
“tapi... tadi.. di kamar mandi kamu tidak memakainya. Kenapa sekarang kamu malah memakainya?” Arinda memegangi wajahnya yang memanas saat melihat suaminya terlihat semakin tampan.
“ tadi aku benar-benar lupa sayang, karena sudah terlalu lama tidak bisa bersama mu. Sekarang saat aku ingat aku akan memakainya” ujar Daniel merobek bungkus permen itu dengan menggigit ujungnya, menatap dengan pandangan yang begitu panas ke arah Arinda.
Rasa panas itu seolah merasuki tubuh Arinda yang terasa semakin panas, Daniel mengangkat tubuh Arinda dan mendudukkannya di pangkuan. Kembali king kobra memasuki gua itu dengan penyelubungnya, posisi di mana Arinda tidak bisa mengontrol dirinya.
Daniel tidak diam begitu saja, dia ikut melakukan serangan membuat istrinya bernyanyi dengan suara menggoda. Gerakan dan berbagai posisi membuat Arinda yang semula mengimbangi kini bergerak pasrah dan mengakui kekalahannya.
Akhir dari serangan itu kembali king kobra mengeluarkan muntahannya, namun muntahannya kali ini di halangi oleh penyelubung. Terdengar suara hembusan nafas mereka yang memburu satu sama lain. Daniel sempat melirik ke jam di nakas sambil ranjang yang sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Sudah hampir dua jam dia mengajak Arinda bermain permainannya, hingga membuat perempuan yang di cintai terlihat sangat lelah di sampingnya.
Tubuh dengan dada bidang dan abs seksi seperti roti sobek telah di basahi titik-titik keringat, kini menjadi bantalan empuk untuk Arinda. Jari jemari lentik membelai lembut dada bidang yang tampak naik turun, mengatur nafas setelah menyelesaikan permainan panas mereka.
Merasa kekuatannya sudah kembali Arinda menatap suaminya, dagu runcing ditumpangnya pada tangannya. Rambut bergelombang hitam tergerai masih basah belum sempat di keringkannya menambahkan kecantikan yang sempurna saat Daniel menatap wajah istrinya. Tangan kirinya membelai lembut dan bermain dengan rambut Arinda, punggung tangan kanannya membelai lembut lengan istrinya yang terekspos.
“sayang... “ Arinda menatap manik mata elang yang sempat tertutup sejenak. Wajah tampan itu tampak semakin menggoda dengan senyuman menghiasi bibir seksi itu.
“ Hmmm”
“ boleh aku bertanya,”
“bertanya apa sayang?”
“hmm... Itu.... hmmm itu” Wajah Arinda merona merah saat akan bertanya. Daniel tahu jika istrinya akan bertanya perihal dengan apa yang di lakukannya tadi, dia menatap gemas Arinda yang masih tampak malu-malu bertanya.
“ aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan sayang, maaf jika kamu merasa kurang nyaman. Tapi untuk sementara ini kita tunda dulu memberikan adik pada si kembar”
“ke ke kenapa sayang?” Arinda menatap Daniel penasaran. Senyuman hangat terlukis di wajah tampan Daniel, sebelah tangannya membelai wajah cantik Arinda yang terlihat sangat kepo.
__ADS_1
“saat aku melihatmu bertaruh nyawa di meja operasi saat itu, benar-benar membuatku sangat ketakutan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya aku tanpa kamu sayang. Aku benar-benar tidak sanggup kehilanganmu,” Mata tajam itu tampak berkaca-kaca saat terkenang saat di mana Arinda sekarat. Arinda menatap lembut wajah suaminya, dia semakin memeluk erat tubuh suaminya.
“Sayang....”
“maaf sayang aku tahu seharusnya aku tidak egois dan mementingkan keinginanku sendiri. Tapi kali ini aku tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali” Daniel mantap dengan keinginannya yang menunda memiliki momongan kembali. Kehadiran para si kembar suah menyita perhatian dan waktu Arinda, walaupun tiap si kembar memiliki nanny sendiri tapi Arinda tetap turut campur dalam membesarkan ketiga buah hatinya.
"tapi...”
