Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 261


__ADS_3

Aisyah begitu takjub dan terpesona dengan Arvin, dia berhasil membacakan surat Ar Rahman tanpa melihat Al Quran dan tanpa ada kesalahan. Uminya Aisyah tersenyum saat melihat putrinya terpesona dengan pemuda yang sebentar lagi akan menjadi imam dalam rumah tangganya. Wajahnya merona saat umi Aisyah memergoki dirinya yang terpesona dengan Arvin.


Semua yang hadir dalam mesjid itu serempak mengucapkan hamdalah, Arvin menyudahi membaca surat dalam Al Quran yang di pinta Aisyah sebagai maharnya. Setelah itu penghulu pun meminta Abinya Aisyah untuk menjabat tangan Arvin dan mereka memulai prosesi ijab kabul.


Aisyah tampak sangat gugup dan khawatir, tidak henti-hentinya dia berdoa dalam hati untuk di beri kemudahan dan kelancaran dalam proses ijab kabul yang tengah berlangsung.


Hanya dalam satu tarikan nafas, Arvin menyelesaikan ijab kabul yang langsung di tandai dengan kata sah dari para saksi yang di tunjuk. Aisyah tampak senang dan tersenyum bahagia dia langsung bersujud syukur pada maha Kuasa, lalu dia memeluk tubuh uminya senang akan kebahagiaan putrinya.


Penghulu dan petugas pemerintah meminta Aisyah hadir di mesjid untuk menanda tangani beberapa dokumen surat. Abinya Aisyah mengutus beberapa Santriwati untuk menjemput,


“sebentar...” panggil Arinda menghentikan beberapa Santriwati utusan abi Aisyah. Daniel menatap istrinya,


“sayang.... aku ikut mereka menjemput Aisyah, bolehkan?” tanya Arinda pada Daniel.


“boleh sayang, kamu hati-hati ya” ujar Daniel membantu istrinya untuk berdiri. Arinda pun mengikuti santriwati menuju rumah Aisyah yang berjarak beberapa langkah.


“Assalamualaikum” Arinda dan santriwati mengucapkan salam di luar pintu rumah.


“waalaikumsalam” terdengar jawaban salam dari dalam rumah sedehana itu. Uminya Aisyah keluar menyambut kedatangan Arinda dan beberapa Santriwati.


“ ini pasti nak Arinda” sapa uminya Aisyah dengan ramah. Arinda menatap bingung perempuan paruh baya menyapanya dengan ramah,


Arinda termenung, dia merasa sangat familiar mendengar suara perempuan paruh baya berdiri di depannya. Dia pun ingat suara itu adalah suara uminya Aisyah pernah sempat berbicara dengannya melalui telepon.


“Umi...” Arinda menyapa Umi Aisyah dengan ramah, mencium punggung tangannya dengan santun. Di saat bersamaan Aisyah keluar dari kamar menghampiri Uminya yang berdiri di depan pintu.


“mbak Arin...” sapa Aisyah langsung memeluk Arinda,


“Aisyah.... selamat ya Syah, semoga pernikahan mu samawa ” ujar Arinda sambil memeluk Aisyah.


“makasih mbak” kata Aisyah kembali memeluk Arinda.


“nyai, mbak Aisyah sudah di tunggu pak kiai dan lainnya di mesjid” ujar Santriwati mengingatkan.

__ADS_1


Mereka lalu bersama-sama kembali ke mesjid di mana semua orang sudah menunggu, mata Arvin terpesona saat melihat Aisyah calon (opss salah maksud Author istri sahnya Arvin maaf ya babang Arvin. Peace...)


Aisyah masuk melangkah mendekati meja di mana Arvin, penghulu dan abinya duduk menunggu. Dia di antar oleh santriwati dan di dudukkan di samping Arvin yang masih menatapnya takjub.


Ansel menggeplak bahu Arvin menyadarkannya dari rasa terpesonanya.


“sakit Sel, senang banget lu geplakin gua” protes Arvin membuat penghulu, Abinya Aisyah dan petugas pemerintah menatap ke arahnya.


“biasa saja melihatnya, kamu dan Aisyah sudah halal tentunya bisa saling menatap juga berbuat apa pun yang kamu mau. Tapi sebelumnya kamu tanda tangani dulu ini surat-surat biar cepat selesai, petugas capil sudah dari tadi tunggu kamu untuk tanda tangan” jelas Ansel panjang lebar membuat semua orang tersenyum dengan tingkah Arvin yang hanya cengengesan.


