Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 100


__ADS_3

"Lepaskan saya, Tuan! Saya berjanji akan pergi dari kehidupan Tuan Riyadh dan Nyonya Ismika, jika itu memang keinginan kalian. Tapi saya mohon, lepaskan saya," lirih Marissa.


Salah satu dari mereka terlihat kesal, ia mengacungkan sebuah pisau tajam bergerigi kepada Dian dan mengancam wanita itu.


"Diam! Atau kamu ingin pisau ini segera menancap di tubuhmu, ha!" hardiknya.


Dian ketakutan, tubuhnya bergetar dan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya.


"Apakah aku akan mati malam ini?" batin Dian.


Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, lelaki sangar itu menghentikan mobilnya. Mereka membuka pintu mobil dan memaksa Dian untuk keluar.


"Sini, ikuti kami!"


Kedua lelaki sangar itu dengan kejam menyeret Dian hingga beberapa kali terjatuh karena tidak bisa mensejajarkan langkahnya dengan langkah mereka yang begitu cepat.


"Jangan sakiti saya, Tuan! Saya sedang hamil, saya mohon!" lirih Dian ketika para lelaki kejam itu menyeretnya tanpa belas kasihan.


Salah seorang dari mereka tertawa setelah mendengar permohonan Dian.


"Apa kamu lupa? Tujuan kami memang untuk melenyapkan dirimu dan juga bayi harammu itu!" hardiknya.


Setelah mengucapkan hal itu mereka kembali menyeret Dian hingga ke pinggir jurang.


"Ucapkan selamat tinggal pada dunia, Dian!"


Gelak tawa kedua lelaki sangar itu memecahkan keheningan malam. Dian terus berpikir bagaimana caranya menyelamatkan diri dari kedua lelaki itu. Ketika salah seorang dari mereka ingin mendorong tubuhnya kearah jurang, Dian meraih jaket kulit yang digunakan oleh lelaki itu dan mencengkeramnya dengan kuat agar tubuhnya tidak jatuh ke bawah.

__ADS_1


"Lepaskan!" kesal lelaki itu.


"Jika aku jatuh, maka kamu pun harus jatuh bersamaku," ucap Dian.


Disaat lelaki itu berusaha melepaskan cengkeraman tangannya, Dian menggigit tangan lelaki itu dengan keras hingga ia menjerit kesakitan dan melepaskan tubuh Dian. Kesempatan itu digunakan oleh Dian untuk lari dan menyelamatkan diri.


Kedua lelaki sangar itu segera mengejarnya, tetapi karena keadaan malam yang gelap gulita, membuat mereka kehilangan jejak Dian. Dian bersembunyi dibalik pepohonan yang rimbun. Kegelapan di malam itu menyelamatkannya dari kematian.


"Bagaimana ini? Bagaimana jika Nyonya Ismika tahu bahwa kita tidak berhasil melenyapkan gadis itu?" ucap salah satu dari mereka dengan wajah panik.


"Aku rasa gadis itu tidak akan berani mendekati keluarga Nyonya Ismika lagi setelah kejadian malam ini. Sebaiknya kita diam dan katakan kepada Nyonya Ismika bahwa kita berhasil melenyapkannya."


"Kamu benar, sebaiknya kita pulang dan nikmati uangnya!"


Setelah kedua lelaki sangar itu pergi meninggalkan tempat tersebut, Dian pun mulai keluar dari persembunyiannya. Dengan tertatih-tatih, Dian berjalan di kegelapan malam. Hingga akhirnya ia menemukan seseorang yang bersedia menolongnya dan membantunya pulang ke negara asalnya.


Flash Back Off


"Aku harus bertindak! Ismika sudah keterlaluan," geram Tuan Riyadh dengan wajah memerah menahan amarahnya.


Dian menghampiri lelaki itu dan menatap matanya tajam. "Sebaiknya Anda lupakan kami, Tuan Riyadh. Aku dan Marissa akan baik-baik saja walaupun tanpa dirimu,"


"Tidak bisa, Dian! Aku tetap akan menikahimu setelah aku membereskan masalahku dengan wanita itu," tegasnya.


Tuan Riyadh berjalan menghampiri Marissa kemudian menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Bolehkah Ayah memelukmu, Marissa?"

__ADS_1


Marissa melirik kearah Marcello dan lelaki itu menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum hangat kepadanya. Perlahan Marissa bangkit kemudian berdiri tepat di hadapan Tuan Riyadh.


Tuan Riyadh membentangkan tangannya dan mempersilakan Marissa untuk memeluk tubuhnya. Marissa pun mendekat kemudian memeluk tubuh lelaki itu dengan erat.


"Maafkan Ayah, Marissa. Seandainya Ayah tahu, Ayah pasti akan memperjuangkan kebahagiaanmu dan juga Ibumu," ucap Tuan Riyadh dengan bibir bergetar.


Marissa terdiam didalam pelukan sang Ayah. Ia dapat mendengar suara detak jantung Tuan Riyadh yang sedang berpacu dengan cepat. Ini pertama kalinya ia merasakan dekapan hangat sang Ayah dan dia merasa sangat nyaman.


"Ayolah, Riyadh! Dia istriku, aku tidak nyaman melihatmu mendekapnya seperti itu. Walaupun aku tahu bahwa kamu adalah Ayah kandungnya!" ucap Marcello dengan wajah masam menatap kebersamaan Riyadh dan Marissa.


"Dia anakku, Marcello!" ketus Riyadh.


"Ya, tapi dia Istriku," jawab Marcello.


Akhirnya Riyadh mengalah, ia melepaskan tubuh Marissa sambil tersenyum hangat. Kini ia menatap wajah cantik itu sambil berucap.


"Suamimu memang menyebalkan, Marissa. Tetapi percayalah, dia yang terbaik untukmu," ucapnya.


Ia menyerahkan Marissa kembali kepada Marcello dan dengan disambut oleh lelaki itu dengan wajah semringah.


"Jaga putriku baik-baik, Marcello. Jangan sakiti dia karena perjalanan hidupnya sudah sangat berat,"


"Tentu saja, Riyadh! Atau aku harus memanggilmu dengan sebutan Ayah mertua?" goda Marcello.


"Hhh, mimpi apa aku, hingga punya menantu seperti dirimu!" gumamnya sambil menggaruk pelipisnya yang terasa gatal.


"Sudah, jangan menggerutu saja! Sekarang bereskan masalahmu. Aku sudah terlibat jauh ke dalam masalah pribadimu dan kuharap, setelah ini kamu bisa bereskan sendiri kekacauan yang kamu buat," jawab Marcello sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


"Ya, sepertinya aku memang harus melakukan sesuatu. Khususnya untuk Ismika," jawab lelaki itu dengan mata menerawang menatap dinding ruangan. Dia masih tidak menyangka ternyata dibalik sikap Ismika yang terlihat lemah lembut, tersembunyi sifat kejam dan tidak berperikemanusiaan terhadap sesama.


...***...


__ADS_2