
“ sepuluh menit lagi kami akan sampai” ujar Ansel mengakhiri sambungan teleponnya.
“sayang...sayang... aku mohon kamu jangan tidur sayang” Daniel memukul-mukul pipi Arinda dengan lembut agar tetap sadar, saat terjaga rasa sakit kontraksi di rasakan olehnya.
“aaaaaggghhh” Arinda menggenggam erat tangan Daniel. Sungguh saat itu Daniel benar-benar tidak kuasa melihat istrinya kesakitan. Rasa sakit luka tembak yang di rasakan Arinda tidak begitu sebanding dengan rasa sakit di perutnya. Keringat membanjiri hijabnya,
“ nona Arin, atur nafas anda. Tarik nafas, lalu hembuskan, tarik nafas lagi lalu hembuskan” ujar Ansel dengan melakukan senam pernapasan saat akan melahirkan. Arvin dan Daniel juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama dengan Arinda juga Ansel lakukan.
“hhuuuuuufffff” Arvin menghembuskan nafas panjang membuat Ansel menatap ke arahnya.
“Kamu ngapain?” Tanya Ansel heran.
“Ha, sorry gua ke bawa suasana jadi ikutan senam pernapasan” ujar Arvin kembali fokus menyetir. Ansel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu.
Daniel menatap heran ke arah Ansel yang mengetahui tentang cara melahirkan dan apa yang harus di lakukan.
“dari mana kamu belajar semua itu?” tanya Daniel, ada sedikit rasa iri di hatinya. Saat istrinya sedang dalam kesusahan akan melahirkan dia tidak mengerti harus bagaimana, karena kesibukannya sebagai CEO menyita banyak waktu hingga dirinya tidak bisa menemani Arinda ke kelas kehamilan.
“saat saya ada waktu, saya menemani Cantika kelas kehamilan. Di sana saya juga di ajarkan bagaimana caranya menggendong bayi dan membedungnya. Hal apa yang harus di lakukan saat istri akan melahirkan dan masih banyak lagi tuan muda” jelas Sean sambil terus membantu Arinda.
“Aaaaaaghhhh.....” Arinda kembali merasakan kontraksi di perutnya. Daniel semakin merasa tidak tega melihat Arinda yang kesakitan, jika bisa di tukar lebih baik dia saja yang merasa sakit. Sebelah tangannya mengelus perut Arinda, membuat si kembar kembali tenang.
Arinda kembali mengatur nafasnya dengan di bantu Ansel, tidak lupa pula Ansel mengabari istrinya dengan mengirim pesan memberi tahu jika Arinda sudah bersama mereka.
Mereka pun akhirnya sampai di Arsen medical, mereka segera di hampiri oleh perawat, Sean, Davira dan fokter Yuki yang sudah standby sedari tadi. Dua bankar sudah siap sedia, dengan hati-hati Daniel membaringkan tubuh Arinda di atasnya dengan posisi miring ke kiri.
Dokter Yuki segera melihat luka tembak di bahu kanan bagian punggung Arinda, dia juga melihat cairan ketuban yang masih keluar dari jalan lahir. Evan juga di baringkan dengan hati-hati oleh Arvin dan body guard Daniel, kondisinya sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang terus keluar.
“keadaan kedua pasien kritis, segera bawa ke ruang operasi” perintah Sean yang langsung di laksanakan oleh para perawat, mereka dengan cepat mendorong bankar menuju ruang operasi yang sudah di persiapkan.
Davira sudah menghubungi Aileen dan keluarganya jika saat ini Arinda berada di rumah sakit. Aileen bergegas meminta supir untuk mengantarnya ke penthouse Daniel untuk mengambil perlengkapan yang sudah di siapkan Arinda jauh-jauh hari. Davira sengaja tidak memberi tahu Aileen tentang Arinda yang terkena tembakan senjata api, dia tidak ingin membuat ibu dan omanya panik.
__ADS_1
Daniel dan lainnya mengikuti Yuki, Sean dan Davira yang tengah berdiskusi untuk mengambil tindakan yang tepat.
“Vira kamu bantu dokter Yuki” ujar Sean meminta Davira untuk bersiap. Davira segera menganggukkan kepalanya melangkahkan kakinya menuju ruang operasi, begitu juga dokter Yuki.
