Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 301


__ADS_3

Mataram deh akika, ni pere sastra tinta puas kalo akika tinta ngasih tahu kebenarannya gumam Maya dengan wajah sedikit panik.


“may... lu kok malah bengong. Si Evan gi mana mak? Apa dia udah di kamar perawatan sama seperti gue?” tanya Arinda penasaran.


My bunny... udah dung nanyain akika. Tinta mungkin akika ngasih tahu ye sebenarnya kalo tu lekong udah ke alam sana Maya benar-benar dilema tidak tahu harus berkata apa.


“May, kok lu malah diem aja?” Arinda mendesak Maya untuk berbicara.


Maya benar-benar kebingungan menghadapi Arinda, akhirnya karena terus di desak Arinda Maya mengatakan kebenaran tentang Evan.


“Rin... ye musti tenang. Setelah ye mendengar hal ini, ye jangan menyalahkan diri sendiri. karena ini semua sudah jalan pilihan yang Evan pilih” Maya lalu menceritakan perihal meninggalnya Evan pada Arinda. Mendengar semua cerita Maya membuat Arinda terkejut sekaligus sedih, dia tidak menyangka Evan akan rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Daniel.


Dia teringat dengan mimpinya saat Evan dengan tersenyum hangat menyapanya, Arinda sama sekali tidak pernah menyangka jika itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Evan.


Wajah Arinda terlihat begitu sedih, dia terdiam menatap ke arah jendela di kamarnya. Matanya tampak berkaca-kaca hingga air mata sebening kristal itu jatuh menetes di pipinya, dia teringat dengan mimpinya bertemu dengan Evan.


Evaan... terima kasih... terima kasih... semoga kamu tenang di sana... gumam Arinda dalam hati, Maya ikut merasa sedih.


“bunny... ye jangan sedih dong, kalo ye sedih akika juga sedih nih. Itu makanya Akika tinta mau ngasih tahu ye tentang lekong ntu, karena akika tinta mau ye menyalahkan diri sendiri dan menjadi shock juga tertekan” Maya tampak sangat khawatir dengan kondisi Arinda.


Pintu kamar perawatan Arinda terbuka, Maya melihat ke arah pintu di mana Ifan juga Daniel baru datang. Mata elang itu terkejut saat melihat istrinya menundukkan wajahnya, terdengar isakkan tangis dari istri yang di cintainya. Daniel segera menghampiri Arinda, Maya yang semula duduk di tepi ranjang samping Arinda langsung berdiri langsung di gantikan Daniel duduk dengan perasaan cemas di hati.


“Sayang... kamu kenapa sayang? Siapa yang membuatmu menangis?” Daniel dapat melihat Arinda menitikkan Air matanya. Arinda menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah masih tertunduk sedih. Mata elang itu menatap ke arah Maya meminta jawaban atas apa yang terjadi pada Arinda.


Setengah berbisik Maya memberi tahu jika Arinda sudah tahu perihal Evan,


“Diana tahu kalo si Evan udah mataram, diana tadi desak Akika buat ngasih tahu sebenarnya” bisik Maya merasa bersalah.

__ADS_1


Daniel terdiam menatap istrinya yang masih meneteskan air matanya, dia tidak bisa menyalahkan Maya atas apa yang terjadi. Cepat atau lambat Arinda kelak pasti akan mengetahui apa yang terjadi pada Evan sebenarnya.


Ifan tahu jika saat ini Daniel ingin berbicara berdua saja dengan kakaknya, dia lalu menarik tangan Maya untuk mengajaknya keluar dari kamar Arinda.


Daniel duduk di samping ranjang Arinda yang duduk bersandar dengan nyaman di ranjang yang sudah di tinggikan oleh Maya. Wajahnya masih tertunduk sedih membuat Daniel khawatir dan cemas.


