Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 90


__ADS_3

Daniel masih menatap ponselnya masuk ke dalam lift di ikuti Ansel yang lalu menekan tombol menuju lantai atas tepatnya keruangan Kerja Daniel.


Daniel merasa jika lift menuju lantai ke atas melihat ke arah monitor lift paling atas menunjukkan tanda panah ke atas.


“Aku ingin ke bawah, kenapa lift menuju lantai atas?” tanya Daniel datar.


“Maaf tuan muda” kata Ansel segera menekan tombol lift kebawah.


Gue sangka tuan muda Daniel mau keruangannya, ternyata malah ke lantai bawah. Sebenarnya tuan muda mau kemana guman Ansel dalam hati menatap Daniel di sampingnya.


Daniel menatap foto Arinda yang dikirim Davira,


“Sel, telepon sakti untuk menyiapkan mobil, kita ke mansion sekarang “ kata Daniel seolah-olah menjawab pertanyaan di benak Ansel.


“Baik tuan muda” kata Ansel, sembari mengetik pesan pada Sakti supir Daniel.


Ting....


Pintu lift terbuka, Daniel dan Ansel berjalan melewati loby. Mereka berdua menanti mobil milik Daniel di depan pintu masuk loby.


Para karyawan tampak ramai di loby karena saat ini adalah jam makan siang. Mereka ada yang bermaksud makan di luar ada juga yang akan makan di kantin. Beberapa karyawan melihat Daniel sedikit membungkukkan memberi hormat lada Daniel.


Mobil Daniel baru saja terparkir di pelataran loby Arebeon Corp. Salah satu body guard membuka pintu untuk Daniel, dia segera masuk dan duduk. Body guard lalu menutup pintu belakang, Ansel sudah duduk di samping kemudi.


Sakti menatap ke arah Ansel dengan mata yang seakan-akan bertanya hendak kemana. Ansel mengerti dengan tatapan Sakti, dia memberanikan diri bertanya pada Daniel.


“Tuan muda kita” belum selesai Ansel bertanya Daniel segera menjawab pertanyaan Ansel.


“ kita ke Mansion sekarang” perintah Daniel.


“Baik tuan muda” kata Sakti lalu melajukan mobil menuju mansion Arsenio, para bodyguard mengikuti dengan mobil lain di belakang mobil Daniel.


Mansion? Bukannya tadi tuan muda bilang akan makan siang dengan client, kenapa sekarang malah kembali ke mansion? Tanya Ansel dalam hati.


Keluarga Arsenio dan keluarga Handoko berkumpul di ruang keluarga setelah menunaikan shalat zuhur berjamaah. Makan siang sudah terhidang di meja, mereka tengah akan memulai menyantap makan siang bersama.

__ADS_1


“Arinda, sini duduk di samping oma” pinta Oma Ayu, Arinda tersenyum dan duduk di samping kirinya. Cantika dan maya duduk di sebelah kanan oma Ayu. Semua tempat duduk hampir terisi, tinggal dua kursi yang masih kosong di samping kiri Arinda.


“Sepertinya Daniel tidak bisa makan siang bersama” tampak raut sedih di wajah oma Ayu.


“Oma, jangan sedih, Mungkin saja tuan Daniel sangat sibuk dengan pekerjaannya” hibur Arinda, di dalam hatinya dia merasa lega mengetahui jika Daniel tidak makan siang di rumah.


Syukurlah, dia tidak di rumah. Gue bisa sedikit tenang sekarang... Kata Arinda dalam hati,


Mobil Daniel memasuki halaman mansion Arsenio, Daniel segera turun dari mobilnya begitu juga Ansel. Mereka jalan beriringan menuju ruang makan,


Ooo jadi ini alasan tuan Daniel menunda meeting Hari ini kata Ansel tersenyum saat menyadari alasan Daniel kembali ke Mansion.


“Sel kamu juga ikut makan siang bersama” kata Daniel


“baik tuan muda” kata Ansel mengikuti Daniel, dia melemparkan senyuman manis saat pandangan Cantika bertemu dengannya.


Cantika membalas senyuman Ansel dengan tersenyum manis hingga membuat jantung Ansel jadi dag dig dug ser.


