
“woi Vin si Arin kagak bakalan kangen ama lu. Yang ada dia muntah ngelihat tingkah ajaib lu” sela Sean, membuat Arinda tersenyum.
Evan tampak terpukul dan patah hati tingkat dewa, dia terkejut dengan kenyataan saat perempuan yang di sukainya sudah ada pemiliknya. Dia masih menatap Arinda dengan tatapan sedih, hal itu di sadari Daniel yang mengawasinya sedari tadi.
Untuk ke sekian kalinya aku kalah cepat dengan kamu, Dan. Mungkin jika aku yang lebih dulu berkenalan dengan Arinda tentunya aku yang sekarang ada di posisi itu Evan menatap sedih Arinda.
“sorry aku balik duluan” Evan memilih pergi meninggalkan ruangan Daniel begitu saja, membuat Arinda bingung juga heran.
“apa aku ganggu acara mu sayang?” tanya Arinda merasa tidak enak hati.
“nggak kok sayang, mereka hanya mengajak aku untuk ngumpul di Cafe. Tapi hari ini aku akan memanjakan istriku yang cantik ini” Daniel mencium pipi Arinda tepat di depan Sean, Ansel dan Arvin.
“mata gua, mata gua udah nggak suci lagi sudah ternoda. Ingat tempat woi, main *****-***** aja. Lebih baik gua nyusulin si Evan dari pada nonton adegan dewasa” ujar Arvin segera menyusul Evan.
“ya udah gua susulin para bocah lacknut itu, bisa-bisa mereka bikin keonaran” kata Sean berlalu pergi yang langsung di angguki Daniel. Ansel memilih menyelesaikan pekerjaannya meninggalkan Arinda dan Daniel yang masih menebarkan bunga-bunga Asmara.
“Sayaaang....” tatap kesal Arinda pada Daniel yang tersenyum nackal. Dia memang sengaja melakukan hal itu untuk mengusir para lalat-lalat yang mengganggu.
***
Sean, Ansel dan Arvin tahu jika saat ini Evan kecewa dan sedih, tapi cepat atau lambat Evan akan tahu juga siap Arinda sebenarnya. Sean dan Arvin menemani Evan yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, mereka mengikuti dengan mobil milik mereka masing-masing.
Evan menghentikan mobilnya di salah satu pub terbaik di kota J, hentakan musik terdengar cukup keras. Sean dan Arvin menatap Evan yang turun dari mobilnya masuk ke dalam pub, mau tidak mau mereka pun ikut masuk.
Mereka berdua sudah lama insaf dan tidak pernah masuk ke dalam pub lagi, kali ini mereka berdua terpaksa masuk ke dalam pub itu untuk menemani teman mereka yang sedang galau tingkat dewa.
Mereka mengedarkan pandangan mereka ke segala penjuru pub, salah seorang petugas di pub itu mengenal Arvin.
“tuan Arvin” sapa petugas itu.
" lu liat Evan?” tanya Arvin to the point.
__ADS_1
“tuan Evan ke lantai atas pub VVIP, mari saya antar” petugas itu mengantar Arvin dan Sean ke lantai atas gedung pub itu.
Pub yang mereka kunjungi terdiri tiga lantai, lantai pertama di dominasi kalangan muda mudi serta orang-orang yang sedikit berada. Hentakan music dari dj membuat lautan manusia di lantai pertama pub itu bergoyang.
Lantai kedua khusus untuk para tamu VVIP dari kalangan kaum eksekutif dan para sultan. Di iringi dengan musik elegan khas para sultan yang mencari ketenangan dengan meminum minuman beralkohol dengan harga yang menguras kantong.
Arvin dan Sean melihat Evan yang sedang duduk di counter bar sedang menikmati minuman berwarna gold. Mereka berdua lalu menghampiri Evan yang memegang gelas, kesedihan terlihat jelas di wajahnya. Untuk ke dua kalinya Evan merasakan patah hati,
“ bro, udahlah nggak usah lu sedih begini. Masih banyak cewek-cewek yang bakalan ngantri buat lu” hibur Arvin duduk di sebelah Evan, dia dan Sean masing-masing memesan soft drink.
