Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 38


__ADS_3

Pintu lift terbuka Ansel, Cantika dan Arinda keluar dari dalam lift.


“Sampai di sini saja tuan Ansel. Terima kasih sudah mengantar kami” kata Cantika menganggukkan kepalanya pada Ansel. Belum sempat Ansel berbicara, cantika segera melangkah pergi meninggalkan Ansel yang terus melihat punggung Cantika.


Arinda tersenyum pada Ansel, lalu berlari mengejar Cantika yang sudah menunggunya di pintu masuk loby.


Petugas valet datang dengan mobil Cantika, setelah mengucapkan terima kasih Cantika dan Arinda menaiki mobil untuk kembali ke kantor Pearl Stars.


Perjalanan Cantika dan Arinda sedikit terhambat karena macet. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore yang menandakan jam pulang karyawan perusahaan swasta atau pun karyawan pemerintah.


“Rin...” Cantika memanggil Arinda duduk di sampingnya


“iya mbak”


“Rin, bukannya mbak kepo ato gimana. Sebenarnya kamu dan tuan Daniel ada hubungan apa? Sepertinya kamu kenal dekat dengan dia” tanya Cantika memecahkan keheningan dan kebosanan melihat jalanan yang terkena macet.


Arinda menghela nafas berat


“Huh....sebenarnya...” Arinda menceritakan kejadian saat dia pertama kali bertemu dengan Ansel dan Daniel. Tidak ada yang di tutupi oleh Arinda, dia menceritakan dari awal hingga akhir apa yang telah terjadi antara dia dan Daniel.


“Jadi...kamu menyiram wajah tuan Daniel begitu saja? Trus nenek itu bagaimana?”


“Aku juga nggak tau kalo dia adalah tuan Daniel, semuanya terjadi begitu saja. Aku baru tau kalo cowok itu tuan muda Daniel Arsenio hari ini mbak, saat bertemu dengan tuan Ansel tadi. Kalo soal nenek itu, Arin juga nggak tau mbak. Nenek itu menghilang saat Arin sedang bertengkar ama tuan Daniel”


“Jadi karena itu kamu bersikap spontan seperti tadi?”


“iya mbak” Arinda menggigit bibir bawahnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Arinda menggigit bibir saat dia merasa gugup.


“Huh....kita masih bisa bersyukur sekarang karena tuan muda Daniel tidak membatalkan kesepakatan kita”


“Itu juga yang aku kuatirin mbak, awalnya aku berpikir kalo Tuan Daniel bakalan batal pake jasa Eo kita mbak. Aku pasti akan merasa sangat bersalah karenanya, kalo sampai tuan Daniel beneran membatalkan pake jasa Eo kita mbak ”


“Udahlah Ri , yang penting sekarang Tuan Daniel udah setuju buat make jasa Eo Pearl Stars. Kita harus menujukkan dan membuktikan kinerja kita semaksimal mungkin”


“ Beres itu mbak”


“O ya.... Kamu mau balik ke kantor ato langsung pulang? Kalo mo balik pulang biar mbak antar kamu ke kos-kosan kamu”


“Arin langsung pulang aja mbak, udah pada lengket ni badan. Makasih ya mbak udah mau ngantarin”


"kamu jangan sungkan gitu dong, Rin. Aku udah anggap kamu kayak adikku sendiri. jadi aku nggak mau dengar kamu bila makasih lagi. oke"


"Iya mbakku" kata Arinda.

__ADS_1


Arinda menatap pemandangan di luar kaca mobil Cantika


"O ya mbak, tadi kenapa mbak megangin dada mbak? mbak sakit ya?" tanya polos Arinda.


"oh...sekarang udah nggak pa-pa, Rin. Mungkin karena belom isi perut, jadinya dadaku berdebar-debar gitu" kata Cantika.


"kalo gitu, sebelum pulang gimana kalo kita makan malam dulu mbak. biar mbak bisa istirahat langsung ntar di apartement mbak" saran Arinda


"ide bagus tu, kita makan di K*C di depan sana aja ya Rin, sambil nunggu ni jalan kurang macet nya"


"oke deh mbak"


Mereka memasuki restoran cepat saji dan memesan menu yang mereka inginkan. Setelah menghabiskan makanan mereka, Cantika dan Arinda kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka.


