Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 285


__ADS_3

Yuda segera melacak keberadaan alat lacak yang dulu sengaja di pasang Daniel dalam kalung berlian Arinda. Gerakan lihai jari jemari Yuda menari dengan lincah di atas keyboard laptop miliknya.


Daniel memperhatikan secara seksama layar laptop milik Yuda, begitu juga semua orang di dalam ruangan itu. Sebuah tanda merah muncul di layar laptop milik Yuda.


“bang alat lacak ini bergerak menuju ke arah barat Kota J” ujar Yuda, polisi segera bertindak cepat dengan memerintahkan personelnya untuk memantau lokasi yang di beritahu oleh Yuda. Daniel, Arvin, Ansel dan lainnya bergegas menuju mobil mereka.


Daniel membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, telinganya terpasang earphone yang terhubung langsung dengan Yuda. Michael berada di ruang CCTV terus memantau pergerakan alat lacak itu.


Darren ikut dengan mobil Daniel, dia tahu jika saat ini Daniel tidak bisa berpikir jernih. Dia tidak ingin terjadi apa pun dengan adiknya, duduk di samping Daniel yang melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Daniel sudah tidak bisa berpikir tenang, pikirannya terpusat pada Arinda dan baby mereka.


“Dan, jangan gegabah. Lu mau Arin sedih jika lu kenapa-napa?” Darren mengingatkan Daniel untuk membawa mobil tidak seperti kesetanan.


Ansel yang duduk di bangku belakang mengurut dadanya, merasa ngeri saat melihat Tuan mudanya membawa mobil seperti orang gila.


alhamdulillah.... untung saja ada tuan muda Darren yang mengingatkan tuan muad Daniel, kalau tidak mungkin kami sekarang sudah terbaring di rumah sakit saat ini guman Ansel mengucap syukur masih di berikan keselamatan oleh Allah SWT.


Daniel tersadar mendengar ucapan Darren, dia sedikit mengurangi kecepatannya. teringat olehnya jika dia masih membawa mobil dengan kecepatan tingggi dan mengalami kecelakaan , siapa yang akan menyelamatkan Arinda dan Baby mereka.


Astaghfirullah hal adzim.... guman Daniel dalam hati.


***


Arinda masih belum sadarkan diri, perlahan-lahan orang sewaan itu membaringkan tubuh Arinda di atas sebuah sofa panjang dalam sebuah gudang yang tidak terpakai. Dari balik kegelapan muncul pemimpin mereka dengan menggunakan topeng dan topi hitam, matanya menatap penuh kasih sayang pada Arinda yang tertidur dengan pulas.


Saat dalam mobil perempuan yang menyamar menjadi petugas kebersihan hotel tidak sengaja melihat kalung berlian di leher Arinda saat hijab panjangnya tersingkap beberapa saat. Diam-diam tanpa sepengetahuan kawanannya, perempuan itu mengambil kalung berlian milik Arinda dan menyembunyikannya dia dalam kantong celana yang di pakainya.


“akhirnya sayang, kita bisa bersatu kembali” ujar pemimpin itu, sebelah tangannya membelai lembut kepala Arinda yang tertutup hijab.


Para orang sewaan itu berkumpul menunggu tugas mereka selanjutnya,


“bos, semuanya sudah beres” ujar salah satu dari mereka. Pemimpin mereka menatap ke arah mereka dengan tersenyum smirk.


“pekerjaan kalian bagus, kalian ambil sisa uang kalian di meja sana. Gua juga sudah menyiapkan makanan untuk kalian santap, gua tau kalau kalian tentunya belum sempat makan sama sekali” pemimpin itu menunjuk ke arah meja yang sudah terhidang beberapa makanan juga segepok uang.


“waaah, terima kasih bos, tau aja kalo kita-kita belon pada makan” ujar mereka senang. Mereka semua memakan makanan yang sudah di siapkan dengan sangat lahap, sedangkan pemimpin mereka menatap Arinda dengan penuh cinta.


Dengan hati-hati dia mengangkat tubuh Arinda yang hamil tua, tidak ada tampak rasa kepayahan atau kesusahan saat mengangkat tubuh Arinda. Walaupun hamil kembar, tubuh Arinda masih di batas normal, pria bertopeng itu membopong tubuh Arinda. Membawanya dengan hati-hati seolah-olah benda berkelas tinggi yang perlu di jaga dengan sangat ekstra.


Pria bertopeng itu merebahkan tubuh Arinda di bangku belakang mobil miliknya, di selimuti dengan selimut lembut menutupi hingga kepalanya. Sengaja dia lakukan untuk menghindari kecurigaan siapa pun, dia juga meletakkan beberapa barang di lantai mobil. Menumpuknya hingga menutupi tubuh Arinda, kamuflase yang di buat untuk menghindari kecurigaan siapa pun.

