Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 232


__ADS_3

“Van... Van... semoga setelah ini lu bisa menerima kenyataan jika Arinda bukanlah untuk lu” Sean berdiri dari duduknya, membantu Evan melepaskan sepatunya.


“busyet dah... udah kayak bini lu aja gua sekarang” Sean menggerutu kesal sambil menyelimuti tubuh Evan.


Setelah membantu sahabatnya, Sean memilih pulang ke apartemennya dengan menggunakan mobil milik Evan. Dia juga meninggalkan pesan di secarik kertas dan segelas air putih atas nakas samping ranjang Evan.


Sean melangkah meninggalkan Evan menuju parkiran basement, menaiki mobil Evan lalu melajukan menuju apartemen miliknya.


***


Mobil Arvin memasuki parkiran basement dan memarkirkan sempurna di parkiran itu. Dia turun dari mobil lalu membantu Vivi untuk turun dari mobil, selama perjalanan menuju apartemen serangan bertubi-tubi di rasakan oleh Arvin.


Dengan terburu-buru dia membopong Vivi yang masih nyenyak dalam tidurnya.


Enak benar nih cewek, kagak tahu siksaan batin bertubi-tubi gua rasakan saat ini. Kalo gua ikutin setan udah habis gua makan lu gerutu Arvin dalam hati. Dia terus menerus melihat papan digital dalam lift yang menujukkan angka dan tanda panah yang bergerak naik.


Ting....


Pintu lift terbuka, Arvin dengan langkah seribu segera menuju Apartemennya. Dia lalu menurunkan sejenak Vivi memaksanya untuk berdiri dengan tegak sementara dia meraih kunci apartemen miliknya.


Vivi di paksa bangun dari tidurnya bersandar di dinding samping pintu kamar apartemen Arvin. Dia berkali-kali mengucek matanya melihat Arvin yang berdiri di depannya, dia juga melihat ke sekeliling lorong lantai itu.


“aku ... sedang ada di... mana...” Vivi berusaha untuk sadar menatap ke arah Arvin.


“lu di apartemen gua” ujar Arvin memapah Vivi membawa masuk ke dalam apartemennya.


Dia mendudukkan Vivi di sofa panjang ruang televisi, serangan di tubuhnya kembali terjadi. Arvin merasa sangat panas di seluruh tubuhnya,


“gua.... aaakhhh.... gua aadaa... kepentingan sebentar.... lu di sini aja... setelah kepentingan gua selesai gua antar lu.... ke temp... at .... lu... aakhh...” Arvin merasa tubuhnya sudah mencapai batas, dengan bersusah payah dia melangkah masuk kamarnya. Vivi hanya diam menatap punggung Arvin yang menghilang masuk ke sebuah kamar.


Arvin memasuki kamar mandi, duduk di bath up dengan menghidupkan air dingin. Dia masih memakai pakaian lengkap, si tong sky merasa sangat sesak memaksa Arvin untuk membuka pengamanan.


Celana jeans berwarna hitam masih terpasang, hanya bagian di sana di biarkannya terbuka. Tong sky berdiri tegak berendam dalam air dingin, harapan si empunya dia akan tertidur nyenyak kembali.


***


Vivi merasakan pusing di kepalanya, memilih merebahkan tubuhnya di sofa milik Arvin. Selama satu jam Vivi tertidur di sofa milik Arvin, dia merasa tenggorokannya kering. Memaksanya untuk bangun mencari air untuk melepaskan dahaganya.

__ADS_1


Vivi membuka matanya, menatap ke sekeliling ruangan yang asing baginya. Walaupun mabuk Vivi masih bisa mengingat apa yang terjadi padanya.


“o ya.. ini kan apartemen si cowok psycho itu, aku sangat haus. Dapur di mana ya?” Vivi mencoba bangkit dari sofa, kepalanya terasa berat. Dengan perlahan-lahan dia mencari dapur untuk meminum segelas air.


Vivi kini berada di dapur, dia mencari-cari di setiap kabinet gelas yang dapat di gunakannya untuk minum. Setelah meminum Air putih, Vivi merasa rasa sakit di kepala dan mabuknya sudah mulai berkurang.