Daniel menatap Sean menunggu penjelasan darinya, tampak raut ke khawatiran di wajahnya.
“Dan, kondisi Arinda sangat lemah. Dokter Yuki mengambil tindakan untuk Arinda melahirkan secara sesar, setelah itu Davira yang akan mengoperasi untuk mengeluarkan peluru di bahu Arinda” jelas Sean.
“tunggu sebentar, apa laki-laki tadi dokter yang akan operasi Arin?” tanya Daniel. Sean menepuk keningnya tidak habis pikir dengan kecemburuan dan sikap posesif Daniel.
“Dan, sekarang ini nyawa bini dan anak lu lebih penting. Tidak peduli ntu dokter laki-laki ato perempuan” ujar Sean.
“Sean, aku ingin masuk dan menemani Arinda” ujar Daniel, dia ingin bersama dengan Arinda di saat dia melahirkan dan juga tentunya dia memiliki maksud tersembunyi lainnya.
“baiklah, tapi kamu harus bisa menjaga sikap. Sebaiknya kamu segera bersiap, pakai ini” Sean memberikan pakaian yang di pakai untuk masuk ke ruang operasi. Daniel tidak membuang-buang waktunya, segera dia mengganti pakaiannya dan masuk ke ruang operasi.
Daniel kembali menghampiri Sean yang akan masuk ke ruang operasi, Sean sendiri yang akan melakukan operasi untuk menyelamatkan Evan.
“Sean, selamatkan Evan bagaimana pun caranya” ujar Daniel, dia sangat berterima kasih ketika Evan dengan rela mau mengorbankan dirinya menyelamatkan Daniel dari tembakan Richard.
***
Aileen dan Oma Ayu baru saja sampai di rumah sakit di temani oleh Ifan adik Arinda, dia mendapat cuti beberapa hari oleh atasannya. Tidak berpikir panjang Ifan memilih mengunjungi kakaknya yang sudah sangat di rindukannya.
Beberapa menit sebelumnya...
Ifan baru saja sampai di depan gedung apartemen milik Daniel, melihat Aileen di bantu body guard terburu-buru memasukkan perlengkapan bayi ke bagasi mobil. Dia segera menghampiri Aileen tengah sibuk menyuruh body guard menyusun perlengkapan ke dalam mobil,
“Assalamualaikum My” sapa Ifan ramah segera dia menyalami Aileen dengan santun mencium punggung tangannya.
“Waalaikum salam.. Ifan” Aileen terkejut dan senang melihat Ifan.
__ADS_1
“Aileen apakah semuanya sudah beres?” tanya oma Ayu, Ifan segera menyapanya.
“oma” sapa Ifan ramah sambil menyalami dan mencium dengan santun punggung tangan Oma Ayu.
“ Ifan... bagaimana kabarmu?” Oma Ayu tersenyum senang.
“alhamdulillah Ifan baik Oma. O ya Mommy dan oma mau ke mana, kenapa kok terlihat panik? Mbak Arin ada di atas kan mom?” tanya Ifan.
“Sebaiknya kita ke rumah sakit saja Ifan, tadi Davira menghubungi mommy memberi tahu jika Arin akan melahirkan” ujar Aileen, dia tidak bisa menjelaskan kronologisnya pada Ifan di depan Oma Ayu.
Ifan sengaja tidak memberi tahu Arinda dengan kedatangannya karena ingin memberi kejutan, namun sekarang dia malah yang mendapat kejutan dari kakaknya. Tanpa pikir panjang Ifan memilih ikut bersama Aileen ke rumah Sakit.
Melihat kedatangan Ifan bersama Aileen dan oma Ayu membuat Arvin dan Ansel saling berpandangan, mereka bingung harus menjelaskan bagaimana kondisi Arinda di depan oma.
Mereka tidak ingin kondisi oma Ayu menjadi drop setelah mendengar bagaimana kondisi Arinda. Ifan dapat merasakan sesuatu yang mencurigakan, dia menatap ke arah Arvin dan Ansel terlihat sedikit gugup.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
maaf pada semua reader🙏🏻
🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...