
Daniel diam, raut wajahnya mulai terlihat kesal.
“Saya bukan perempuan murahan yang sering anda perlakukan seperti ini. Saya bukan mainan yang bisa anda permainkan dengan sesuka hati anda” kata Arinda begitu menusuk membuat Daniel tersinggung.
“Jadi menurutmu, setiap tindakan ku hanya untuk mempermainkanmu?” mata elang Daniel menatap tajam Arinda, terlihat kekesalan di matanya.
“Jika tidak, untuk apa anda melakukan hal ini? kalau bukan untuk balas dendam dan mempermainkan saya” tuduhan Arinda semakin membuat Daniel kesal.
Tangannya yang kekar mencengkram ke dua sisi lengan Arinda.
“Jadi kamu menganggapku mempermainkan dan membalas dendam padamu?” Daniel menatap tajam Arinda, dia meringis kesakitan merasa cengkraman Daniel yang kuat.
“Baiklah nona Arinda” Daniel melepaskan cengkraman tangannya, dia sangat kesal dan marah dengan tuduhan Arinda tapi dia merasa tidak tega untuk menyakiti perempuan yang telah mencuri hatinya.
Di raihnya telepon di meja menghubungi Ansel. Arinda memegangi kedua lengannya melihat ke arah Daniel yang masih berdiri di hadapannya.
Tok...tok...tok.....
Ansel mengetuk pintu ruangan Daniel dan masuk.
“Anda memanggil saya tuan muda?” tanya Ansel.
Daniel masih menatap Arinda dengan tajam, hatinya terasa sakit dengan tuduhan yang di lontarkan Arinda
“Ansel, pergi bersama nona Arinda untuk survei lokasi sekarang juga” perintah Daniel
Ansel diam dan bingung dengan perintah yang di berikan Daniel
Bukannya sebelum berangkat ke perusahaan tuan muda sendiri yang akan pergi survei bersama nona Arinda, tapi kenapa sekarang jadi saya yang pergi guman Ansel bingung dengan perintah bosnya.
Daniel melangkah mundur menjauhi Arinda,
“apa kamu tidak mendengar apa yang aku perintahkan, sel?” Tanya Daniel pada Ansel yang masih diam di tempatnya berdiri.
“Baik tuan muda, mari nona Arinda” Ansel mempersilahkan Arinda untuk jalan terlebih dahulu.
Arinda kembali ke sofa di ruangan daniel untuk mengambil barang-barang miliknya,
“Semua hasil survei hari ini akan saya serahkan pada tuan Ansel, permisi tuan Daniel” kata Arinda melangkah pergi meninggalkan kantor Daniel.
Daniel tidak menghiraukan perkataan Arinda dan bersikap dingin padanya. Dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang tertunda, namun dia tidak bisa konsentrasi. Tuduhan Arinda terus terngiang di telinganya,
Breng**k, apa dia tidak mengerti bagaimana perasaanku? Bagaimana bisa dia menuduhku dengan tuduhan seperti itu? guman Daniel kesal dan marah
Daniel bangkit dari kursinya berjalan menuju ke jendela memandangi pemandangan kota.
Arinda dan Ansel berada dalam Lift, sesekali Ansel melihat ke arah Atinda yang termenung.
Ada apa dengan mereka? Sepertinya ada yang tidak beres guman Ansel dalam hati.
Ting....
Pintu lift terbuka, Ansel sudah keluar dari lift melihat ke belakangnya Arinda masih termenung di dalam lift.
__ADS_1
“Nona Arinda” panggil Ansel membuat Arinda tersadar dari lamunannya. Arinda segera keluar dari lift dan berjalan beriringan dengan Ansel.
“apa anda baik-baik saja” tanya Ansel,
“Iya, saya baik baik saja” kata Atinda tersenyum dengan manis.
Kenapa hati ini terasa sakit saat melihat Daniel dingin ke gue? Hei hati, jangan sakit dong. Ini adalah jalan terbaik untuk gue agar tidak pernah berharap sesuatu yang semu guman Arinda dalam hati.
Ayo Arinda lu harus semangat, lupakan semuanya!!! Harus semangat!!! guman Arinda menyemangati dirinya.
“Mari tuan Ansel kita berangkat” Arinda lalu berjalan duluan meninggalkan Ansel yang bingung.
