
Cantika duduk di samping kanan Maya segera menyenggol tangan May lalu berbisik di telinganya,
“May, tangan kamu....” ujar Cantika memperingati Maya jika Daniel dalam mode kesal.
“isshh my idol, jangan cembokur. Tenang aja hati dan cinta akika masih utuh buat my idol. Tinta tergantikan” ujar maya dengan pede membuat para pria yang duduk bersama mereka merinding disko. Cantika mengeleng-gelengkan kepalanya, menarik perlahan tangan maya dari perut istri Daniel.
Arinda hanya tersenyum manis, memegang tangan Daniel menatap penuh cinta. Hawa dingin berubah menghangat, laksana pergantian musim.
“perkiraan sih, seminggu lagi. Tapi dokter bilang bisa cepat atau lambat dari perkiraan” jelas Arinda. Mereka tengah asyik berbincang-bincang, mata Arvin melihat ke arah seorang pria yang tengah menyalami Sean dan Davira. Sean tengah berbicara sebentar sambil menunjuk ke meja mereka.
“Dan...” Arvin mengode dengan matanya pada Daniel, mata elang itu menatap ke arah Evan yang datang menghampiri mereka.
Senyuman ramah dan hangat tergambar di wajah tampan Evan. Kaum hawa semakin histeris saat melihat para pria tampan berkumpul dan duduk di satu meja.
“ hai semua” sapa Evan dengan ramah.
“ OMG... Ada lekong tampan. Hi... Kenalin akika Maya” ujar Maya memperkenalkan dirinya pada Evan. Daniel memasang sikap siaga dan protektif di samping Arinda yang tersenyum melihat tingkah suaminya. Tangannya memegang tangan dan membelai lembut tangan suaminya, senyuman manis tergambar di wajah cantik Arinda.
Evan termenung saat melihat Maya dengan gaya centilnya,
“tenang bro, chasingnya aja tu makhluk macho. Tapi hatinya hello kitty, apa kabar lu bro?” Arvin berdiri menghampiri Evan berjabat tangan dan berpelukan ala pria.
"isss si babang Arvin, emang akika sejenis jin di bilangin makhluk gitu" protes Maya membuat semua yang mendengar tertawa senang.
Arinda memberi isyarat untuk Daniel menyapa Evan, dengan berat hati Daniel menyapa Evan.
“hi Van, thanks sudah mau datang” ujar Daniel menjabat tangan Evan. Arvin pun merangkul kedua pundak sahabatnya, mencairkan suasana yang sempat canggung dan dingin.
“hi Rin,” sapa Evan melihat Arinda yang duduk di samping Cantika. Dia terpesona saat melihat penampilan baru Arinda, matanya juga melihat ke arah perutnya yang membesar.
“hi Van” senyum ramah menyapa kembali Evan.
“Rin.... akuuu....” Evan terlihat ragu-ragu akan berbicara, Arinda mengerti dengan apa yang akan di katakan Evan.
“sudahlah Van, tidak usah di ungkit lagi. Semua sudah berlalu, ” ujar Arinda tersenyum hangat, Membuat semua para adam yang menatapnya terpesona. Daniel kembali duduk di samping Arinda, menggenggam tangan istrinya dengan posesif.
“issh si ganteng, akika udah ngenalin diri malah di kacangin” Maya dengan genit menggoda Evan yang hanya tersenyum canggung.
“May...” Cantika memanggil nama Maya dengan penuh tekanan.
“isssh Tika gangguin aja, mumpung lekong akika gi sibuk, cuci mata dikit boleh dong” Maya menatap Evan dengan mengedipkan sebelah matanya. bulu kuduk Eavan seketika merinding melihat tingkah ajaib Maya, dia tersenyum canggung pada Maya yang masih menggodanya.
__ADS_1
Cantika dan Arinda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat Maya yang menebarkan pesonanya.
“ o ya bro kenalin, bini gua. Aisyah” Arvin mengalihkan pembicaraan dengan memperkenalkan istrinya pada Evan.
Tangan Evan terulur untuk berjabat tangan dengan Aisyah, dengan sopan Aisyah mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum ramah. Walaupun berbeda agama, Evan mengerti dengan maksud dari Aisyah. Dia menghargai apa yang di lakukan Aisyah dan melakukan hal yang sama persis.
"sorry Vin, waktu pesta pernikahan lu gua kagak bisa datang. begitu banyak pekerjaan di AM yang musti gua handle langsung. walau terlambat gua ucapkan selamat menempuh hidup baru" ujar Evan duduk di samping Daniel.
"thanks bro, gua ngerti dengan kndisi lu. Lagian saat acara pesta Sean udah ngasih tahu kalo lu kagak bisa datang" ujar Arvin maklum.
“selamat Dan, sebentar lagi akan ada yang memanggil lu Daddy. Kapan perkiraan kelahiran baby kalian?” Evan mengucapkan selamat dengan tulus pada Daniel.
“menurut perkiraan dokter, seminggu lagi” Arinda akan menjawab pertanyaan Evan terdiam saat Daniel langsung memotong dan menjawab pertanyaan Evan. Semua hanya bisa tersenyum canggung, mereka tahu jika saat ini Daniel mode jealous.
