
Rasa rindu di hatinya menuntun langkahnya berdiri di bawah tangga sebelum memasuki lorong menuju kamar mandi. Setelah selesai dengan urusannya Arinda berjalan melewati lorong, tepat di depan lorong di bawah tangga langkahnya terhenti saat detakan jantungnya berdetak cepat.
Daniel menatap Arinda yang berhenti tepat di hadapannya dengan posisi membelakanginya. Kedua tangannya dia lingkarkan ke pinggang ramping Arinda, dagunya di letakkan di bahu kirinya. Mata Arinda membulat sempurna saat Daniel memeluk erat dirinya dari belakang.
“ aku.... Merindukanmu, sangat merindukanmu” ucap Daniel membuat jantung Arinda berdetak semakin cepat.
“Tahukah kamu, rasa rindu ini membuatku sulit bernafas dan Hari ini saat bertemu dengan mu aku merasa bisa bernafas lagi” kata Daniel memeluknya dengan erat, menutup matanya merasakan kehangatan di hatinya. Bau Harum yang selama dua minggu ini di rindukannya, menjadi candu baginya.
Arinda diam mematung di tempatnya berdiri, entah mengapa kini hatinya terasa hangat dan tenang. Irama debaran jantungnya seirama dengan detak jantung Daniel.
Nggak Arin, lu kuat jangan lemah
suara hati menguatkan tekad Arinda.
Perlahan Arinda melepaskan tangan Daniel yang memeluknya, dia melangkah sedikit memberi jarak antaranya dan Daniel. Ia membalikkan tubuhnya menatap ke arah mata Daniel.
Daniel memiliki pemikiran lain melangkah maju bermaksud untuk memeluk Arinda. Dengan cepat Arinda melangkah mundur membuat Daniel bertanya -tanya di dalam hati.
“Ada apa?” sorot matanya menatap Arinda.
Dengan sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Daniel
“Maafkan saya tuan muda, mungkin menurut anda saya adalah perempuan egois. Jujur saya tidak cukup tahu apa itu cinta, anda lebih pantas dengan perempuan yang sama dan sederajat dengan anda. Saya tidak pantas dengan anda karena saya adalah orang yang salah. Anda orang hebat tentunya banyak perempuan yang lebih layak dan pantas bersama anda. Maafkan saya membuat anda kecewa” kata Arinda yang akan melangkah pergi, daniel dengan cepat meraih tangan Arinda menariknya untuk mendekat, tangan kirinya meraih pinggang Arinda mendekatkan hingga tidak ada jarak di antara mereka.
Mata elang Daniel menatap tajam ke kedua mata Arinda yang tampak berkaca-kaca. Kedua tangan Arinda berada di dada bidang Daniel, tangan kanan Daniel membelai lembut wajah Arinda dan berhenti di pipi mulus nya. Ibu jari tangan kanan Daniel menyeka butiran air bening yang menetes dari mata indah Arinda.
“Kamu berbohong, berhentilah membohongi dirimu sendiri. Kamu juga merasakan perasaan yang kurasakan saat ini” kata Daniel menatap Arinda,
“ Saya tidak berbohong pada Anda”
“Jika kamu tidak berbohong, untuk apa mata indah ini memberikan jawaban yang berbeda dengan apa yang kamu ucapkan padaku” kata Daniel, menatap kedua mata Arinda.
Perlahan-lahan Daniel mendekatkan wajahnya, bibirnya yang sexy mengecup mata indah itu lalu mengecup pipi yang kini merona merah.
__ADS_1
Daniel menatap wajah Arinda membelai lembut pipinya, tatapan itu berakhir di bibir berwarna pink yang selalu di polesi dengan pelembab bibir beraroma strawberry
Arinda terpesona dengan perlakuan Daniel yang sangat lembut dan hangat.
Ibu jari Daniel membelai lembut bibir bawah Arinda, perlahan lahan Daniel mendekatkan wajahnya kembali hingga bibir mereka kembali bertemu. Daniel memagut lembut bibir Arinda dengan lembut membuat bibir Arinda sedikit terbuka. Dengan lancang lidah Daniel memasukinya, mengabsen setiap detail yang ada menyesap sensasi bibir Arinda yang memberikan rasa candu baginya.
Arinda menutup matanya terbuai dengan perlakuan lembut Daniel. Dia menikmati sensasi kelembutan bibir mereka yang menyatu saling memagut lembut, hingga Arinda lupa caranya bernafas.