“sebaiknya kita sudahi pembicaraan ini sekarang kita bersih-bersih, sudah waktunya shalat ashar. Atau kesayangan ku ini ingin melanjutkan yang tadi... lihatlah di bawah sana sudah siap untuk melanjutkan ronde ketiga...” ujar Daniel menunjuk dengan matanya ke arah king kobra yang terlihat bugar kembali.
Menemani Dan bermain selama dua jam saja sudah membuat kaki gue gemetaran. Jika berlanjut yang ada gue kagak bisa bangun dari tempat tidur gumam Arinda dalam hati, dia langsung bangun dari rebahannya. Kain selimut di tariknya untuk menutupi tubuh yang tidak mengenakan apa pun.
“sayang.... tunggu... kamu mau ke mana” Daniel berhasil meraih tangan Arinda yang masih sibuk membenahi selimut di pegangi sebelah tangan.
“ aku mau mandi sayang, Daaan... lepasin tanganku. Kalo kamu pegangi begini bagaimana aku mau bersih-bersih” Arinda mencoba melepaskan diri.
“nggak... yang ada kamu pasti akan melakukannya lagi dan membuatku nggak bisa bangun dari tempat tidur” tolak Arinda menebak apa yang ada di pikiran Daniel.
“tidak akan sayang... ayo,,,” Ujar Daniel yang sudah bangun dari rebahan nya, menghampiri Arinda yang langsung di panggul di bahunya yang kekar.
“daaan... aku nggak mau.... daaaaan... turunin aku... Daaaanieeeel” Arinda menolak sambil berteriak memanggil nama suaminya. Daniel tidak mengacuhkan teriakan Arinda, membawa masuk istrinya ke kamar mandi dan melakukan kewajiban mereka.
Sebelum melakukan kewajiban mereka, Daniel melancarkan serangannya kembali tidak lupa dia menggunakan isi dalam bungkusan permen itu. Dalam waktu setengah jam, Daniel menyudahi permainannya dengan kondisi Arinda yang benar-benar lelah dan letih.
Kakinya benar-benar bergetar dan tidak sanggup berdiri, namun dia tetap memaksakan dirinya untuk menyelesaikan ritual kewajibannya. Arinda lebih dulu menyuruh Daniel untuk menyelesaikan kewajibannya, baru setelah itu dia menyelesaikan kewajibannya dengan susah payah.
Arinda merasakan tubuhnya benar-benar tidak bertenaga, setelah melaksanakan shalat Ashar berjamaah dia kembali tidur di atas Ranjang yang sebelumnya sudah di rapikan oleh Daniel.
__ADS_1
“sayang...” Daniel baru saja berpakaian menatap ke atas ranjang di mana istrinya tampak terlelap. Wajah tampan di hiasi Senyuman lembut penuh kasih sayang menatap ke arah Arinda yang tertidur pulas, ada perasaan bersalah dalam dirinya karena sudah membuat istrinya kelelahan.
Dia mendekati ranjang sambil memasang buah baju kemeja di tangannya, Daniel duduk di samping ranjang menatapi istrinya penuh kasih sayang dan cinta. Punggung tangannya membelai lembut wajah Arinda yang tampak mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat.
“beristirahatlah sayang,” Daniel mengecup kening, pipi dan bibir pink natural milik Arinda. Setelahnya dia keluar kamar menuruni anak tangga menuju ruang keluarga.
Saat mengenakan kemejanya dia sempat mengintip di jendela kamarnya ke arah taman belakang, Daniel melihat beberapa maid mulai mengemasi dan membersihkan area taman belakang.
Sepertinya acara pesta sudah selesai, sebaiknya aku segera turun sebelum para little devil membuat ulah gumam Daniel dalam hati mempercepat langkahnya menurun anak tangga.
Terdengar suara gelak tawa di ruang keluarga kediaman Arsenio, Daniel segera menuju ke sana dan mendapati keluarga juga sahabatnya sedang memperhatikan tingkah para bocah kecil yang menggemaskan.
**************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
mohon maaf 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 jika kedua karya Author "terjebak cinta CEO dingin" dan "Cinta Sabrina" mengalami keterlambatan updatenya. di karenakan dalam rangka membantu bocil dalam persiapan ujian jadi sangat sering terlambat up dan hanya satu episode dulu.
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...