Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 223


__ADS_3

Arinda sama sekali tidak ingin Daniel nantinya akan salah paham jika ada nomor pria asing di ponselnya terkecuali Maya sahabatnya.


“tapi...” Evan akan berbicara segera di potong langsung oleh Cantika.


“Maaf Van, segala sesuatu menyangkut acara pesta dan perubahannya anda dapat membicarakannya pada Saya. Dan sejauh ini rancangan Arinda tidak ada masalah apa pun, anda sudah mempercayakan acara pesta anda pada Pearl Stars. Tentunya kami akan memberikan yang terbaik” jelas Cantika tanpa bermaksud menyinggung Evan.


Merasa meeting mereka sudah selesai, Cantika dan Arinda mohon diri untuk kembali ke Pearl Stars. Evan berniat akan menghalangi mereka pergi, dia masih ingin berlama-lama dengan Arinda. Tapi dia tidak dapat mencegah mereka pergi karena sudah tidak ada lagi yang bisa menahan Cantika dan Arinda lebih lama.


Cantika dan Arinda melangkah keluar cafe, Cantika mengantarkan Arinda ke mobil miliknya dengan body guard yang berdiri di samping mobil miliknya.


“waaaah ada yang lagi manjain istrinya ni” goda Cantika saat melihat mobil baru Arinda. Dia menatap Arinda yang menghela nafas panjang,


“kenapa, Rin?”


“mbak kan tahu kalo Arin lebih suka make angkutan umum ato ojek online”


Cantika tidak habis pikir mendengar penuturan Arinda, kebanyakan perempuan tidak akan menyia-nyiakan fasilitas yang di berikan suami.


jarang ada istri seperti kamu Rin, tuan Daniel sangat beruntung milikin kamu Guman Cantika dalam hati.


“iya... tapi nggak ada salahnya kan kamu menikmati fasilitas yang di berikan suami kamu. Di nikmatin aja Rin”


“Arin lebih senang merakyat dari pada seperti ini mbak” keluh Arinda, para body guard yang menjaga Arinda semakin kagum dengan sifatnya.


Mereka merasa sangat beruntung mendapat pekerjaan menjaga Arinda, selama ini mereka ikut bekerja dengan Daniel. Walaupun mereka mendapat perlakuan baik dan manusiawi dari Daniel, namun sikap Daniel yang dingin terkadang membuat mereka tidak nyaman dan takut melakukan kesalahan.


Semenjak para body guard ini bertugas menjaga Arinda mereka merasa nyaman dan senang, membuat para body guard lain yng bekerja pada Daniel merasa iri.


Selamanya kami akan menjaga nona, walaupun nyawa taruhan kami guman para body guard itu dalam hati menatap Arinda yang masih berbicara dengan Cantika.


Setelah itu Arinda berpamitan dengan memeluk Cantika, lalu menghampiri mobil di mana salah satu dari body guard itu membuka pintu mobil untuk Arinda.


mereka masuk ke dalam mobil, body guard yang membawa mobil mengatur kaca spion lalu menghidupkan mesin mobil.


“maaf kalian berdua harus menunggu lama” Arinda duduk sambil memasang sabuk pengaman.


“tidak apa-apa nona, sudah pekerjaan kami. Sekarang anda mau kembali pent house atau ke kantor?”


“kita ke kantor Daniel” kata Arinda sambil memeriksa ponsel miliknya, membalas pesan dari Maya.

__ADS_1


“baik nona” body guard itu lalu melajukan mobil menuju perusahaan Arebeon. Setelah meeting tadi, entah mengapa Arinda sangat ini ke kantor Daniel dan menemuinya. Dia begitu merindukan Daniel yang baru beberapa jam saja tidak bertemu dengannya.


***


“apa pekerjaan semudah ini tidak bisa kalian kerjakan dengan Baik?” terdengar bentakan keras dari ruangan Daniel, sekretaris Daniel yang sedang mengetik di komputernya bergidik takut mendengar bentakan dari CEO terkenal kejam di dunia bisnis.


Para staff termasuk Ansel terkena Radiasi kemarahan Daniel yang semakin meningkat, para staff tampak menunduk ketakutan dengan tatapan intimidasi. Hanya beberapa kesalahan penulisan membuat Daniel naik darah dan emosi.


Di saat bersamaan, mobil Arinda memasuki pelataran perusahaan Daniel. Body guard yang duduk di samping kemudi turun lalu membuka pintu untuk Arinda,


“kalian bisa kembali lebih awal hari ini, aku akan kembali bersama Daniel hari ini. Kalian bawa saja mobilnya, Jangan lupa besok kita harus berangkat pagi”


“baiklah nona, kalau begitu kami permisi” para body guard yang menjaga Arinda melajukan mobil meninggalkan Arebeon.


