Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 305


__ADS_3

Aileen pun menatap Michael yang menggendong baby twins girls, ternyata Michael sudah memberikannya pada oma Ayu untuk menggendongnya. Wajah Oma Ayu tampak berseri memancarkan kebahagiaan melihat para cicitnya.


Wajah Aileen mulai cemberut, matanya kini menangkap sosok Daniel yang tengah menggendong baby twins boy lainnya. Aileen tersenyum lebar berharap Daniel yang sempat melihat ke arahnya akan memberi kesempatan untuknya menggendong salah satu cucu kembar.


Namun baby twins di gendongan Daniel sudah di kuasai lebih dulu oleh Ifan, Ansel, Cantika, Maya, Aisyah dan Arvin. Mereka terlihat sangat antusias dengan baby twins boys, sesekali mereka tertawa melihat bahagia melihat tingkah lucu baby twins.


“isssh.... Kenapa sih semuanya pada sentimen dengan mommy? Nggak ngasih kesempatan buat mommy....” Aileen mengungkapkan kekesalannya dengan suara cukup keras.


Membuat para ketiga baby twins yang tengah terlelap tersentak dan serentak menangis, Arinda yang tengah tertidur lelap juga ikut terbangun mendengar suara Aileen dan tangisan baby twins. Daniel dan lainnya pun berusaha untuk menenangkan ketiga baby twins.


“mommy...” panggil Arinda menatap ke arah Aileen.


“sayang... Maaf kamu ke bangun ya” Aileen merasa bersalah mendekat ke arah Arinda yang termenung saat melihat Daniel tampak berusaha menenangkan tangisan baby mereka.


Wajahnya berseri-seri bahagia, senyuman manis terlukis di wajah cantiknya saat melihat ketiga baby Twins. Dia menatap satu persatu baby kembar di gendong Amanda, Oma Ayu dan suaminya.


Daniel mengerti jika saat ini Arinda sangat ingin bertemu dengan ketiga buah hati mereka, Michael, Amanda dan Daniel lalu melangkah mendekat ke arah tempat tidur Arinda. Ketiga baby twins itu masih menangis, membuat Arinda ingin segera menggendong mereka untuk menenangkan. Saat dia mencoba mengulurkan tangan kanannya, rasa sakit segera mendera bahunya. Gerakan Arinda menjadi terbatas akibat luka tembak itu, terkadang dia harus mencari posisi yang baik agar rasa sakit di bahu dan perutnya berkurang.


“aduuhh.... Sssshhh” Arinda meringis kesakitan, namun dia berusaha menahan rasa sakit itu.


“Sayang... Kamu belum begitu kuat untuk menggendong mereka. Jangan memaksakan diri dulu” ujar Aileen khawatir, tangan Arinda yang sempat terulur perlahan-lahan turun. Matanya terus menatap ke arah baby twins wajahnya terlihat sedih, mereka begitu dekat namun terasa sangat jauh bagi Arinda.


Aileen tidak tega melihat wajah sedih menantunya, namun jika menuruti keinginan Arinda akan membuat lukanya kembali terbuka. Dia tidak ingin mengambil resiko di mana nantinya nyawa Arinda bisa terancam lagi.


Arinda sangat ingin menggendong baby twins memeluk dan mencium bau harumnya. Tapi semua itu harus di tahan karena kondisi tubuh masih begitu lemah, Arinda tentunya tidak ingin membuat baby twins terluka, terlepas atau terjatuh dari gendongannya.

__ADS_1


Daniel dapat merasakan kesedihan Arinda begitu juga ketiga baby twins yang masih menangis, dia meminta Aileen untuk menggendong baby twins boy yang berada dalam gendongannya.


“Mom, tolong gendong sebentar” ujar Daniel, langsung di angguki oleh Aileen.


Daniel lalu mendekati Arinda, perlahan-lahan dia membantu istrinya untuk duduk dengan baik. Arinda menatap Daniel bingung, dia hanya bisa menuruti apa yang di lakukan oleh suaminya.