Dia menatap jam di dinding ruang televisi yang menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Sudah hampir satu jam Arvin belum juga keluar dari kamarnya, membuat Vivi sedikit cemas.


si cowok psycho udah di kamar hampir satu jam lamanya, apa dia lupa kalo aku masih di sini? Apa jangan-jangan dia sakit? Lebih baik aku cek saja dia, kalo dia mati bisa-bisa aku yang jadi tersangkanya guman Vivi melangkah menuju kamar Arvin.


Dia membuka setiap pintu yang ada di apartemen Arvin dan tidak menemukan keberadaan Arvin. Vivi kini berada di sebuah kamar berdiri dengan sedikit gelisah merasakan adanya panggilan alam,


Aduuh, pengen buang air kecil. Di mana toiletnya Vivi lalu membuka pintu di dalam kamar itu. Pintu terbuka, Dia terkejut saat mendapati Arvin yang berendam dalam bath up.


“cowok psycho, kamu kenapa?” tanya Vivi terkejut melihat keadaan Arvin dengan wajah memerah.


“gua nggak apa-apa, lebih baik lu keluar...” bentak Arvin menahan hasratnya.


“hei... aku nanya kamu baik-baik. Kamu malah bentak-bentak nggak jelas” Vivi balik membentak Arvin yang membelakanginya.


Vivi tersulut emosi dengan tingkah Arvin semakin menyebalkan,


“Kalo aku tidak mau keluar, emang kenapa?” Vivi menatang Arvin. Rasa kesal dan hasrat yang tidak tersalurkan membuat Arvin gelap mata. Dia berdiri masih di dalam bath up dan membelakangi Vivi,


“Kamu keluar sana, aku mau buang air kecil”


“Siapa lu Memerintah gua untuk keluar dari kamar mandi gua sendiri?” bentak Arvin masih membelakangi Vivi,


“Ooo ya sudah, aku akan buang air kecil saja di lantai kamar mu” ancam Vivi balik membuat Arvin geram. Hasratnya semakin kuat,


Kalo begini terus gua bisa mati, si*l obatnya sangat kuat guman Arvin, wajahnya memerah dengan detak jantung begitu kuat.


“kalo lu mau buang air kecil, cepat lu kerjakan”


“Dengan kamu masih di sini, nggak...aku nggak mau. Kamu keluar sana”


“Lu mau buang air kecil apa kagak?” Arvin hampir mencapai batasannya. Vivi menatap Arvin yang bersikap aneh serta membelakanginya.

__ADS_1


Mau tidak mau dia terpaksa memakai toilet dengan Arvin yang masih ada di dalam kamar mandi.


“Oke, tapi kamu jangan ngintip” Vivi duduk di closet kamar mandi. Dia terus menerus menatap ke arah Arvin,


Sepertinya cowok psycho ini sedang kesakitan, wajahnya memerah, nafasnya tidak beraturan. Malam-malam dia memilih berendam di air dingin, ada yang tidak beres Vivi menatap Arvin yang masih membelakanginya. Vivi menuntaskan keinginannya, lalu memasang kembali celananya.


Hasrat Arvin semakin menggebu saat tanpa sengaja dia melihat bayangan Vivi yang samar-samar terpantul di jendela kamar mandi. Mata Arvin membulat sempurna, dia dapat melihat si tong sky tidak bisa di ajak kompromi.


Vivi akan melangkah keluar dari kamar mandi, langkahnya terhenti saat merasakan udara hangat yang berembus di tengkuknya. Dia merasakan sesuatu yang sangat keras berada di belakang bagian bawah,


“hei Cowok psycho, ja... jangan bilang kalo kamu sekarang?” Vivi sedikit panik.


“gua minta bantuan lu sekarang” ujar. Arvin yang sudah tidak dapat menahan diri lagi.


“apaaa” Vivi belum menyelesaikan ucapannya membalikkan tubuhnya menatap Arvin dengan mata berkabut penuh hasrat.


Mata Vivi membulat sempurna saat Arvin langsung mencium dan memagut sedikit kasar bibirnya.


Walaupun Arvin playboy cap kadal, namun dirinya masihlah perjaka yang belum pernah tidur dengan perempuan manapun. Dia lebih menghargai kesucian seorang perempuan walaupun beberapa perempuan pernah mengajaknya untuk melakukan.


*************


dear para readers...


secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...

__ADS_1


__ADS_2