Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 115


__ADS_3

Ustaz selesai memberikan sedikit ceramah dan membacakan doa, satu persatu para pelayat mengucapkan rasa belasungkawa pada Arinda dan Ifan. Mobil Daniel telah terparkir di samping mobil ambulance, dia segera turun dan melangkah cepat menuju tempat ibu Arinda di kuburkan.


Daniel tidak peduli dengan hujan yang sudah membasahi tubuhnya, dia melihat sekumpulan orang yang mengitari kuburan dan segera di hampirinya. Saat ini hanya Arinda, Ifan dan teman-teman Ifan di kesatuan militer,


“mbak....kita pulang ya” ajak Ifan untuk kembali ke rumah.


“hikss...hikss... sebentar lagi Fan, mbak masih ingin di sini sebentar lagi” kata Arinda dengan wajah pucat dan bibirnya tampak membiru karena kedinginan. Ifan sangat khawatir dengan kondisi Arinda,


“mbak.. ayo kita pulang. Aku khawatir sama mbak, ayo kita pulang mbak” kata Ifan


“nggak Fan, mbak masih ingin disini” kata Arinda


“mbak...Ifan mohon, ayo kita kembali. Ayo mbak..” Ifan dapat melihat jika Arinda tidak baik-baik saja.


Ifan dengan sedikit memaksa memapah Arinda, dia tidak ingin terjadi apa-apa padanya.


“Fan...mbak masih ingin di sini...” kata Arinda melihat ke arah kuburan ibunya.


“nggak mbak, Ifan udah kehilangan mama. Apa Ifan harus kehilangan mbak juga?” Ifan tampak sedikit kesal dengan keras kepala Arinda. Hujan yang turun membuat pandangan Arinda sedikit kabur, saat mereka akan berjaan menuju mobil Daniel berdiri tidak jauh dari Arinda dan Ifan.


Arinda menatap seseorang yang berdiri di tengah hujan tidak jauh beberapa langkah darinya. Wajah Arinda sangat pucat, pandangannya mulai mengabur dan berhalusinasi. Daniel yang berdiri tidak jauh darinya terlihat seperti ibu Arinda.


“mama...” panggil Arinda. Dengan sisa tenaganya dia berlari mendekat ke arah Daniel yang dalam padangan Arinda, Daniel adalah ibunya. Arinda langsung memeluk Daniel


“ma...kenapa mama ninggalin Arin? Kenapa ma?” kata Arinda yang menangis di dada bidang Daniel. Cantika, Maya dan Ansel yang melihat kejadian itu sangat prihatin dan iba pada Arinda.


Ifan melihat Arinda yang memeluk pria yang sama sekali tidak di kenalnya, dia menghampiri mereka berdua. Dia dapat melihat jelas tatapan kasih sayang dari pria itu yang tidak lain adalah Daniel pada Arinda. Beberapa teman Ifan tampak galau saat melihat mereka yang berpelukan dengan erat di bawah guyuran hujan.


Siapa pria ini? Dia terlihat begitu menyayangi mbak? Ada hubungan apa mereka? Begitu banyak pertanyaan berputar di benaknya saat melihat Arinda memeluk erat Daniel.


“Mama jangan tinggalkan Arin ma....” kata Arinda.


Daniel tertegun saat Arinda memeluknya dan memanggilnya Mama. Kedua tangan Daniel merangkul erat tubuh Arinda, dia merasa sakit melihat kekasih hatinya terpuruk dan terpukul saat sekarang. Dia juga merasa hancur saat melihat wanita miliknya begitu rapuh.

__ADS_1


“Arin” panggilnya lembut.


Tangan Arinda yang memeluk erat dirinya mendadak terlepas dan tubuhnya hampir terjatuh langsung di peluk erat Daniel. Arinda pingsan dalam pelukan Daniel, Ifan yang akan membopong Arinda di cegah Daniel.


“biar aku saja” Kata Daniel membopong tubuh Arinda, terasa begitu ringan baginya.


“tidak usah bang. Biarkan aku yang menggendong mbak Arin” kata Ifan meraih Arinda. Namun Daniel tidak mendengar ucapan Ifan dan berjalan menuju mobil miliknya.


“ tunggu bang,” kata Ifan mengikuti Daniel. Dia sangat mengkhawatirkan Arinda, teman-teman Ifan ikut menghampiri Ifan yang sudah berdiri di samping mobil mewah milik Daniel.


