
“Arin, telepon Sean sekarang, suruh dia ke mansion sekarang” Aileen masih membantu putranya, sebelah tangannya menyerahkan ponsel miliknya pada Arinda untuk menghubungi Sean.
Sean baru menyelesaikan pekerjaannya, menatap layar ponselnya yang berdering.
“tante Aileen” Sean segera menggeser tombol ada layar ponselnya kearah tombol hijau.
“assalamualaikum tan” sapa Sean,
“dr. Sean ini Arin, pakai ponselnya mommy. Dokter bisa datang ke mansion? Daniel...” Perkataan Arinda terhenti dan tergantikan dengan suara Daniel yang muntah-muntah.
“hueeeek.... hueeeeeek” Suara Bariton milik Daniel membuat kening Sean berkerut.
“Arin, Daniel kenapa?”
“tidak tahu dok, tadi sewaktu akan makan siang mendadak Daniel muntah-muntah. Bisa dokter ke mansion sekarang” Arinda melihat ke arah Aileen yang masih membantu putranya.
“baiklah saya akan ke sana sekarang”
Sean memutuskan hubungan telepon lalu melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil di Arsen Medical. Tidak lupa pula dia membawa tas dokter dengan beberapa alat di dalamnya.
Arinda membantu membaringkan suaminya di ranjang milik Daniel ketika masih sendiri. Kamar yang dominan bercat warna maskulin dan ranjang king size masih tertata rapi. Rasa pusing yang di rasakan Arinda sedari tadi berganti dengan rasa cemas pada suaminya yang terbaring lemah tidak berdaya.
“sayang, kamu mau sesuatu?” Tanya Arinda membelai wajah tampan suaminya.
“ aku hanya ingin berbaring, tolong temani aku di sini” ujar Daniel memegangi tangan Arinda.
Aileen tersenyum bahagia melihat putra dan menantunya terlihat mesra setiap waktu.
“kalau begitu mommy akan ke bawah dulu menunggu Sean datang” Aileen melangkahkan kakinya keluar dari kamar Daniel. Dalam hatinya dia merasa sangat bersyukur jika saat ini Daniel putranya sudah berubah begitu banyak.
Arinda ikut membaringkan tubuhnya di samping Daniel yang langsung di peluk erat olehnya. Daniel menciumi puncak kepala Arinda yang masih tersisa bau sampo yang biasa di pakai oleh istrinya.
“Dan, sebentar lagi dr. Sean akan datang” Arinda menatap wajah suaminya.
“ biarkan saja, aku ingin seperti ini sejenak” Daniel memejamkan matanya, Arinda menatap wajah suaminya yang terlihat pucat setelah muntah banyak.
“apa kamu punya penyakit mag?” tanya Arinda, mata Daniel kembali terbuka menatap istrinya. Sebelah tangannya membelai lembut punggung istrinya.
“aku tidak memiliki penyakit itu” Daniel kembali memejamkan matanya sambil terus membelai punggung istrinya dengan lembut.
“lalu kenapa kamu bisa muntah-muntah seperti itu? Kamu pasti makan-makanan tidak sehat akhir-akhir ini” Arinda menebak-nebak,
“mungkin saja” Mata Daniel masih terpejam berusaha untuk beristirahat.
Belaian lembut Daniel membuat mata Arinda terasa sangat berat, hal itu di karenakan dia sering bergadang menunggu Daniel pulang kantor. Beberapa hari sebelumnya Daniel menjalani sebuah proyek baru yang menyita waktunya,
__ADS_1
“ka...kalau .... begitu mulai besok...” perkataan Arinda tidak terdengar lagi membuat Daniel yang memejamkan mata kembali menatap istrinya.
Punggung tangannya membelai lembut pipi Arinda, kepalanya tersandar santai di dada bidang Daniel. Wajah Arinda terlihat manis saat sedang tertidur nyaman di dadanya.
***
Aileen kembali bergabung bersama keluarganya di ruang keluarga, raut wajah Oma Ayu tersirat rasa khawatir pada keadaan cucunya.
“bagaimana Dan, Leen?” tanya oma Ayu, Amanda menggenggam tangan oma Ayu untuk menenangkannya.
“ Dan sedang istirahat ma, ada Arin yang menemani Dan, Aileen juga sudah meminta Arin menghubungi Sean” Aileen duduk di samping Michael dengan tersenyum senang.
