Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 227


__ADS_3

Tidak lama sebuah mobil yang mereka kenal memasuki pelataran restoran Arvin,


“Nah tu orangnya datang” tunjuk Evan ke arah pintu masuk restoran Arvin. Tampak Sean jalan terburu-buru menghampiri mereka berdua,


“Sorry telat, ada beberapa kerjaan yang harus gua selesaikan dulu” sean duduk di kursi samping Evan.


“Kerjaan ato sibuk ama yayang lu” sindir Arvin.


“hehehe lu kayak kagak pernah merasakan jatuh cinta aja” Sean cengengesan.


“Trus kita langsung ke cafe ni?” tanya Evan.


“Kita ke Arebeon jemput tuan muda kita dulu. Udah lama juga tu tuan muda nggak ngumpul bareng ama kita-kita” ujar Arvin.


“oke, kita berangkat sekarang?” tanya Evan. Di saat bersamaan Azan magrib berkumandang,


“kita sholat dulu, walaupun kita bejat ibadah jangan lupa” kata Arvin.


“Ya lu yang bejat ngapain bawa gua” protes Sean.


“ hahahaha sesama bejat jangan saling menghina. Udah sana pada ibadah, aku tungguin” ujar Evan.


“Oke, tunggu bentar ya. Kita sholat bentaran” Arvin dan Sean melangkah ke luar restoran menuju mushalla terdekat untuk menunaikan kewajiban mereka.


Tidak beberapa lama, Arvin dan Sean kembali masuk ke restoran lalu melangkah beriringan menuju parkiran menaiki mobil masing-masing. Mereka sepakat untuk ke perusahaan Daniel, dengan harapan bisa mengajaknya ikut nongkrong bersama.


Arvin dan Sean sengaja mengajak Daniel untuk menghiburnya agar bisa meredam kemarahan yang di alaminya seharian ini. Mobil-mobil mewah itu terus melaju menuju Arebeon corp.


Setelah shalat magrib Daniel kembali sibuk dengan file -file di atas meja kerjanya, Arinda tidak ingin mengganggu sedang merebahkan tubuhnya di ranjang dalam kamar. Dia menelepon ke mansion Arsenio sekedar menyapa dan menanyakan keadaan keluarganya.


Tidak lupa pula Arinda juga mencoba menelepon adiknya walaupun sangat jarang di angkatnya. Dia pun mengirim pesan kepada adiknya untuk selalu ingat beribadah, menjaga kesehatan dan sering memberi kabar padanya.


Tok....tok...tok....


Ansel mengetuk pintu ruang kerja Daniel, lalu masuk setelah mendapat perintah dari bosnya.


“Tuan muda mencari saya?” tanya Ansel.


“Apakah laporan mereka sudah di perbaiki?” tanya Daniel masih fokus dengan Filenya.


“Sudah tuan muda, segera saya ambilkan” Ansel kembali ke mejanya untuk mengambil laporan yang sempat di permasalahkan Daniel.


Ansel tidak menyuruh anak buahnya untuk merevisi ulang, dia sudah memeriksa berkali-kali laporan yang bermasalah itu. Tetap saja masalah dalam laporan itu tidak di temukannya, dengan untung-untungan Ansel menyerahkan laporan itu kembali pada Daniel.

__ADS_1


***


Mobil-mobil mewah terparkir di pelataran perusahaan Arebeon, masing-masing pemilik itu turun dari mobil mereka. Para pria tampan pemikat hati kaum hawa berjalan beriringan masuk ke perusahaan Arebeon.


Arvin, Sean dan Evan datang di saat jam pulang para pegawai Arebeon, hari itu mereka terlambat pulang karena harus mengikuti beberapa macam pelatihan. Mereka bertiga menjadi pusat perhatian dari karyawan Arebeon, Radiasi ketampanan mereka membuat kaum hawa menjadi rusuh.


Sean dan Evan tidak menggubris para kaum hawa dan lebih mengabaikan, hati mereka berdua sudah jatuh ke perempuan lain. Hanya Arvin yang sesekali menebarkan pesonanya membuat para kaum hawa seperti hyena yang siap menerkam mangsanya.


Mereka menaiki lift karyawan yang kosong menuju lantai teratas, lift pun beranjak naik ke atas hingga berhenti sebentar di lantai tertentu. Pintu lift yang di naiki mereka bertiga terbuka, saat itu ada beberapa kaum hawa di depan lift.