Daniel perlahan melepas pagutannya membiarkan Arinda dapat bernafas dengan tenang. Matanya menatap teduh mata indah Arinda, dia kemudian mendekatkan wajahnya berbisik di telinga Arinda
“tidak ada perempuan yang layak di sampingku kecuali dirimu” bisik Daniel di telinga Arinda, membuatnya tersadar dari pesona mata elang itu.
Arinda sedikit mendorong Daniel, melepaskan diri dari pelukan daniel. Dia melangkah mundur dan segera melangkah cepat kembali ke meja makan. Jantungnya berdebar dengan cepat,
Arin bodoh banget si lu, dari kemaren udah mantap untuk nge jauhi Daniel sekarang lu malah ciuman ama dia. Aduuuh Rin, kenapa lu plin plan gini rutuk Arinda dalam hati, dia duduk kembali di samping oma Ayu.
Maya dan Cantika menatap ke arah Arinda,
“tika, kayaknya terjadi sesuatu sama Arinda” bisik maya.
Oma Ayu melihat wajah Arinda yang begitu merona,
“Sayang, kamu baik-baik saya? Wajah kamu merona sekali” tanya oma Ayu membuat semua orang menatap ke arahnya.
Arinda terdiam, dia memegangi ke dua pipi menatap ke arah oma Ayu. Tak selang berapa lama Daniel kembali duduk di kursinya di samping Arinda dengan wajah Datar tanpa dosa.
Sumber masalah malah tenang-tenang gitu. Ini semua gara-gara ni orang, buat gue dalam masalah nggak tahu musti jawab apa guman Arinda bingung harus menjawab pertanyaan oma Ayu.
“arinda hanya merasa kepanasan aja kok oma” alasan Arinda.
Davira, Ansel, Cantika dan Maya mengerti dengan kegugupan Arinda. Mereka tahu alasan kenapa wajah Arinda merona dan pelaku sebenarnya yang menyantap makan siang tanpa merasa bersalah.
Ni cowok udah bikin gue dalam masalah, dianya malah enak makan tanpa beban gitu. Guman Arinda kesal.
__ADS_1
“kamu sakit sayang?” kini Aileen bertanya mencemaskan keadaan calon menantunya.
“Nggak, Arin nggak apa-apa kok mo mommy. Mungkin karena cuaca sedikit panas” alasan Arinda yang terdengar cukup aneh bagi Aileen.
Davira mengode Aileen dengan tatapan matanya ke arah Daniel, memberi tahu jika alasan wajah Arinda merona ada di sampingnya.
Aileen mengerti, senyuman senang kembali terukir di bibirnya. Maira ibu Amanda heran melihat Arinda memanggil Aileen dengan sebutan mommy dan perhatian Aileen.
“Maaf jeng Aileen, aku lihat anda sangat dekat dan perhatian dengan salah satu staff Wo Pearl Stars” kata Maira penasaran. Begitu juga Amanda, dia melihat perhatian berbeda dari Aileen untuk Wo yang mengatur acara pernikahannya.
“nggak apa-apa jeng Maira, aku memakluminya. Nona wo itu namanya Arinda, dia akan segera menjadi bagian dari keluarga Arsenio” kata Aileen, disambut senyuman bahagia dari oma Ayu, Michael, Darren, Davira dan tentunya Daniel.
“Jadi nona Arinda ini calonnya nak Daniel?” tanya tuan Handoko.
“Tidak” “iya” Arinda dan Daniel menjawab serempak membuat keluarga Handoko kebingungan.
“nona Arinda menjawab tidak dan nak Daniel menjawab iya. Jadi, yang benar yang mana?” tanya Tuan Handoko bingung.
“Maksud Arin, tidak karena aku belum melamarnya membuatnya ragu dengan keseriusanku. Dan jawaban ku iya karena dia menjadi pelabuhan terakhir untukku dan aku ingin bersama dengannya hingga maut memisahkan kami” kata Daniel menggenggam dan menatap mata Arinda.
Semua yang mendengar pengakuan hati Daniel tersenyum senang dan bahagia.
“aaaaa romantisnya, akika juga mau seperti Arinda. Nggak pa-pa deh kalo akika menjadi cadangannya” kata maya meleleh mendengar pengakuan Hati Daniel.
************
tetap terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss
🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