Arinda melangkahkan kakinya masuk ke perusahaan Arebeon, melewati lobi di mana banyak karyawan Arebeon yang berlalu lalang. Mereka pun memberi hormat pada Arinda istri dari CEO mereka, dengan senyuman manis dan ramah Arinda membalas menyapa mereka.


Arinda akan menaiki lift karyawan langsung di cegah oleh receptionis yang langsung mengarahkannya ke lift khusus untuk CEO. Dia hanya bisa menghela nafas dengan perlakuan yang menurutnya berlebihan, pintu lift terbuka Arinda lalu masuk ke dalam lift menekan tombol menuju lantai teratas.


Daniel masih kesal, setiap laporan yang sudah berkali-kali di periksa oleh staffnya selalu di tolak atau di buang dari mejanya.


“apa begini laporan dari staff ahli, Ansel apa aku harus turun tangan untuk menjelaskan bagaimana membuat laporan keuangan?”


“siapa yang menyuruhmu mengambil laporan itu?” bentak Daniel kembali pada Ansel.


Para staff hanya terdiam menunduk menatapi lantai yang di pel hingga mengkilat, mereka merasa tidak enak hati pada Ansel. Karena kesalahan mereka, Ansel juga terkena ledakan amarah Daniel.


Ting....


Pintu lift terbuk, Arinda berjalan menuju ruang krja suaminya. Dia heran melihat sekretaris Daniel bekerja dengan wajah ketakutan,


“assalamualaikum” sapa Arinda pada sekretaris Daniel yang melihat ke arahnya.


“waalaikum salam... Dewi penyelamat....” Sekretaris Daniel segera menghampiri dan memegang tangan Arinda kebingungan.


“akhirnya nona, tolong selamatkan kami...” ujar sekretaris Daniel dengan tatapan mata memohon pada Arinda.


“memangnya ada apa?” tanya Arinda,


“semuanya tidak becus” bentakan Daniel kembali terdengar membuat Arinda yang mendengarnya juga ketakutan.

__ADS_1


“Daniel kenapa?” Tanya Arinda dengan wajah yang terlihat takut, sekretaris Daniel segera menjelaskan apa yang terjadi di perusahaan. Sekretaris itu memberitahu Arinda apa saja yang di ketahuinya,


“tolong kami nona...” sekretaris memegang tangan Arinda yang menghela nafas lalu melangkah menuju pintu ruang kerja Daniel.


Dia mengangkat tangan untuk mengetuk pintu ruang kerja Daniel dengan ragu-ragu, selama menikah tidak pernah sekali pun Arinda mendengar Daniel semarah seperti saat ini.


Dia mengumpulkan keberaniannya untuk mengetuk pintu, jantungnya berdebar-debar tidak karuan.


Tok... tok... tok...


“Masuk” Daniel merasa terganggu dengan ketukan di luar pintunya, berkata cukup keras membuat Arinda terkejut. Sekretaris Daniel memberi semangat dari belakang untuk Arinda, dengan memberanikan diri Arinda membuka pintu ruangan Daniel.


“assalamualaikum sayang” sapa Arinda dengan memunculkan kepalanya dari balik pintu. Dia bisa merasakan aura mencekam di dalam ruangan itu. Emosi Daniel yang belum stabil membuatnya diam dan menatap tajam ke arah Arinda yang mana membuatnya semakin takut.


“apa aku mengganggu?” tanya Arinda, Daniel hanya diam. Ansel dan para staff ikut menatap ke arah Arinda yang pelan-pelan membuka pintu masuk ke dalam ruangan suaminya.


“dewi penyelamat” guman Ansel dan para Staff dalam hati saat Arinda masuk ke ruangan Daniel. Dengan mengode mata Arinda menyuruh Ansel dan para Staff keluar dari ruangan, Daniel hanya diam menatap tajam ke arah mereka tanpa mengeluarkan suara apa pun.


“kalian keluar dari ruangan ini, kalian akan menerima akibatnya” begitulah kira-kira arti dari tatapan tajam Daniel pada Ansel dan Staff Arebeon.


Ansel dan para Staff kebingungan harus menuruti siapa, Ansel menatap ke arah bawahannya yang lebih cenderung memilih mematuhi Arinda.


“kami masih ingin hidup tuan Ansel” bisik para staff membuat Ansel sependapat dengan mereka. Dengan pelan-pelan mereka keluar dari ruangan Daniel meninggalkan Arinda menatap suaminya yang memilih mengabaikannya.


*************


secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...

__ADS_1


__ADS_2