Begitu juga Daniel, hampir dua minggu dia tidak bersua dengan gadis pemilik hatinya. Rasa rindu yang teramat kini terbayar saat melihat pujaan hatinya duduk di samping oma Ayu.


Astagfirullah, ni orang sebangsa jin kali ya, tau-tau udah nongol aja di sini.... Aduh kenapa ni jantung berdebarnya kencang banget, jadi nggak konsen gue guman Arinda dalam hati sambil memegang dadanya.


“Tidak apa-apa sayang, ayo duduk” kata oma Ayu menyuruh Daniel untuk duduk di samping kiri Arinda.


Daniel langsung duduk di samping Arinda sengaja menarik kursinya agak sedikit mendekat ke sisi Arinda. Ansel juga ikut duduk di samping kiri Daniel. Mereka mulai makan siang bersama, Arinda merasa gugup di samping Daniel.


Mereka menikmati makan siang dengan tenang, kecuali Arinda yang merasa kurang nyaman. Daniel menatap tangan kiri Arinda di atas meja, matanya mengawasi setiap orang. Perlahan-lahan tangan kanan Daniel meraih tangan kiri Arinda yang berada di atas meja makan. Mata Arinda terbuka lebar lalu melihat ke arah sampingnya, dengan cepat Arinda melepaskan tangannya dari genggaman Daniel.


Arinda sangat gugup, jantungnya berdebar makin cepat. Dia mohon ijin untuk pergi ke kamar mandi.


“Maaf permisi semuanya” kata Arinda berdiri dari tempat duduknya.


“ Kamu akan kemana Rin?” tanya Cantika.


“Arin mo ke kamar mandi sebentar mbak” kata Arinda.

__ADS_1


“Kamu lurus saja sayang, kamu bisa gunakan kamar mandi di ujung lorong di bawah tangga” kata Aileen.


Arinda menganggukkan kepalanya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang di tunjuk Aileen.


Di kamar mandi, Arinda merasakan debaran jantungnya semakin cepat. Dia lalu mengatur nafasnya untuk menenangkan hatinya, Arinda menyalakan air dengan menaikkan keran air ke atas. Air mengalir, dia segera menampung air dengan menggunakan telapak tangan lalu membasuh wajahnya.


Arin, lu harus fokus jangan ke ganggu dengan apa pun di sekitar lu kata Arinda pada diri sendiri saat melihat bayangan kacanya Sendiri.


Dia lalu menyeka sisa air di wajahnya dengan handuk kecil yang tersedia. Merapikan sedikit penampilannya lalu mengatur nafasnya kembali.


Setelah cukup tenang, Arinda berjalan keluar kamar mandi. Dia melangkahkan kaki melewati lorong di bawah tangga, langkahnya terhenti saat jantungnya berdetak kencang.


Jantungku... Debarannya begitu cepat, jangan jangan guman Adalam hati .


Tanpa harus melihat kebelakangnya, Arinda sudah tahu jawaban mengapa jantungnya berdetak dengan cepat. Mata Arinda terbuka lebar, saat dua tangan melingkar di sisi pinggang rampingnya. Kedua tangan itu bersedekap diatas perut rata Arinda.


***


Ponsel Daniel bergetar menandakan ada panggilan masuk, dia mohon diri untuk mengangkat telepon. Daniel melangkahkan kakinya menghampiri tangga rumahnya, setelah selesai menelepon Dia melihat pintu kamar mandi ujung lorong bawah tangga dimana Arinda berada saat ini.


Rasa rindu di hatinya menuntun langkahnya berdiri di bawah tangga sebelum memasuki lorong menuju kamar mandi. Setelah selesai dengan urusannya Arinda berjalan melewati lorong, tepat di depan lorong di bawah tangga langkahnya terhenti saat detakan jantungnya berdetak cepat.


Daniel menatap Arinda yang berhenti tepat di hadapannya dengan posisi membelakanginya. Kedua tangannya dia lingkarkan ke pinggang ramping Arinda, dagunya di letakkan di bahu kirinya. Mata Arinda membulat sempurna saat Daniel memeluk erat dirinya dari belakang.


************


tetap terus dukung Author


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊


jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss


🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2