“Nyantai bro.... nggak usah tegang dan posesif gitu. Kagak bakalan ada yang berani deketin ato gangguin si Arin, penjaganya aja Raja iblis ” Arvin dengan santai meminum air mineral miliknya. Kilatan mata intimidasi menatap ke arah Arvin membuatnya merinding disko.
“sepertinya, kerja sama dengan proyek terbaru tidak perlu ada lagi pembicaraan” Daniel menyindir Arvin dengan telak. kerja sama yang di ajukan Arvin dengan mengikut sertakan beberapa perusahaan terkenal di bidangnya dengan biaya yang tidak sedikit.
Dia berharap kerja sama dengan Daniel dapat membantu mempermudah dan memperlancar kerja sama itu.
“ ya ya Dan.... jangan gitu dong. Ntu kolega dari JP berharap sangat lu juga bisa join. Kalo lu kagak ikutan bisa gagal nih kerja sama...” segala upaya di lakukan Arvin untuk menenangkan Daniel.
Arvin juga mengacungkan dua jari ke arah sahabatnya dengan mengucapkan kata ‘peace’ berulang kali, Daniel cuek dan lebih memilih mengalihkan pandangannya menatap wajah Arinda yang sudah mulai tampak kelelahan.
“ tapi sayang, nggak enak juga aku nya ninggalin kamu sendirian di sini” ujar Arinda yang tidak ingin meninggalkan suaminya.
“ada Ansel dan yang lainnya di sini, sayang. Sebaiknya kamu istirahat ya, kasihan baby kita sudah ke capekan juga” ajak Daniel dengan menggandeng tangan istrinya.
Merasa di kacangi Arvin pun memulai jurusnya dengan mengandalkan Arinda,
“ Rin, tolong batuin gua. Bujukin tu laki” Arvin dengan pede meminta bantuan. Daniel kembali melayangkan tatapan penuh amarah. Arinda merasa terenyuh dengan bujuk rayuan Arvin, dia pun dengan senang hati membantu.
“sayaang....” Arinda memeluk lengan Daniel dengan tatapan penuh rayuan dan bujukan. Melihat kedua mata indah istrinya membuat Daniel hanya menghela nafas panjang,
“berikan proposalnya pada Ansel, kami akan pelajari terlebih dahulu” ujar Daniel berlalu pergi sambil menggenggam tangan Arinda. Dengan senang hati istrinya menuruti perkataan Daniel,
“hufff untung ada si Arin” Arvin menghela nafas lega.
“ emang kerja sama apa bang?” tanya Aisyah penasaran.
“ kerja sama di bidang pembuatan aplikasi dan komunikasi terbaru yang akan segera kami luncurkan” ujar Ansel memotong pembicaraan Arvin yang akan menjelaskan.
__ADS_1
“ aplikasi yang baru-baru ini trending?” tanya Evan merasa tertarik.
“hmmm hmmm, kolega dari JP itu minta kalo kerja sama dengan perusahaan Arebeon corp. Apa lagi perusahaan Daniel sebentar lagi akan meluncurkan ponsel terbaru, kesempatan bagus untuk mempromosikan aplikasi yang akan kerja sama ini” jelas Arvin.
“jangan lupa proposalnya” ujar Ansel mengingatkan Arvin.
Sepeninggal Daniel dan Arinda, Arvin cs terlibat dalam pembicaraan serius. Pembicaraan itu juga di selingi candaan untuk mengurangi kebosanan.
Arinda dan Daniel berjalan beriringan melewati Ballroom hotel milik Arsenio. Saat hendak akan melangkah keluar dari pintu, langkah mereka terhenti saat ada seseorang yang memanggil Daniel.
"tuan Daniel” sapa seorang pria setengah baya yang merupakan kolega bisnis keluarga Arsenio.
“tuan Jovich” Daniel menyapa sambil berjabat tangan, Arinda tahu jika saat ini kolega bisnis Daniel ingin membicarakan masalah penting.
“sayang, aku akan ke kamar oma. Kamu temani saja dulu para tamu di sini” ujar Arinda tersenyum ramah pada kolega bisnis Daniel.
“ baiklah sayang, aku akan menyuruh body guard untuk menemani kamu ke kamar oma” Daniel memanggil body guard yang selalu menjaga Arinda. Dia semakin memperketat penjagaan di sekitar Arinda semenjak ada yang mencoba mencari masalah dengannya.
“baiklah sayang” Arinda sudah terlalu lelah dan sangat malas untuk berdebat dengan Daniel. Dia berjalan dengan pengawalan yang sangat ketat menuju lift khusus, membawa mereka ke president's suit room hotel di mana oma Ayu beristirahat di temani Amanda, Darren dan putri kecil mereka.
Pintu lift terbuka, dengan penuh kehati-hatian body guard membantu Arinda masuk ke dalam lift. Mendadak lift berhenti di lantai tiga, membuat para body guard dan Arinda keheranan.
Pintu lift dalam keadaan masih tertutup, salah seorang body guard berinisiatif menekan tombol darurat untuk meminta bantuan. Mendadak dari sudut lift keluar asap, membuat Arinda semakin panik.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
maaf pada semua reader🙏🏻
🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...