
Pesawat dari kota SY mendarat dengan mulus di bandara internasional kota J, Arvin dan Aisyah turun dari pesawat lalu melangkah memasuki bandara. Mereka berjalan di iringi dengan Riko dan Ziko yang bertugas membawakan barang-barang milik Arvin dan Aisyah.
Arvin melangkah dengan cepat membuat Aisyah kesulitan mengikutinya, dia lalu berhenti sejenak mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Aisyah. Mereka berdua melangkah bersamaan menuju area kedatangan.
Di area kedatangan Arvin langsung di sambut Yuda dengan wajah di hiasi kantong mata yang sangat parah. Semenjak keberangkatan Arvin ke kota SY, Yuda yang bertanggung jawab atas restoran Arvin. Dia sudah beberapa hari tidak tidur karena harus bolak balik kantor polisi akibat kasus yang menimpa salah satu restoran milik bosnya.
“Aaaaa... Lu kenapa?” Arvin terkejut saat melihat Yuda yang seperti mayat hidup.
“Kagak apa-apa bang, selamat datang nyonya bos di kota J” sambut Yuda dengan lesu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan istri bosnya. Aisyah menatap takjub pada Yuda hanya menganggukkan kepalanya, penampilan Yuda begitu berantakan juga rambut yang acak-acakan namun tidak mengurangi ketampanannya.
Aisyah masih termenung menatap penampilan ajaib Yuda, dia tersadar saat Arvin menjentikkan jari tepat di wajahnya. Lalu dia menatap kembali ke arah Yuda yang masih mengulurkan tangannya,
“Lu beneran kagak apa-apa?” Riko memukul pundak Yuda menyadarkannya,
“Kagak bang” Yuda terlihat seperti orang linglung, Arvin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan Yuda yang terlihat sangat berantakan.
“gi mana dengan kasusnya?" tanya Arvin sambil melangkah menuju mobil yang sudah terparkir di luar bandara.
“ini bang, semuanya sudah ada dalam USB ini, abang bisa mengecek semuanya” ujar Yuda menguap tanpa melihat ke depan,
Buuughh....
“wadaw” Yuda merasa sangat kesakitan di kepalanya setelah terantuk tiang bandara. Dia tidak fokus pada apa yang ada di depannya, sebelah tangan mengusap kening kepala yang memerah karena benturan.
“Yuda... Yuda... bukannya cewek yang lu tabrak malah tiang lu tabrak” Ziko menahan tawanya merasa prihatin dengan Yuda.
“ya... mo gi mana lagi bang. Penyelidikan dari polisi belum kelar ampe sekarang, gua juga musti nonton CCTV di restoran berjam-jam. Jadi sampe sekarang gua blom tidur sama sekali” Yuda kembali menguap.
“udah lu balik aja sekarang ama Riko dan Ziko ke markas. Besok saja kita rapatkan semuanya, biar gua yang bawa mobil ke apartemen bareng bini” Arvin mengambil alih trolley yang di dorong Riko, koper milik Arvin di serahkan Ziko pada Aisyah.
“kalo gitu kita pamit dulu bos” ujar mereka meninggalkan Arvin dan Aisyah di samping mobil milik Arvin.
Setelah menyimpan semua barang-barang di dalam bagasi mobil, Arvin membukakan pintu untuk Aisyah bisa duduk di samping kemudi. Setelahnya Arvin berjalan memutar membuka pintu dan duduk di belakang kemudi, dia menyalakan mobil miliknya lalu melaju menuju apartemen miliknya.
***
__ADS_1
Setelah makan malam, keluarga Arsenio dan lainnya kembali duduk sebentar di ruang tamu. Aileen meminta maid untuk menyiapkan makanan penutup untuk semua orang,
“Tika, sudah berapa persen persiapan pesta pernikahan untuk Arvin?” tanya Aileen,
“sudah hampir delapan puluh lima persen tan, tinggal Arvin dan istrinya fitting buat baju pestanya” ujar Cantika sambil menjelaskan tema wedding party untuk Arvin.
“Dan, apa si Arvin masih lama di SY?” tanya Sean penasaran. Daniel hanya mengangkat bahunya, mata Sean menatap ke arah Ansel menunggu jawaban darinya. Ansel juga menjawab hal yang sama dengan Daniel membuat Sean menjadi bad mood.
Tidak lama ponsel Daniel berdering, tertulis nama Arvin di layar ponselnya.