Setelah menempuh perjalanan dengan kemacetan yang panjang, akhirnya Cantika dan Arinda sampai di kos-kosan Arinda.


Setelah mengucapkan terima kasih pada Cantika, Arinda masuk kedalam kamar kosnya.


Selesai menyegarkan tubuhnya dan menunaikan kewajibannya, Arinda merebahkan tubuhnya yang lelah ke tempat tidur. Matanya tidak dapat terpejam, tangannya memegang pipinya. Bekas kecupan itu masih saja terasa oleh Arinda.


“Aargggh.....kenapa sih gue masih kepikiran ama tu cowok...dasar cowok rese” Arinda membenamkan wajahnya ke bantal, mencoba untuk melupakan pria yang telah mencium pipinya.


Di kamar Daniel sedang tiduran di kamar, dalam benaknya terbayang wajah cantik Arinda. Dia duduk menyandar di atas tempat tidurnya, tangannya terlipat di belakang kepalanya.


“kenapa bayangan gadis itu tidak bisa hilang dalam pikiranku?” daniel menatap ke arah langit kamarnya.


“Ada apa dengan jantungku ini? Apakah aku perlu memeriksakan diriku pada Sean?” guman Daniel dengan sebelah tangannya memegang dadanya.


Arinda...


Daniel menyebut nama Arinda dalam hatinya. Dia pun memejam matanya memasuki alam mimpi yang indah.


***


Mentari pagi muncul mengawali hari dengan sinarannya yang hangat. Alarm dari ponsel Arinda sudah berbunyi setengah jam yang lalu. Mata Arinda begitu berat untuk di buka, mau tidak mau Arinda bangkit dari kasurnya dan pergi mandi untuk menyegarkan diri.


Aduh....perut kenapa nggak nyaman ya? Arinda merasakan perutnya tidak nyaman dan terasa nyeri.


Arinda segera masuk ke dalam kamar mandinya, satu persatu pakaian yang melekat pada tubuhnya di buka.


Pantesan aja nyeri.... Udah waktunya tanggal merah rupanya mata Arinda menatap celana tidurnya yang sudah terkena bercak merah darah.


Arinda bersiap-siap berangkat bekerja, setelah sarapan dia bergegas menuju halte bus. Seperti biasa Arinda tampil elegan dan menawan, banyak pasang mata yang menatapnya kagum dan ada pula yang iri.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju kantor Arinda terus menerus menguap karena masih ngantuk. Bus berhenti di halte seberang kantor Pearl Stars. Arinda bergegas turun dan menyeberangi jalan menuju kantornya.


“pagi mbak Arinda” sapa pak Usep satpam kantor Pearl Stars.


“Pagi juga pak Usep...hoaam” sapa Arinda sambil menutup mulutnya yang menguap.


”loh pagi-pagi udah ngantuk aja, semalaman bergadang ya mbak?" Tanya pak Usep.


“Nggak pak Usep. Semalam nggak bisa tidur aja, masuk dulu ya pak” Arinda masuk kedalam kantor.


“Iya mbak, lebih baik cepat mbak minum kopi biar segaran” saran pak Usep.


“Iya pak, makasih”


Arinda berjalan melewati lobi kantor menuju ruangannya di lantai dua. Sesekali Arinda menutup mulutnya karena masih mengantuk.


Maya tampak melihat-lihat buku contoh yang berisi potongan kain untuk membuat gaun pesanan klien.


“Pagi may...” sapa Arinda dengan lesunya.


“Pagi ju...ga” heran melihat lingkar garis hitam di bawah mata Arinda.


“aaaaah...wajah kamu kenapa kayak panda gini?”teriak histeris maya.


“aduuh nyantai dong may, tadi malam Nggak bisa tidur gue”


“Kok bisa?”


“jangan tanya dulu deh, mbak Cantika udah datang blom?” arinda melangkahkan kakinya ke arah pantry.


“eits....lu mau kemana?”


“mau ke pantry gue, mo bikin kopi”


“Ntar aja, sekarang lu rebahan di sofa”


“mo ngapain sih may?”


“Udah lu rebahan sekarang” perintah Maya lalu mengambil plastik yang berisi maskeran. Maya memasangkan ke wajah Arinda dengan rapi.


*************


terus dukung Author

__ADS_1


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊


( Π_Π )


__ADS_2