“my, kenapa mommy tersenyum gitu? Apa mommy nggak kuatir sama kak Dan?” Davira menatap heran Aileen.
“justru karena kakakmu mommy tersenyum seperti ini. Mommy senang akhirnya kakakmu menemukan kebahagiaannya dan terlepas dari bayang... “ Aileen menghentikan ucapannya saat menatap Amanda.
Semua di ruang keluarga itu diam mengerti dengan apa yang Aileen ucapkan. Walau bagaimanapun juga Alexa adalah saudara sepupu Amanda, mereka juga harus menjaga perasaan menantu mereka.
Amanda bisa mengerti dengan kemarahan dari keluarga Arsenio.
“Manda nggak apa-apa my, seharusnya Manda meminta maaf pada Daniel dan keluarga. Karena ulah Alexa keluarga ini hampir saja celaka” Amanda sudah mengetahui kebenaran tentang Alexa dari Darren Awalnya dia menolak untuk percaya, namun saat di jelaskan Darren dia akhirnya pun percaya.
“sudahlah Manda, kamu tidak seharusnya meminta maaf. Ini semua sudah takdir yang harus kita jalani” ucap Michael bijak.
“benar, kata daddy Manda. Mommy tidak menyalahkanmu karena hal ini” Aileen menghibur Amanda.
***
Mobil Sean memasuki halaman keluarga Arsenio, dia dan Arvin di sambut oleh maid yang langsung mengantarnya ke ruang keluarga.
Flashback on...
Arvin akan mengunjungi Sean dengan membawa sampel racun yang mereka temukan di rumah Yoga. Mereka berpapasan di lobi,
“woi Se, mau kemana lu?” Arvin melihat Sean dengan jubah dokternya jalan terburu-buru.
“Vin, lu di sini?” Sean balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Arvin.
“yeee pe’a gua nanya, lu malah balik nanya” Arvin dengan gaya slengekannya menepuk bahu Sean hingga dia meringis kesakitan.
“sorry, gua buru-buru” Sean kembali melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil.
“woi...gua ikut, tungguin napa” Arvin mengimbangi langkah Sean menuju mobil miliknya. Arvin membuka pintu tempat duduk di samping kemudi,
“lu ngapain ngikutin gua?” Tanya Sean sambil menekan start mobilnya.
__ADS_1
“jiaaa... si bambang, tadi kan udah gua bilang ikut elu. Trus pertanyaan gua belon lu jawab makanya Gua ikut lu” Arvin dengan santai duduk di samping Sean.
“lah lu kan punya mobil sendiri, ngapain lu ikut mobil gua?”
“irit bensin” jawab Arvin santai membuat Sean menghebuskan nafas dengan kesal.
Flashback off
“Assalamualaikum Tan, om, Oma” Sean dan Arvin menyapa keluarga Arsenio serentak.
“waalaikum salam” semua keluarga Arsenio membalas menyapa salam dari Sean.
Arvin menatap Oma Ayu terlihat sehat wal afiat, begitu juga yang lainnya.
“Se, semuanya kelihatan baik-baik saja. Lalu siapa yang sakit tan?” Arvin semakin penasaran,
“Daniel yang sakit, tadi dia mendadak muntah-muntah sangat banyak” jelas Aileen,
“Haa... raja iblis bisa sakit juga?” celetuk Arvin,
Plaaak...
Sebuah pukulan mendarat tepat di belakang kepala Arvin,
“Aduuuh, sakit woi...” Arvin terdiam seketika saat melihat Daniel berdiri tepat di belakangnya.
“hehehe... tuan muda. Gua dengar lu sakit ya?” Arvin cengengesan menatap Daniel menatap dirinya dengan tatapan tajam,
“Daniel, kenapa kamu turun sayang? apa kamu masih ingin muntah?” Aileen menghampiri Daniel memegangi kening dan pipinya.
“Dan sudah nggak apa-apa my? Hanya Dan ingin minum ini” Daniel memperlihatkan sebuah foto minuman yang baru saja di lihatnya.
“milkshake strawberry?! Kak Dan ingin minum ini? Kak Dan yakin mau minum ini?” Davira terkejut saat Daniel meminta minuman yang tidak pernah sekalipun dia sentuh.
Danil menatap ponselnya, dia meneguk kasar air liurnya menatap milkshake strawberry dengan topping whip cream di atasnya. Sangat menggugah selera hingga membuat Daniel meneguk air liurnya berkali-kali.
************
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...