“Huh.... (Menghela nafas berat) Sudah kedua kali Daniel berhasil mengalahkan ku, selalu mengambil setiap cewek yang ku cintai” ujar Evan menatap gelas minumannya.
“ayolah Bro, kita semua tahu kalo itu tidak benar. Mantan cewek lu aja yang nggak benar, pacaran ama lu malah ngejar si Daniel yang jelas-jelas udah pacaran ama Alexa. Seharusnya lu bisa bersikap bijak saat ini, Arinda dan Daniel udah menikah bersikap lapang dada doakan kebahagiaan untuk mereka” nasehat Sean membuat Evan semakin kesal dan terpuruk.
“seharusnya Arinda bertemu dengan aku, tentunya saat ini aku yang berada di sisi Arinda bukan Daniel” kata Evan dengan kesal, dia menggenggam kuat gelas tebal di tangannya.
Minuman yang ditenggaknya adalah alkohol dengan tingkat tinggi, dia sengaja memesan agar bisa menghilangkan rasa sakit di hatinya.
Arvin tidak sengaja melihat Vivi yang juga melihat ke arah Sean, Evan dan Arvin.
“Se, bukannya itu wanita lacknut?” tanya Arvin menatap Vivi yang terlihat sangat kacau, Sean menjawab pertanyaan Arvin dengan mengangguki kepalanya.
Vivi menatap mereka dengan tatapan kesal dan cemberut, Dia berdiri dari kursinya berjalan sedikit sempoyongan menuju ke arah mereka bertiga.
“kalian... Kalian jahaaaat....” Vivi mulai berbicara tidak jelas. Evan menatap Vivi dari ujung kepala sampai kaki, lalu menatap kedua temannya.
“mereka berdua memang jahat, tidak mengerti bagaimana patah hatinya kita yang benar tulus mencintai” Vivi mendorong Arvin untuk pindah tempat duduk. Terpaksa dia menuruti, lebih sulit menghadapi perempuan yang mabuk dan patah hati seperti Vivi saat ini.
Vivi menyuruh bartender untuk membuatkan minuman untuknya, dengan terpaksa dia membuatkan minuman. Arvin dan Sean hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah dua pemabuk di samping mereka.
Evan masih bisa mengontrol dirinya dan berperilaku waras, dia masih bisa mengerti juga mengingat apa yang di bicarakan Sean dan Arvin.
__ADS_1
Dua orang berpakaian hitam di sudut pub itu menatap Vivi sedari tadi, mereka melihat dengan tatapan penuh nafsu ke arahnya dan memiliki niat tersembunyi. Salah satu dari mereka sengaja memesan soft drink yang sudah di campur dengan obat.
Mereka tidak bisa mencampur obat itu ke dalam alkohol karena bisa berakibat fatal. Dengan mencampurkan ke dalam soft drink obat itu dapat membuat siapa yang meminumnya akan bertindak sesuai dengan keinginan mereka.
Dengan membayar seorang waiter mereka menyuruh untuk memberikan minuman pada Vivi. Waiter itu mengangguk lalu menghampiri Sean, Evan, Vivi dan Arvin,
“Permisi nona, ada kiriman soft drink dari penggemar anda” bohong Waiter.
“Hahahaha kalian liat, aku Vivi punya penggemar dan lebih dati istrinya Daniel. Tapi...huhuhu.... Kenapa .... Kenapa Daniel tidak melihatku....” tangis Vivi menjadi, Arvin menyuruh waiter itu meletakkan minuman di meja mereka.
Arvin dan Sean hanya bisa menatap prihatin pada sepasang anak manusia yang menghibur diri dengan minuman memabukkan. Vivi merebahkan kepalanya di atas kedua tangan yang terlipat di atas meja. Dia merasa sangat pusing dan ingin menenangkan kepalanya.
*************
dear para readers...
mohon maap 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 karena sedikit terlambat up-nya akibat adanya kesalahan jaringan.
secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1