Mereka termenung tepat di depan lift yang terbuka, melihat penampakan tiga sosok yang membuat mereka meleleh. Evan menatap heran pada para perempuan itu yang sama sekali tidak masuk ke dalam lift dan menahan lajunya lift.


“Kalian mau naik apa tidak?” tanya Evan membuat para perempuan itu tersadar. Mereka segera ikut naik lift itu dengan jantung yang berdetak tidak karuan.


Lift kembali naik menuju lantai yang di tuju Sean dan yang lainnya, rupanya perempuan itu lupa menekan tombol lift menuju lantai yang menjadi tujuan mereka. Lift terbuka di lantai teratas gedung arebeon, Evan, Arvin dan Sean kelua dari lift saat pintu lift itu terbuka.


Beberapa perempuan itu mengikuti mereka yang melangkah menuju ruangan kerja Daniel. Diana sekretaris Daniel terheran-heran melihat para perempuan itu yang senantiasa mengikuti Arvin cs.


“halo Diana cantik,” sapa Arvin dengan mengerlingkan sebelah matanya pada Diana.


“selamat malam tuan Arvin,” Diana menyueki Arvin lalu menanyai beberapa perempuan itu.


“ kalian semua ada apa kemari?” tanya Diana.


“maaf kak.... kami salah lantai” mereka bergegas balik badan melangkah teburu-buru menuju lift.


Arvin cs hanya tersenyum melihat tingkah beberapa gadis itu.


“tuan-tuan mau bertemu dengan tuan muda?” tanya Diana


“ kalo mereka memang mau ketemu Daniel, kalo abang mau ketemu eneng Diana” gombal Arvin membuat Diana tersenyum aneh.


“udah lu jangan tebar pesona lu di sini, Daniel ada di dalam?” tanya Sean,


“tuan muda ada di dalam bersama tuan Ansel” jawab Diana.


“kalian masuk saja dulu, gua mau di sini nemenin yayang Diana dulu” Arvin mengusir Evan dan Sean agar dia bisa melancarkan jurus playboy cap kadalnya pada Diana.


“udah ayo” Evan dan Sean serentak menarik kerah baju Arvin masuk ke ruangan Daniel.


"ya ya yah... ntar dulu...bye bye yayang Diana, jangan rindu ama babang Arvin ya" kata Arvin yang menghilang di balik pintu ruangan Daniel.


Arvin cengengesan segera menyapa Daniel yang menatap kedatangan mereka bertiga,

__ADS_1


“hi bro...” sapa Evan membuka pintu ruangan Daniel.


“Assalamualaikum Cakarnya Sean” sapa Arvin langsung mengambil posisi duduk di sofa ruangan Daniel.


Daniel menatap dingin pada Arvin, Sean dan Evan yang sudah duduk di sofa.


“Cakar Sean? Kenapa kamu menyuruh tuan muda buat cakar Sean?” tanya Ansel bingung.


“maksud gua, CAlon KAkak ipaR Sean” jawab Arvin dengan cengengesan.


Daniel tidak menanggapi candaan Arvin,


“sepertinya si Dan masih PMS dah” bisik Arvin pada Sean.


“PMS emang lu kata si Daniel cewek” protes Sean dengan suara sedikit keras membuat Daniel dengan kilatan matanya menatap ke arah mereka.


“pelan dikit bambang, ape lu mau tu si raja iblis ngamuk dan gantung kita di pohon cabe” bisik Arvin sambil melihat ke arah Daniel menatap tajam dengan mata elangnya.


Daniel hanya menatap mereka sebentar, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


“jiaah tumben tu si raja iblis kagak respon? Kita kan tahu tadi pagi gi mana marah dan emosinya si manusia es ntu. Kok sekarang adem kek gitu?” bisik Arvin heran dengan sikap Daniel yang tenang. Sean mengangkat bahunya tidak mengerti, mereka tahu bagaimana Daniel jika sudah marah dan kesal.


“emang ada hal apa yang buat Daniel kesal dan Marah?” tanya Evan penasaran.


Sean dan Arvin menceritakan apa yang terjadi pada Daniel saat pagi tadi, Evan hanya manggut-manggut mendengar cerita mereka.


*************


**dear para readers...


mohon maap 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 karena sedikit terlambat up-nya akibat adanya kesalahan jaringan**.


secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ all...


__ADS_2