Daniel duduk tepat di belakang Arinda, perlahan-lahan dia menarik tubuh Arinda untuk bersandar di dada bidang itu. Dengan mengode mata Daniel meminta Aileen untuk menyerahkan baby twins kepada Arinda. Dengan kepala baby di tangan kiri Arinda dan bagian tubuh ke bawah di pegangi tangan sebelah kanan Daniel. Penuh kehati-hatian Arinda memegangi malaikat kecil yang kini dalam gendongannya, mata indah itu berbinar tatkala menatap mata kecil malaikat itu terbuka. Mengerjap-ngerjap menatap kedua orang tuanya, mulut kecil itu menguap kepala baby bergerak-gerak mencari kenyamanan.


Tangisan baby twin dalam gendongan Arinda berhenti saat dekapan hangat dan serta detakan jantungnya seperti irama lullaby bagi baby twins. Amanda dan Michael mendekat ke arah Arinda, Amanda meletakkan baby twins boy di pangkuan Arinda dengan hati-hati.


Baby girl dalam gendongan Michael kini berpindah tangan pada Aileen yang duduk di samping Arinda. Air mata Arinda menetes terharu melihat ketiga baby twins yang berada sangat dekat dengannya. Tangisan dari baby twins lain ikut berhenti saat merasakan kehadiran bunda mereka.


“selamat datang sayang.... hikss... Terima kasih kalian lahir sehat dan selamat...” ucap Arinda terharu melihat ketiga baby twins. Arinda mengecup lembut pipi dan kening baby twins dalam gendongannya, begitu juga baby twins lainnya yang di bantu Daniel dan Aileen. Para perempuan yang ada dalam kamar rawat Arinda ikut terharu dan meneteskan air mata mereka, tidak terkecuali Maya yang bahagia melihat kebahagiaan sahabatnya.


“ Bunny udah ah nangisnya.... Ntar akika ama si twins pada ikut nangis lagi” ujar Maya sambil menyeka air matanya.


“Dan, apakah kamu sudah mempersiapkan nama untuk baby twins kalian?” tanya Oma Ayu.


“ sudah oma” ujar Daniel tersenyum pada Arinda yang menatap dirinya.


“Lalu apa nama mereka?” terdengar suara yang tidak asing bagi mereka. Arvin memperlihatkan ponselnya yang terhubung video call dengan Davira dan Sean di Negara AM.


“Davira” semuanya serentak memanggil nama Davira yang tersenyum senang.


“Hi semuanya.... Kak Ariiin Vira senang banget liat kakak udah sadar”

__ADS_1


“Terima kasih Vira, terima kasih karena kamu terus berusaha untuk menyelamatkan kakak dan tidak menyerah” Arinda tersenyum hangat, kedua mata indah itu tampak berkaca-kaca. Sean yang duduk di samping Davira tersenyum melihat istrinya terharu dengan ungkapan tulus Arinda.


“kak Ariiin... itu sudah kewajiban Vira untuk berusaha semampu mungkin. Vira juga nggak sendirian, Dokter Yuki juga ikut membantu” Ujar Davira. Daniel terlihat tidak menyukai saat Davira menyinggung nama Dokter Yuki. Hal itu terlihat jelas di wajahnya yang tampak mendung seperti awan gelap yang siap untuk menurun hujannya dengan lebat.


“Bagaimana di sana?” Daniel mengalihkan arah pembicaraan dan memasang wajah serius menatap ke arah Sean.


“Semuanya sudah beres, orang tua Evan titip salam buat mommy dan daddy, mereka juga mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarkan Evan dengan selamat” wajah Sean terlihat sendu, begitu juga Arvin, Daniel dan Ansel.


Suasana kamar Arinda menjadi hening, mata indah Arinda menatap Daniel di sampingnya. Perlahan kepala Arinda tersandar di bahu Daniel, berusaha untuk menghiburnya agar tidak larut dalam kesedihan.


Senyuman hangat tersungging di wajah Daniel, dia mengecup kening Arinda dengan penuh kasih sayang.


“aawww so sweeet bingits deh my idol” Maya terpesona tanpa sadar memegang bahu Arvin. Secepat kilat Arvin menghindar dan akan pindah posisi ke samping kanan Aisyah. Namun tangan panjang Maya menahan lengan kekar itu dengan gaya manjanya.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2