“sayang sebentar, aku angkat telepon dari Arvin dulu” Ujar Daniel bangkit dari tempat dia duduk sambil mengecup lembut kening Arinda. Dia lalu melangkah menuju ruang kerjanya,
“Rin, si Dan ngomong ama siapa?” tanya Sean penasaran,
“kalo nggak salah Daniel bilang mau bicara dengan Arvin” ujar Arinda membuat Sean langsung menarik Ansel untuk mengikuti Daniel ke ruang kerjanya.
Dalam ruang kerjanya Daniel sedang berbicara dengan Arvin, wajahnya tampak sangat serius.
Tok... Tok... Tok.....
“kenapa?” tanya Daniel menatap ke arah Sean.
“lu ngomong ama si kutu kupret kagak ngajak gua juga Ansel, loud speaker napa Dan. Gua juga mau ngomong ama si fakboy ntu” ujar Sean duduk di kursi depan meja kerja Daniel.
Ponsel Daniel di letakkan di atas meja, dia langsung menekan tombol untuk menlouds speaker agar mereka bisa bicara bersama-sama.
“Woi Dan, napa lu diam aja?” terdengar suara Arvin yang protes di diamkan oleh Daniel.
“woi kutu kupret, lu nikah kagak ngabarin gua. Sekalinya gua tahu malah dari mertua gua” ujar Sean, kilatan mata Daniel menatap ke arah Sean.
“Calon” ujar Daniel dingin, Sean hanya bisa menarik nafas mendapat tatapan dingin dari kakak iparnya.
(aura dingin dengan bayangan iblis berdiri tepat di belakang Author, mendadak atmosfir jadi dingin kayak di kutub selatan menatap tajam dan dingin ke author yang sedang mengetik dengan semangatnya.
plot author : kok merindingnya kayak di kuburan.... hehehehe tuan muda Daniel natap dingin ke author.... maaf bukan kakak ipar tapi calon kakak ipar... peace tuan muda kagak lagi-lagi dah...)
__ADS_1
“iya.. iya calon mertua gua” ujar Sean mengalah agar tidak terjadi perang dunia ketiga.
“ hehehehe sorry babang Sean, gua duluan wisudanya. Udah bosan juga gua sendirian dan jalan ama lu mulu, sekarang udah ada dedek Aisyah yang nemenin gua dua puluh empat jam” Arvin mengecup lembut tangan istrinya, terkembang senyuman manis di wajah cantik Aisyah.
“dasar kutu kupret, lu sengaja manas-manasin gua? Ntar lu...” belum selesai Sean melayangkan protes, Arvin langsung memotong pembicaraannya.
“ntar aja deh, sekarang ada hal penting yang musti gua omongin. Bentar gua nyampe di apartemen, sekitar dua puluh menitan lagi gua hubungi lu pada” Arvin mematikan ponselnya dan memarkikan mobilnya di parkiran basement apartemen.
Dia menurunkan semua barang-barang milik Aisyah juga barang miliknya, tidak tega melihat suaminya yang membawa barang-barang sendiri Aisyah mengulurkan tangannya untuk membantu Arvin membawakan koper besar miliknya.
“kagak usah dek Aisyah, biar abang saja yang membawanya” ujar Arvin membuat Aisyah tersipu malu. Wajahnya semakin merona saat Arvin memanggilnya dengan sayang.
“biar Aisyah bantu bang... abang pasti kesusahan membawa semua barang” ujar Aisyah malu-malu.
“kagak apa-apa dek, abang kuat. Lebih baik Adek tolong tekan tombol lift dan tekan ke lantai apartemen kita ya” pinta Arvin sambil menggeret koper besar dan kecil milik mereka berdua. Aisyah sangat senang Arvin memanggilnya dengan panggilan sayang membuat mereka semakin dekat.
Aisyah menekan tombol lift lalu masuk ke dalam lift membantu menahan pintu aga tidak menutup. Arvin sudah berada di dalam lift lalu meminta Aisyah menekan tombol lantai menuju apartemen mereka.
Pintu lift terbuka, Aisyah membantu menahan pintu lift agar tidak menutup. Mereka lalu menuju kamar Apartemen, tepat di depan pintu Arvin meminta Aisyah untuk membuka pintu dia menyerahkan kunci pada istrinya. Pintu terbuka suasana ruangan tampak gelap gulita, Arvin menghidupkan lampu. Matanya membelalak termenung melihat ruangan apartemennya yang berbeda dari biasanya.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...