
-
Area 21+
************
Dengan ganas dia mencium Arinda yang tidak siap hingga dia kelabakan mengimbangi permainan lidah Daniel. Bibir seksi terus memagut bibir pink natural tanpa ampun, mengabsen setiap detail yang ada di sana.
Tangan Daniel sebelah kiri menekan tombol otomatis di bawah meja kerja untuk mengunci pintu ruangan miliknya.
Klik....
Pendengaran Ansel yang tajam mendengar suara bunyi pintu yang terkunci, Dia mengerti jika saat ini Tuan mudanya tidak ingin di ganggu.
Dia berdiri dari kursinya menghampiri meja kerja sekretaris Danie yang bernama Diana,
“Diana” panggil Ansel pada sekretaris Daniel yang bernama Diana.
“iya pak Ansel ada apa?”
“kamu suka bakso tidak?” tanya Ansel seraya melihat ke pintu ruangan Daniel tertutup sangat rapat.
“suka pak, emang kenapa pak?” tanya Diana menatap heran Ansel,
“saya mau traktir kamu jajan bakso sekarang, sebaiknya kita pergi sekarang sebelum baksonya kehabisan” perintah Ansel pada Diana yang kebingungan.
Nggak biasanya pak Ansel ngajakin gue makan bakso guman Diana masih menatap Ansel berdiri tepat di depan meja kerjanya.
“Aaaaahhh.....” terdengar sebuah suara dari balik pintu ruangan Daniel, membuat Diana menatap ke arah pintu itu.
Wajahnya langsung merona mendengar suara yang membuat jiwa para jomblo menjerit.
“ayo pak, kita makan Bakso” Diana meraih ponsel dan tasnya, segera mengikuti Ansel yang melangkah lebih dulu. Walaupun ruangan kerja Daniel kedap suara, namun dari pintu ruangan tertutup rapat itu samar-samar mereka bisa mendengar sesuatu yang tidak harus mereka dengar.
Pintu lift terbuka, mereka berdua menekan tombol menuju lantai bawah. Sesampainya di lantai bawah, sebelum pergi memakan bakso Ansel menemui para body guard Daniel.
“kalian jaga di depan lift, lantai ruangan tuan muda. Jangan biarkan siapa pun menemui tuan muda saat ini” perintah Ansel.
“di depan lift tuan Ansel?” tanya Body guard yang bingung, mereka biasanya lebih sering berjaga di depan pintu ruangan Daniel jika dia tidak ingin di ganggu.
__ADS_1
“iya, kalian berjaga di depan lift. Ingat siapa pun tidak boleh ada yang mengganggu, mengerti?” perintah Ansel dengan dingin
“baik tuan Ansel” para body guard segera melaksanakan perintah Ansel menuju lantai teratas. Ansel dan Diana menuju keluar perusahaan Arebeon berjalan sedikit menuju kedai bakso yang tidak jauh dari sana.
***
Tangan Daniel perlahan-lahan melepaskan kancing kemeja yang di kenakan Arinda, hingga dia bisa melihat tubuhnya masih terhias jejak kemerahan hasil pertempuran mereka semalaman. Dia menatap dari wajah istrinya yang merona hingga bagian perbukitan dengan corak merah menjadi hiasannya.
Arinda menutupi bagian perbukitan itu dengan sebelah tangannya dan sebelah tangan yang lainnya menahan tubuh Daniel. Tangan Daniel melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya,
“sayang... kam... kamu... mau ngapain, sayang semalam kamu udah gempur aku habis-habisan... ingatkan...” Arinda panik, Daniel tidak menggubris masih berdiri di antara kedua kaki Arinda. Dia membuka dasinya meraih kedua tangan Arinda dan mengikatnya.
“Sayaaang... kamu mo ngapain..." Arinda semakin panik saat tangannya sudah terikat.
“aku sudah memperingatkan kamu, sekarang aku akan mendisiplinkan kamu” Daniel menutup laptop dan menyingkirkannya, tangannya merebahkan tubuh Arinda di atas meja kerjanya. Dengan sebelah tangan dia menahan tangan Arinda yang terikat di atas kepala, sebelah tangannya bermain-main di perbukitan yang berhias corak merah di sana.
Daniel masih merasa emosinya tidak terkontrol, sebelah tangannya menurunkan pengamanan di perbukitan hingga dia leluasa bermain di sana.
“aaaaahhh... “Arind terpekik tertahan saat Daniel dengan agak sedikit kuat menghisap, tubuhnya menggeliat saat merasakan sensasi yang berbeda.
