undur diri dulu, jika ada kabar terbaru kabari kami” ujar Arvin pamit untuk kembali ke hotel.


“Baik Tuan Arvin. Kami akan berusaha untuk menemukan nona Arinda secepatnya, juga menangkap dalang penculikan dan pembunuhan ini” komandan polisi menjabat tangan Arvin.


Pintu mobil Daniel di buka oleh Arvin, dia menyalakan mesin lalu melajukan mobilnya menuju hotel di mana keluarga Arsenio menginap. Sesekali dia melihat keadaan Daniel dari kaca spion di depan, memastikan jika Daniel masih dalam keadaan tidur.


***


Mentari pagi menyinari bumi dengan semangatnya, sinarannya perlahan-lahan masuk melewati celah tirai jendela yang terbuka. Mata Arinda mengerjap-kerjap merasa sangat silau oleh cahaya, matanya terbuka perlahan-lahan menunggu terbiasa.


Mata indah Arinda terbuka lebar saat menyadari jika dirinya berada di tempat asing, kepalanya melihat ke sekeliling kamar. Dia bangkit dari tidurnya dengan hati-hati, kepalanya terasa pening juga perut serta pinggang terasa sangat sakit. Arinda menghirup nafas dalam dan melepaskannya perlahan, hal itu di ulangnya berkali-kali sampai rasa sakit sudah tidak di rasakannya lagi.


“Di mana ini? Seingatku, aku pingsan di dalam lift” ujar Arinda melihat ke sekelilingnya. Dia menurunkan kakinya dari ranjang, berjalan perlahan memeriksa tempat itu.

__ADS_1


Kedua tangan Arinda membuka tirai jendela melihat ke sekitar luaran sana yang terlihat sangat asing baginya.


Ceklek...


Terdengar suara pintu yang di buka, Arinda melihat ke arah pintu. Matanya terbuka lebar saat melihat pria mengenakan topi itu masuk ke dalam kamar Arinda, salah satu tangannya menenteng sebuah bungkusan plastik berisi makanan yang baru di belinya.


“kamu sudah bangun sayang?” tanya pria Asing itu, meletakkan bungkusan makanan itu di atas meja.


“tu tu tu tuan Richard” Arinda melangkah mundur, dia sangat terkejut saat melihat Richard pria yang terobsesi pada dirinya.


Pria yang dengan pede tingkat dewa melamar dan meminta Arinda untuk bercerai dengan Daniel, kini berdiri di hadapan Arinda dengan senyuman penuh kemenangan. Arinda ketakutan memegangi perutnya, Richard melangkah mendekatinya dengan tersenyum manis.


“Sayang, ayo kita sarapan dulu. Dari semalam kamu belum makan kan? Kasihan baby kita kelaparan, ayo sayang” ajak Richard mengukurkan tangannya pada Arinda.


“Apa maksud kamu Richard? Kenapa aku bisa berada di sini” ujar Arinda mulai panik, dia sudah melupakan rasa sopan santun dan menghormati Richard yang sudah berbuat sangat nekat.


“Tenang sayang, kamu jangan takut. Kita sekarang di tempat yang aman, tidak akan ada lagi yang akan menghalangi hubungan kita. Secepatnya kita akan menikah, lalu menantikan baby kita lahir ke dunia ini” Richard dengan sangat percaya diri dan menganggap dirinya adalah ayah dari para baby twins.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


maaf pada semua reader🙏🏻


🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2