“Fan, kami kembali dulu ke barak. Sekali kami ucapkan rasa belasungkawa padamu, kamu harus kuat dan jaga kakakmu” kata Langit mewakili seluruh teman Ifan lainnya.


“Terima kasih atas bantuan semuanya” kata Ifan sambil menyalami dan berpelukan dengan teman-temannya.


Maya, Cantika duduk di belakang melihat Daniel memeluk Arinda tak sadarkan diri. Mereka semakin kagum melihat ketulusan cinta dan sayang darinya untuk Arinda.


“Sel, telepon dokter perempuan secepatnya dan suruh datang ke rumah Arinda” perintah Daniel pada Ansel yang duduk di samping sopir.


“baik tuan muda” kata Ansel segera menghubungi dokter dan menshare alamat Arinda.


“kamu Adiknya Arinda, bukan?” kata Cantika memecah kesunyian dalam perjalanan kembali ke rumah Arinda.


“siap ya bu. Saya adiknya mbak Arin” kata Ifan reflek dengan kebiasaannya di kesatuan hingga tanpa sengaja memanggil Cantika ibu.


“nyantai kayak di pantai dong pak!! (Maya tersenyum) Kasian amat lu Tika, baru kenal ama adeknya Arin udah di panggil ibu-ibu” kata Maya.


“maaf bang, karena kebiasaan ku di kesatuan tidak sengaja memanggil ibu” kata Ifan pada Maya.


“Whaat hellooo... akika di panggil abang. Tukang cendol kali akika” kata Maya dengan gayanya. Ifan termangu melihat Maya yang kesal di panggil abang olehnya, dia baru teringat dengan cerita Arinda jika dia punya teman pria berjiwa perempuan di tempatnya bekerja.


“maaf, bang eh kak. Aku baru ingat Mbak Arin pernah cerita punya teman namanya kak Maya dan mbak Cantika. Sekali lagi minta maaf kak” kata Ifan.


“dont worry stoberry, akika maafin. Karena ye tampan dan imut” kata Maya dengan mengerlingkan matanya pada Ifan. Daniel terus memeluk tubuh Arinda, mereka berdua seperti di dalam dunia mereka sendiri. Tidak sekalipun daniel menghiraukan mereka yang ada di dalam mobil bersamanya, dia sangat mencemaskan keadaan Arinda.

__ADS_1


Ifan menatap Daniel dengan tatapan penuh tanda tanya. Cantika dan Maya mengerti dengan tatapan ifan itu, mobil mereka sudah memasuki halaman rumah Arinda dan Ifan tepat setelah azan magrib. Ifan membuka pintu mobil bermaksud akan menggendong Arinda, namun lagi lagi Daniel tidak menyerahkan Arinda. Dia mengalah saat melihat tekad dan kasih sayang pada Daniel pada Arinda.


“di mana kamarnya?” kata Daniel.


Ifan menunjukkan kamar Arinda dan membukakan pintunya, Daniel dapat mencium bau harum dari parfum yang selalu di gunakan Arinda. Daniel menidurkan Arinda di tempat tidurnya,


“Cantika, tolong...” belum selesai Daniel berucap Cantika langsung membantu Arinda.


“lebih baik anda juga mengganti pakaian dan sholat magrib. Biar Arin aku yang mengurusnya” kata Cantika.


“terima kasih” kata Daniel keluar dari kamar Arinda. Langkah Daniel terhenti saat Maya yang duduk di samping ranjang Arinda.


“Maya” panggil Daniel.


“hmm, ada apa my idol” kata Maya dengan muka tanpa dosa. Daniel menatap tajam Maya hingga dia menjadi salah tingkah.


“my idol, kalo kamu liatin akika seperti itu. Jantung akika semakin berdetak cepat secepat kereta api shinkanse” kata Maya malu-malu. Cantika yang paham dengan maksud Daniel langsung memukul lengan Maya.


“awww sakit Tika, kejam amiir sih. Lebih kejam dari mak tiri deh” kata Maya mendrama


“ udah sana keluar, kamu mau di gantung di pohon toge ama tuan Daniel” kata Cantika. Maya tampak memanyunkan bibirnya lalu duduk di ruang tamu yang hanya di lapisi dengan karpet permadani berharga murah bersama Ansel dan Daniel.


************


tetap terus dukung Author


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊


jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss


🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2