
Maya masuk ke ruangan Daniel tapi langkahnya terhenti karena Arinda masih senantiasa berdiri di depan pintu.
“Ariiiin ayo capcus” kata Maya langsung memegang tangan Arinda.
Daniel kala itu sedang memegang pensil langsung mematahkannya saat melihat Maya menggandeng tangan Arinda. Langit yang terlihat cerah mendadak kembali gelap saat Maya masuk beriringan dengan Arinda.
Pandangan menusuk dan dingin dapat di rasakan oleh Ansel yang berdiri tidak jauh dari Daniel.
Maya cepat lepaskan tangan anda jika tidak ingin melihat Raja iblis mengamuk kata Ansel terus melihat Maya menggandeng tangan Arinda.
“ Maaf ya my idol, akika ganggu. Atas perintah dari nyonya Aileen, akika mau mengukur my idol sekarang “ kata maya langsung mengeluarkan meteran lalu meminta Arinda untuk mencatatnya.
Daniel masih menatap tajam Maya yang tidak tahu apa-apa.
"aduuh my Idol, jangan liatin akika trus dong. akika kan jadi maluku" kata Maya tersipu-sipu. Ansel hanya tersenyum melihat tingkah Maya yang tidak ada takutnya.
Daniel lalu berdiri dari kursi kebesarannya berjalan melangkah ke depan meja miliknya. Dia menyandarkan tubuhnya dengan duduk sedikit di meja kerjanya. Dia memberi kode pada Ansel untuk jangan memberi catatan ukuran pada Maya.
Maya yang akan memulai pekerjaannya langsung terhenti dengan kode tangan yang di berikan Daniel.
"kenapa my idol?" tanya Maya heran saat Daniel menghentikannya.
“Aku mau dia” kata Daniel langsung menunjuk Arinda untuk melakukan tugas yang seharusnya di kerjakan Maya.
“Maksudnya” tanya Arinda bingung.
“Aku mau kamu yang mengukurnya” kata Daniel kembali dengan dingin.
Maya dan Ansel tersenyum senang, maya langsung memberikan meteran ke tangan Arinda.
“ayo capcus Rin. Ini permintaan tuan Daniel loh makin cepat di kerjakan makin cepat kita balik” kata Maya.
“ Tapi aku nggak ngerti caranya may” kata Arinda.
“lu kan sering liat akika cara ngukur gi mana. Udah sana cepat kerjain” kata Maya mendorong Arinda.
Maya mengambil buku catatan di tangan Arinda yang tampak ragu-ragu.
__ADS_1
“ udah sana cepetan deh,” kata Maya lagi. Mau tidak mau Arinda melakukannya di mulai mengukur tangan Daniel.
Diam -diam Ansel menyerahkan catatan ukuran pada Maya tanpa sepengetahuan Arinda. Dia lalu mengode Maya untuk jangan memberi tahu Arinda.
Arinda menyebutkan Angka pada Maya, dia berpura-pura mencatat di buku catatan miliknya. Daniel menatap Ansel dan Maya, dia mengode untuk meninggalkan mereka berdua Tentunya itu tanpa sepengetahuan Arinda.
Mereka berdua perlahan-lahan keluar dari ruangan Daniel dengan tersenyum senang. setelah mengukur tangan, kini Arinda akan mengukur pinggang sempat ragu saat melihat tangan Daniel dalam saku celana menghalanginya. Daniel tahu lalu mengeluarkan tangannya dan memposisikan tangannya di atas meja, Memberi ruang untuk Arinda mengerjakan tugasnya. Arinda melingkarkan tangannya ke pinggang Daniel dengan meteran di tangannya.
Daniel tersenyum nakal, dia lalu melingkarkan tangannya memeluk pinggang Arinda yang ramping menarik tubuh Arinda hingga dia berdiri sangat dekat. Arinda terkejut menjatuhkan meteran di tangannya, kedua tangannya berada di dada bidang Daniel. Terasa oleh Arinda dada Daniel begitu kekar,
Pasti sangat nyaman jika bersandar di sini kata Arinda terpana dengan cepat dia menggelengkan kepalanya untuk sadar.
Astagfirullah Rin, sadar kamu jangan terlena, ayo Rin kamu pasti bisa mengatasi godaan ini kata Arinda menguatkan tekadnya lagi.
“Tu tuan Daniel, apa yang anda lakukan. Maya dan tuan Ansel memperhatikan kita” kata Arinda sedikit mendorong menjauhi Daniel.