__ADS_1


Mata pria bertopeng itu menatap ke arah orang sewaan yang masih menikmati makanan dengan lahap,


“bos, kalo ada pekerjaan lain lagi hubungi kami lagi” ujar salah seorang dari mereka sambil menggigiti ayam goreng.


Pria bertopeng itu hanya tersenyum smirk, mendadak satu persatu dari kawanan itu tumbang. Mulut mereka di penuhi busa dan dari mata mereka mengalir darah segar.


“breng... breng**k apa.... yang...lu...” orang sewaan itu di nafas terakhir menggapai ke arah pria bertopeng menatap dingin.


Pria bertopeng itu mengambil uang yang tergeletak di atas meja, melangkah pergi meninggalkan orang sewaan itu dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa.


Samar-samar dia mendengar dari kejauhan suara sirene mobil yang mendekat ke arah lokasi gudang itu.


“breng**k, bagaimana bisa mereka tahu secepat ini? Gua harus pergi bersama Arinda sekarang juga” pria bertopeng itu segera masuk ke dalam mobil, mengendarai mobil itu membelah jalanan gelap semak belukar menuju ke arah hutan.


Tidak berapa menit setelah mobil itu menghilang di kegelapan jalan, mobil Daniel, Arvin dan mobil kepolisian datang di lokasi di mana alat lacak itu terdeteksi. Daniel turun dengan terburu-buru, masuk ke dalam gudang yang tidak terpakai itu.


“Arin... Arinda.... Ariin” panggil Daniel mencari istrinya di setiap sudut gudang. Namun hasilnya nihil, mereka hanya menemukan pelaku yang telah menculik Arinda dalam keadaan tidak bernyawa.


Daniel menghubungi Yuda, memintanya memeriksa lokasi alat lacak Arinda.


“ bagaimana Yud?” tanya Daniel.


Daniel melihat ke arah beberapa jenazah yang sedang di angkat polisi untuk di masukkan ke dalam kantong mayat. Pihak polisi akan mengautopsi jenazah itu, mata elang Daniel melihat ada sebuah benda berkilauan yang jatuh dari kantung salah seorang jenazah itu.


Dia mengulurkan tangannya meraih benda yang terjatuh itu.


Kalung Arinda guman Daniel dengan wajah teramat sedih. Dia merasa sangat gagal menjaga istri dan baby mereka,


“Dan,” Darren memegang pundak Daniel. Arvin dan beberapa polisi menyelidiki lokasi sekitar,


“Komandan” teriak salah seorang polisi pada komandannya.


“ ada apa?” komandan dan Arvin menghampiri polisi itu.


“ ada jejak mobil yang mengarah ke sana” lapor polisi itu.


“segera kalian telusuri jalan itu” perintah komandan polisi pada anak buahnya. Beberapa mobil polisi lalu menelusuri jalan yang sempat di lalui oleh pria bertopeng itu.


Arvin segera memberi tahu Daniel tentang apa yang di temukannya,

__ADS_1


“Dan, polisi menemukan jejak mobil yang menuju ke arah hutan. Kemungkinan mobil itu membawa Arinda” ujar Arvin, mendengar hal itu Daniel segera melangkah menuju mobilnya untuk ikut menyusul.


“kak, aku dan Arvin akan menyusul polisi” ujar Daniel masuk ke dalam mobilnya.


“kamu pergilah, biar yang di sini aku dan Ansel yang menghandlenya. Jika ada kabar segera beri tahu” ujar Darren.


“ baik, kak” Daniel segera mengendarai mobilnya menyusuri jalanan di lalui mobil yang membawa Arinda. Darren dan Ansel mengikuti polisi kembali masuk ke dalam gudang memeriksa sekitar gudang itu.


“Sel hubungi Sean untuk segera mengautopsi jenazah para penjahat itu dan body guard yang menjaga Arinda. Berikan penguburan yang layak untuk para body guard itu juga beri santunan lebih pada keluarga mereka” perintah Darren, setelah polisi selesai mengangkut para jenazah penjahat itu.


“baik tuan Muda” Ansel meraih ponsel miliknya mencari nomor Sean di daftar kontak.


***


Kamar pengantin yang di hiasi dengan kelopak bunga mawar, di terangi cahaya lilin dan lampu temaram kamar. Sean menatap Davira yang membelakanginya, kini perempuan yang selalu hadir dalam mimpi sudah sah menjadi istrinya. Davira melipat mukena yang di pakainya, Mereka baru saja menyelesaikan sholat sunnah.


“sayang, aku sangat bahagia. Akhirnya kita sudah sah menjadi suami istri” Sean memeluk Davira dari belakang, rasa senang dan bahagia jelas terlihat di wajah pengantin baru itu.


“Vira, juga sangat bahagia. Terima kasih kak Sean mau menunggu Vira dengan sabar mewujudkan mimpi Vira” Davira membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Sean.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


maaf pada semua reader🙏🏻


🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2