“sayang....” sebelah tangan Daniel mengangkat wajah cantik Arinda, kedua tangannya menempel di wajah cantik itu. Mata indah itu berkaca-kaca, sebening kristal air mata itu jatuh membasahi pipi Arinda. Hijabnya pun tak luput basah karena air mata yang menetes.


“Sayang.... Sudah jangan menangis, ini semua sudah suratan dari yang Maha Kuasa, kita semua harus bisa menerimanya. Cepat atau lambat kita juga akan mengalaminya, Kamu jangan merasa terbebani oleh hal ini, Evan pastinya tidak ingin kamu menyalahkan dirimu sendiri” Daniel menyeka air mata yang jatuh ke pipi Arinda. Wajahnya tampak sangat sedih, membuat Daniel terenyuh melihat sepasang mata cantik tampak berkaca-kaca.


Daniel mendekat ke arah istrinya, memeluk tubuh yang masih lemah untuk memberikan ketenangan.


“Sayang... maafkan aku... maafkan Aku karena aku tidak becus menjadi istrimu. Di saat kamu sedih dan menderita kehilangan sahabatmu, seharusnya aku berada di samping untuk menghibur mu” Arinda semakin sedih, Daniel termenung dengan jawaban yang di ucapkan istrinya. Dia menyangka Arinda akan merasa bersalah atas meninggalnya Evan hingga akan membuatnya stress dan terbebani. Daniel perlahan-lahan melepaskan pelukannya, menatap kedua manik mata Arinda yang basah karena air mata.


“Sayang.... bagiku... kamu adalah istri yang sangat sempurna. Kamu adalah penyempurna dari segala kekurangan ku, keberadaanmu sangat berarti untukku. Kamu tahu aku merasa diriku yang tidak pantas untuk berada di samping mu, berkali-kali kamu harus mende....” ucapan Daniel terhenti saat tangan sebelah kiri Arinda menutup bibirnya. Kepalanya menggeleng perlahan karena tidak menyukai dengan apa yang akan di katakan Daniel.


Ciuman manis yang begitu memabukkan, Arinda menutup matanya merasakan sensasinya. Ciuman itu berlanjut ke tahap di mana mereka saling memagut, mereka berdua tidak menyadari kehadiran seseorang yang tidak lain adalah Aileen datang dengan wajah penuh kekesalan.


“Daniel Arsenio” tangan Aileen meraih telinga Daniel segera menjewernya dan menariknya. Ciuman mereka terhenti saat Aileen dengan tega menarik telinga Daniel.


“Mom... Mom... Sakit” Daniel melepaskan tangan Aileen dengan perlahan dari telinganya. Dia masih duduk di samping ranjang Arinda, tangannya mengusap-usap telinga yang tampak kemerahan. Arinda merasa sangat prihatin dengan keadaan telinga suaminya.


***


Aileen baru turun dari mobil sambil menggendong Nufaira melangkah beriringan bersama Amanda. Terlihat body guard merangkap supir membawa beberapa paper bag berisi pakaian bersih untuk Daniel dan juga sarapan. Mereka melangkah menuju ruang ICU, langkah mereka terhenti saat melihat ke arah kaca Ruang ICU di mana Arinda di rawat kosong melompong.


“Di mana Arin?” Aileen cemas dan panik, pikiran buruk pun bermunculan di benaknya.

__ADS_1


“mommy tenang dulu ya, biar Amanda coba tanya pada perawat” Amanda meminta Aileen untuk tenang dan duduk di ruang tunggu. Dia segera bertanya pada perawat yang baru keluar dari ruang ICU.


“Maaf suster, di mana pasien di ruang ICU itu?” Amanda menunjuk ke arah ruang ICU.


“Maksud anda pasien bernama nyonya Arinda?” tanya perawat itu kembali.


“ iya benar suster”


Perawat itu menyunggingkan senyuman ramah pada Amanda, hal itu dapat disimpulkan olehnya jika Arinda dalam keadaan baik-baik saja.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


maaf pada semua reader🙏🏻


🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2