Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 40


__ADS_3

Di Mansion, semua orang tidak menyadari kepergian Marissa. Termasuk Marcello dan Sarrah.


Didalam kamar Marcello.


"Akh!" pekik Sarrah ketika melihat jarinya semakin membengkak. Bahkan rasa sakitnya sudah menjalar kebagian lainnya. Sarrah panik, ia bergegas keluar dari kamar Marcello kemudian mencari keberadaan calon Suaminya itu.


Sarrah tahu, bahwa lelaki itu sedang berada di ruangan pribadinya. Dengan langkah cepat, Sarrah berjalan menuju ruangan itu. Setibanya disana, ternyata ia benar. Marcello sedang duduk melamun dengan pandangan menerawang menatap langit-langit ruangan.


Tanpa meminta izin, Sarrah masuk kedalam ruangan itu kemudian menghampiri Marcello. Kini Sarrah berdiri tepat didepan wajah lelaki itu, tetapi ia tetap tidak menyadari keberadaannya.


"Marcel ..." panggil Sarrah dengan wajah panik.


Sontak saja, panggilan Sarrah membuat Marcello terkejut. "Ya?!"


"Marcel, tolong aku! Lihatlah jariku, jariku semakin membengkak dan rasa sakitnya sudah menjalar kemana-mana," keluhnya sembari memperlihatkan tangannya kedepan Lelaki itu.


Marcello meraih tangan Sarrah kemudian mengeceknya. "Tuh kan. Aku bilang juga apa, Sarrah! Kamu itu terlalu keras kepala," sahut Marcello dengan wajah kesal menatap Wanita yang sedang berdiri didepan wajahnya.


Marcello bangkit dan menghampiri Sarrah. "Sebaiknya duduk dulu, aku akan panggilkan Dokter," ucapnya sembari menuntun Sarrah ketempat duduk.


Setelah wanita itu duduk di sofa empuk miliknya, Marcello bergegas meraih ponsel yang ia simpan disaku celananya kemudian memanggil Dokter kulit yang ia temui di Rumah Sakit kemarin.


Marcello pun mulai berbincang-bincang seputar jari Sarrah yang semakin membengkak bersama Dokter itu dan akhirnya, Dokter itupun bersedia membantu Sarrah.


"Tunggulah sebentar lagi, Dokter sedang di perjalanan menuju kesini."

__ADS_1


Marcello menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya kemudian duduk disamping Sarrah.


"Bagaimana ini, Marcello? Aku yakin sekali, Dokter itu akan menghancurkan cincin pertunangan kita," ucap Sarrah dengan wajah tertunduk.


Marcello menoleh kepada wanita yang duduk di sebelahnya. Ia mengusap punggung Sarrah dengan lembut kemudian berucap. "Sarrah, lebih baik kehilangan cincin itu daripada harus kehilangan jarimu, 'kan?"


Perlahan Sarrah menganggukkan kepalanya sambil menatap sedih kepada cincin pertunangannya.


"Aku heran, kenapa cincin ini bisa membuat jariku iritasi? Padahal aku 'kan sudah lama sekali berlangganan dengan Toko itu? Apalagi toko itu sudah sangat terkenal dan semua perhiasannya memiliki sertifikat keaslian, lalu ..."


Tiba-tiba saja Sarrah teringat bahwa cincin itu pernah berada di tangan Marissa. Ia curiga, semua ini ada sangkut pautnya dengan Gadis nakal itu.


"Sebentar, Marcel!"


Sarrah menepuk lengan lelaki itu kemudian menatap matanya tajam.


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Tidak mungkin Marissa melakukannya. Lagipula darimana dia menemukan cincin sama persis seperti milikmu, sedangkan aku tidak pernah melihat dia keluar dari rumah ini tanpa Joe disampingnya," tutur Marcello dengan wajah kesal karena Sarrah sudah menuduh Marissa tanpa bukti.


Sarrah mendengus kesal, wajahnya menekuk sembari membalas tatapan tajam Marcello. "Marissa itu gadis yang licik, Marcello! Dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan! Kamu bahkan tidak bisa menduga isi kepala gadis itu, 'kan?!" kesal Sarrah.


"Sudah cukup, Sarrah! Jangan pernah mengatakan hal buruk apapun lagi tentang Marissa! Dia anakku, Sarrah! Sampai kapanpun dia akan tetap menjadi anakku, walaupun kamu tidak pernah menyukainya!"


Marcello melemparkan pandangannya kearah lain. Ia benar-benar kesal ketika Sarrah menjelek-jelekkan Marissa.


"Aku akan menyelidikinya, Marcel! Dan jika itu benar, maka aku tidak akan segan-segan mengambil sikap kepada Gadis kesayanganmu itu!" hardik Sarrah dalam hati.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Dokter itupun tiba. Marcello segera bangkit dari tempat duduknya dan menyambut kedatangan Dokter tersebut.


"Selamat siang, Tuan Marcello."


Dokter itu mengulurkan tangannya kepada Marcello kemudian disambut oleh Lelaki itu. Sedangkan Sarrah, ia hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu.


Dokter itu segera menghampiri Sarrah dan duduk disampingnya. "Mari, Nona. Biar saya lihat lagi jari Anda," ucap Dokter tersebut sembari meraih tangan sarrah kemudian memeriksanya.


Setelah melihat kondisi jari wanita itu, Dokter pun menggelengkan kepalanya. "Cincinnya sudah tidak bisa dilepaskan lagi, Nona. Jadi satu-satunya cara adalah dengan memotong cincin tersebut," tutur Dokter.


Sarrah dan Marcello saling tatap, kemudian lelaki itupun dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Ya, potong saja."


Dengan terpaksa Sarrah pun menyetujuinya. Dan setelah beberapa saat, akhirnya cincin itupun berhasil lepas dari jari manis Sarrah.


"Kondisi jari Anda sudah sangat memprihatinkan, Nona. Terlambat sedikit saja, mungkin jari Anda akan terancam diamputasi."


Pernyataan Dokter tersebut membuat nyali Sarrah benar-benar menciut. Ia ketakutan dan tidak ingin kehilangan jarinya.


Setelah memberikan obat dan salep untuk jari Sarrah, Dokter itupun pamit.


Sarrah meraih cincin yang sudah rusak itu kemudian menyimpannya. Ia ingin memeriksa dan menyelidiki semuanya.


"Jika apa yang aku pikirkan benar, maka bersiaplah berurusan dengan polisi Marissa!" ucap Sarrah dalam hati.


...***...

__ADS_1


Yang Nungguin Marissa kabur, tunggu UP selanjutnya ... 😘😘😘


__ADS_2