“Hehehehe, maaf pak” ujar Arvin cengengesan, langsung di sambut senyuman dan tawa dari mereka.


Setelah menanda tangani dokumen, buku nikah pun sudah di kantongi oleh Arvin dan Aisyah. Fotografer pun mengabadikan setiap momen, Arvin menyematkan cincin pernikahan di jari manis Aisyah. Punggung tangan Arvin di cium dengan santun oleh Aisyah, sebelah tangan Arvin membelai lembut kepala perempuan yang kini telah sah menjadi istrinya.


Arinda lalu meminta para body guard serta Riko dan Ziko memberikan hadiah seserahan yang sudah mereka persiapkan. Semua mata para keluarga besar Aisyah menatap takjub dengan apa yang di hadiahi Arvin.


“ wah... Hadiah-hadiahnya berkelas semua, aku yakin harganya pasti mahal”


“padahal dia kan dia perempuan yang nggak benar, gi mana bisa dapat suami yang tajir melintir begini”


Terdengar komentar-komentar negatif dan positif dari perempuan yang seumuran dengan Aisyah. Mereka sangat iri dan syirik melihat kebahagiaannya, mereka menampilkan senyuman munafik pada Aisyah dan keluarganya. Tapi saat di belakang mereka hujatan pedas dan makian mereka lontarkan.


Abi dan umi Aisyah mengundang Daniel dan rombongan untuk menikmati suguhan yang sudah di persiapkan oleh mereka. Arvin sudah mulai bernafas lega, perasaan gugupnya sudah menghilang begitu saja saat dia sudah menyelesaikan ijab kabul.


Arvin tengah duduk bersama Ansel, Arinda dan Daniel, dia membuka beberapa kancing kemeja dan menaikkan lengan panjang kemejanya hingga lengan. Jas miliknya terlampir di sandaran bangku yang di dudukinya,


“Haaa.... Akhirnya selesai juga” Arvin merasa sangat lega.


“Selamat ya Vin , semoga pernikahan mu dan Aisyah Samawa juga langgeng” ujar Arinda mengulurkan tangannya mengucapkan selamat. Saat Arvin akan membalas salaman Arinda dengan sigap Daniel mendahuluinya.


“woi Dan, gua kan mau salaman ama Arin. Kenapa malah lu sih?” protes Arvin kesal. Daniel hanya cuek dan merangkul pinggang istrinya yang duduk di sampingnya, Arinda hanya tersenyum menatap tingkah laku daddy dari babynya.


Ponsel Ansel berdering segera di angkatnya setelah dia menatap layar ponselnya tertulis nama Diana sekretaris Daniel.

__ADS_1


Aisyah akhirnya bisa terbebas dari para kerabat keluarganya yang kebanyakan bertanya tentang Daniel dan Ansel. Dia pun mengatakan apa adanya membuat para kerabat keluarganya tidak berpuas hati.


Segera Aisyah mencari alasan agar bisa lepas dari kerabat yang mempunyai niat tidak baik, umi Aisyah baru saja keluar membawakan minuman dingin yang akan di bagikan pada para tamu. Dengan sigap Aisyah meraih nampan di tangan uminya,


“umi biar Aisyah saja yang mengantar minuman ini untuk Abang Arvin dan yang lainnya” ujar Aisyah sudah melangkah lebih dulu menghampiri suami dan sahabatnya.


Kerabat keluarga yang belum berpuas diri hendak menahan Aisyah hanya bisa gigit jari saat dia sudah pergi menjauh.


“gagal deh nyari info tentang cowok ganteng itu”


“aku harus bisa mencari informasi tentang dua cowok ganteng itu”


“eh... eh... tapi lihat deh cowok ganteng itu kelihatannya sayang banget sama cewek yang lagi hamil itu. Apa itu istrinya?”


Umi Aisyah yang mendengar ghibahan para kerabat keluarganya langsung menjawab pertanyaan mereka.


“iya... perempuan di samping pemuda itu yang tengah hamil memang istrinya. Lebih baik kalian semua bantu di belakang, banyak pekerjaan yang harus di selesaikan”


Diam dan hening, itulah kini terasa di antara para kerabat yang sempat meributkan tentang Daniel dan Ansel. Umi Aisyah pun mengajak mereka ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan yang sangat banyak.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2