Tangan Daniel yang melingkar di pinggang Arinda menarik dan mendekatkan kembali hingga kini tidak ada lagi jarak di antara mereka.
Arinda merasakan debaran jantungnya semakin kecang,
“ Siapa yang akan memperhatikan kita?” tanya Daniel menatap manik Arinda, mendengar perkataan Daniel dia memalingkan wajahnya melihat ke arah Maya dan Ansel.
Daniel tersenyum melihat Arinda gugup,
“Ke ke ke mana Maya dan Tuan Ansel?” tanya Arinda
“apakah mereka harus berada disini, saat kita seperti ini?” tanya Daniel membuat Arinda semakin gugup.
Mata Arinda menatap mata elang Daniel yang membuatnya terpana.
“baru hanya beberapa jam saja aku tidak melihatmu, sudah membuatku merasa rindu. Tahukah kamu Saat ini aku sangat cemburu” kata Daniel menatap Arinda lama, tangannya melingkar erat di pinggang Arinda.
“ anda cemburu?” tanya Arinda yang di angguki oleh Daniel.
“aku cemburu, aku cemburu pada siapapun yang bisa menemuimu” kata Daniel, pipi Arinda langsung memerah mendengar ucapan Daniel.
Tangan kanan Daniel membelai wajah Arinda,
__ADS_1
“Aku ingin sekali menyembunyikan mu dari siapa pun, aku tidak ingin siapapun melihat wajahmu yang tersipu malu. Pipimu yang merona indah seperti ini” kata Daniel, dia mendekatkan wajahnya lalu mengecup pipi Arinda.
Blushh...
Pipi Arinda semakin memerah hingga ke telinganya, dia semakin gugup.
“tu tu tuan Daniel, ku mohon “ ucapan Arinda terhenti tatkala bibirnya di kecup lembut oleh Daniel. Lagi dan lagi jantung arinda berdetak hebat,
Bisa mati gue kalo jantung gue berdetak kayak gini. Arin jangan jatuh dengan pesonanya pikiran Arin memberi semangat dan menguatkan tekadnya.
“Ke ke ke kenapa tu tuan” ucapan Arinda kembali terhenti saat bibir Daniel dan bibir miliknya bertemu. Bukan hanya sekedar kecupan, Daniel melum*t bibir Arinda dengan lembut. Menggigiti lembut bibir bawah Arinda membuat bibir mungil Arinda sedikit terbuka. Kesempatan yang tidak di sia-siakan Daniel, dia kembali melakukan hal yang sama pada Arinda saat mereka di Mansion.
Mata Arinda yang semula membuka lebar perlahan menutup begitu pun Daniel, mereka terbuai dengan kelembutan ciuman yang membuat Daniel merasa candu untuk terus melakukan lagi dan lagi.
Daniel memagut lembut bibir Arinda, mengabsen setiap detail dengan lidahnya yang mulai mahir, hingga membuat Arinda kembali lupa bernafas.
Perlahan Daniel melepaskan ciuman manis mereka, kedua kening mereka menempel satu sama lain. Mata Arinda masih terpejam dengan nafas yang tersengal sengal
“bernafaslah dengan perlahan” kata Daniel, matanya menatap wajah cantik gadis pujaannya.
Mata Arinda perlahan membuka, menatap wajah tampan Daniel. Dalam pikirannya timbul pertanyaan mengapa Daniel menciumnya lagi, dia seakan tahu dengan apa yang di pikirkan Arinda langsung menjawab
“aku sudah mengatakan pada mu, untuk tidak memanggilku tuan. Hal ini sudah ku ingatkan berkali-kali padamu dan aku memberi hukuman untuk mu agar kamu selalu ingat tempatmu ada di sini bukan pelayanku” kata Daniel, tangan kanan Daniel menggenggam tangan kiri Arinda mengarahkan tangannya tepat ke hati yang sudah tertulis nama Arinda di sana.
Ucapan Daniel memberikan jawaban atas pertanyaan dalam pikirannya, kaki Arinda mendadak lemas. Daniel dengan sigap menahan tubuh Arinda dengan memeluknya erat membelai lembut pipi Arinda dengan sebelah tangannya.
Di saat bersamaan Arvin dan Sean datang mengunjungi Daniel ke perusahaan Arebeon, untuk mengajaknya minum-minum di cafe tongkrongan mereka.
************
tetap terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss
🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