Daniel menatap Arinda dengan mata elangnya melihat bagaimana raksi ketika dia menggigiti dan menghisap dengan sedikit agak kuat. Wajah Arinda merona merah, merasakan sesuatu yang berbeda.
Pintu surga kenikmatan terbuka, memunculkan king kobra yang sudah tidak sabaran. Dia langsung melesak masuk ke dalam gua miliknya. Mengaduk-aduk dengan sedikit kuat, kali ini permainan king kobra tidak berlaku lembut seperti biasanya.
King kobra sedikit kasar hari ini membuat pemilik gua bernyanyi sedikit kuat dan menggoda. Nyanyian yang membuat king kobra dengan semangat empat lima mengobrak-abrik gua itu. Bibir Daniel menempel di bibir Arinda memberikan ciuman yang bersemangat.
Dia membiarkan begitu saja king kobra bermain-main dengan liarnya kali ini, membuat pemilik gua kewalahan. Amarah dalam diri Daniel tersalurkan dengan setiap gerakan yang di lakukan king kobra, hingga mencapai puncak di mana king kobra muntah dengan sangat banyak.
Hanya terdengar nafas yang memburu di ruangan yang menjadi saksi bisu ke liaran king kobra saat ini. Arinda benar-benar dibuat kewalahan hingga akhirnya jatuh tertidur.
Kamu begitu menggemaskan, maafkan aku membuatmu lelah seperti sekarang ini guman Daniel sambil melepaskan ikatan dasi di tangan Arinda, dia membopong istrinya menuju kamar di dalam ruang kerja miliknya.
Daniel merebahkan istrinya di tempat tidur, lalu menyelimutinya dengan selimut. Daniel menuju kamar mandi untuk bersuci dan menunaikan kewajibannya setelahnya dia memakai pakaiannya yang tersedia di sana.
Tepat setelah memakai pakaiannya, terdengar panggilan Allah SWT untuk umatnya. Daniel menghampiri ranjang duduk di samping tubuh istrinya.
“sayang...” panggil Daniel seraya mencium kening istrinya.
“hmmmm” mata Arinda masih tertutup rapat dan enggan untuk di buka.
__ADS_1
“ayo kita sholat ashar dulu” ajak Daniel sambil membelai wajah istrinya.
“apa kamu bisa menggendongku? Kamu sudah membuatku kecapekan seperti ini” tanya Arinda dengan membuka sedikit matanya.
“maafkan aku sayang sudah berlaku sedikit kasar padamu, tapi terima kasih karena kamu sudah membuat amarahku mereda” Daniel mengecup pipi Arinda yang lalu bangkit dari rebahannya.
“apa kamu masih marah?” tanya Arinda sambil menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Daniel menggelengkan kepalanya. Arinda tersenyum manis lalu merentangkan tangannya pada Daniel, sebelah tangan menepuk-nepuk lembut dadanya mengisyaratkan Daniel untuk menyandarkan kepala di sana.
Perlahan-lahan Daniel merebahkan kepalanya di dada istrinya, detakan jantung Arinda menenangkan bagi Daniel.
“aku tidak masalah harus merasakan sakit, lelah dan letih di sekujur tubuhku. Asalkan aku bisa meredam amarah dan kekesalan di hati suamiku ini” Arinda menangkup kedua pipi Daniel yang menatapnya dengan penuh cinta. Dia mencium dengan sepenuh hati kening suaminya,
“aku sangat mencintamu... jangan pernah kamu meninggalkan ku” pinta Daniel pada Arinda.
“aku juga mencintai suamiku ini, aku janji akan selalu bersamamu sampai Allah memanggilku” Daniel segera menutup bibir Arinda.
“jangan pernah kamu membicarakan kematian, aku tidak akan bisa membayangkan di saat kamu meninggalkan ku terlebih dulu” Daniel kembali membenamkan wajahnya di dada Arinda, sebelah tangan Arinda membelai lembut rambut Daniel yang masih basah.
“jika Allah sudah memanggil ku, kamu harus mengikhlaskan ku. Bagaimana pun kita semua akan kembali pada-Nya” Arinda mengecup kembali kening Daniel, mata elang itu menatap sendu Arinda lalu mengecup lembut bibir istrinya.
“sebaiknya sekarang istri cantikku ini mandi, agar kita bisa sholat bersama-sama” Daniel segera menggendong tubuh Arinda membawanya masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Arinda sebentar agar bisa melaksanakan kewajiban.
Daniel keluar dari kamar di rang kerjanya menuju meja yang sempat menjadi arena pertempurannya. Dia menekan tombol untuk membuka kunci pintu ruangannya, setelah itu memanggil Diana sekretarisnya.
*************
secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1