“Tadi aku masih melihat jelas, nona Arinda tampak sedih. Dan sekarang dia udah semangat lagi” kata Ansel berbicara sendiri, semua orang yang berlalu lalang heran melihat Ansel yang berbicara sendiri.
Arinda dan Ansel menaiki mobil milik perusahaan. Mereka berdua lalu berangkat untuk mensurvei lokasi pesta perusahaan Arebeon corp.
Tiga jam sudah berlalu, ansel dan arinda sudah menjelajahi lokasi lokasi tempat pesta yang sesuai dengan permintaan Daniel.
Ansel sudah mengirim foto foto lokasinya pada Daniel.
“baiklah nona Arinda, semuanya sudah beres. Kami akan mengabari anda secepatnya”
“Saya tunggu kabar dari anda secepatnya. Agar kami bisa mempersiapkan tepat waktu”
“Baiklah nona, mari saya antar anda ke kantor nona”
“Tidak usah tuan Ansel, saya tidak ingin merepotkan anda, apalagi saya harus ke panti asuhan terlebih dahulu”
Ansel membukakan pintu mobilnya, dengan segala pertimbangan Arinda akhirnya mau di antar oleh Ansel.
***
Mobil Ansel berhenti di gerbang sebuah panti asuhan, arinda membuka sabuk pengamanny dan turun dari mobil Ansel.
“Terima kasih banyak tuan Ansel” kata Arinda
“Saya jalan dulu nona, sampai jumpa lagi” kata Ansel lalu menjalankan mobilnya meninggalkan panti asuhan.
Arinda memasuki panti asuhan, tampak anak anak sedang sibuk bermain, ada yang belajar dan mengaji.
“Assalammualaikum” sapa Arinda pada Anak anak panti asuhan.
“Waalaikum salam kak Arinda” sapa para anak anak sambil menyalami Arinda.
“Ibu panti di mana?” tanya Arinda pada salah satu staff panti Asuhan.
“ada dikantor, mbak langsung ke kantor saja” kata staff panti.
“Baiklah, terima kasih ya” arinda lalu berjalan menuju kantor panti asuhan. Arinda menyusuri lorong bangunan menuju kantor kepala panti.
Di kantor kepala panti, Oma ayu sedang mengunjungi panti asuhan untuk memberikan sumbangan.
“Bagaimana kabar keadaan panti bu?” tanya oma Ayu pada ibu kepala panti.
__ADS_1
“Alhamdulillah nyonya dengan bantuan dari perusahaan nyonya, beberapa anak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih baik”
“ aku senang mendengar anak anak disini bisa bersekolah dengan baik, terlebih mereka juga berprestasi”
“Terima kasih nyonya, berkat bantuan anda anak anak panti bisa hidup dengan layak”
Ibu panti dan Oma Ayu tengah asyik berbincang bincang
Tok...tok...tok..
Terdengar ketukan pintu membuat ibu panti dan oma Ayu melihat ke arah pintu ruang kantor
“Sebentar ya nyonya,” ibu panti melangkah ke pintu ruangannya.
Pintu terbuka, Arinda melemparkan senyuman manis melihat ibu panti.
“Nak Arinda,” sapa ibu panti
“assalammualaikum bu,” arinda memeluk ibu panti seraya cipika cipiki Dengannya.
“Waalaikum salam nak, ayo mari masuk” ibu panti mengajak Arinda masuk ke ruangannya.
Arinda melihat seorang nenek duduk di sofa kantor yang tidak lain adalah oma Ayu.
“Maaf sepertinya Arin mengganggu, Arin nggak tau kalo ibu ada tamu. Lebih baik Arin nunggu di luar saja” kata Arinda.
“Oh nggak apa – apa nak, gabung saja bersama kami” kata oma Ayu menatap Arinda dengan seksama.
Oma Ayu merasa pernah melihat Arinda,
“Kamu bukannya...” oma Ayu baru teringat dengan Arinda, perempuan yang pernah menolongnya.
"maaf apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Arinda.
"Kamu yang menolong ku saat hampir di tabrak mobil" oma Ayu mengingatkan Arinda pada Saat Arinda menolongnya.
Arinda teringat dengan nenek yang menghilang saat dia dan Daniel sedang bertengkar.
*************
Sambil menunggu up, boleh mampir ke karya terbaru ku " Cinta Sabrina"
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1