Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 296


__ADS_3

Berbeda dari kedua saudara kembarnya, Maria dan Dylan memilih menghabiskan malam pertama mereka di sebuah kamar hotel berbintang.


Dylan membopong tubuh Maria ala-ala bridal style menuju kamar istimewa mereka. Kamar yang sengaja di sewa oleh Dylan khusus untuk Maria.


Maria membelalakan matanya dengan sempurna setelah melihat dekorasi kamar tersebut. "Ya, Tuhan!" pekik Maria.


"Bagaimana, apa kamu menyukainya?" tanya Dylan seraya meletakkan tubuh Maria dengan perlahan ke atas tempat tidur.


Maria mengangguk cepat sambil tersenyum lebar. "Ya, aku suka sekali! Terima kasih, Sayang!" Maria memeluk tubuh Dylan dengan erat kemudian menciumi pipi lelaki itu berulang-ulang.


Bagaimana tidak senang, ruang kamar itu di hias sedemikian rupa dengan semua pernak pernik kucing fenomenal kesayangannya. Bahkan tempat tidur mereka pun tidak lagi terkesan romantis sama seperti pasangan pengantin baru lainnya.


Tiba-tiba Maria terdiam sesaat setelah memperhatikan ruangan itu. Ia berbalik dan menatap Dylan yang sedang berdiri di belakangnya sambil tersenyum hangat.


"Maafkan aku," lirih Maria dengan kepala tertunduk.


Dylan mengerutkan alisnya seraya meraih wajah Maria yang tertunduk. "Kenapa kamu meminta maaf? Apa kamu tidak menyukai kejutan ini?"


"Bukan! Bukan itu, tapi ...." Maria menggelengkan kepalanya dan menatap sedih kepada lelaki yang kini menjadi suaminya itu.


"Tapi kenapa?"


"Kadang aku berpikir, aku sudah keterlaluan sama kamu. Karena kecintaanku terhadap semua ini, aku bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaanmu yang sebenarnya, Om."


"Huh, Om lagi!" kesal Dylan sembari mencubit hidung gadis itu.


"Hehe, maaf. Kebiasaan," sahut Maria yang kemudian memeluk tubuh besar lelaki itu.


Dylan membalas pelukan Maria dengan erat. "Jujur, pada awalnya aku memang merasa keberatan dengan semua keinginanmu yang sangat aneh ini. Namun, semakin lama aku mengenalmu, semakin aku tahu bagaimana karaktermu yang sebenarnya. Dan sekarang aku malah sudah terbiasa dengan semua ini. Aku bahkan sudah tidak canggung lagi saat mengenakan piyama emonku, gelang anehmu, dan sandal bulu-bulu yang selalu menemaniku saat bersantai di rumah," tutur Dylan sambil menciumi puncak kepala Maria.


"Serius?" Maria mendongak.


"Ya, aku serius," sahut Dylan.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang!"


Maria melerai pelukannya bersama Dylan kemudian menatap lelaki itu sambil tersenyum nakal.


"Oh ayolah, Kittyku! Jangan mencoba membangunkan singa yang tidur!"


Maria semakin nekat, perlahan ia melepaskan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya dan membiarkan gaun itu meluncur ke bawah hingga teronggok di lantai kamar.


Dylan membulatkan matanya saat menatap tubuh indah milik Maria yang kini terpampang jelas di matanya. Ia tersenyum dan kemudian ikut melepaskan jas serta rompi yang ia kenakan dengan cepat hingga tubuh kekar dengan perut six pack itu juga terlihat dengan jelas di mata Maria.


Dylan merentangkan tangannya dan menunggu gadis itu menghambur ke pelukannya. Hanya dalam hitungan detik, kini Maria sudah berada di dalam pelukannya.


Maria mendongakkan kepalanya dan jari-jari nakal gadis itu mulai berkeliaran di tubuh kekar Dylan. Sesekali ia mencubit dan memainkan dua buah 'chocochips' yang menempel di dada lelaki itu.


Hal itu membuat bulu-bulu halus di tubuh Dylan merangkat naik. Begitupula sesuatu yang masih bersembunyi di balik celana boxer milik lelaki itu.


"Ternyata kamu nakal, ya!" bisik Dylan sambil menggigit pelan ujung telinga Maria.


"Ya, dan aku sudah tidak sabar lagi ingin menjadi Nyonya Dylan seutuhnya," sahut Maria.


Dylan kembali mengangkat tubuh Maria dan membawa gadis itu ke kamar mandi. Maria kebingungan kenapa lelaki itu malah membawanya ke kamar mandi dan bukannya ke atas tempat tidur empuk mereka.


"Loh, kok malah ke kamar mandi?" tanya Maria.


"Ya, iya lah! Apa kamu ingin kita bercinta dengan tubuh lengket? Aku sih tidak mau," ucap Dylan yang masih membopong gadis itu hingga memasuki kamar mandi kemudian meletakkan tubuhnya di dalam bath up berukuran jumbo tersebut.


Dylan mengisi bath up tersebut dengan air hangat kemudian ia pun turut masuk bersama Maria di dalamnya. Posisi Maria yang sedang duduk di depannya, membuat Dylan dengan mudah menguasai tubuh gadis itu.


Ia menanggalkan braa dan cd berwarna merah muda yang masih di kenakan Maria dan meletakkannya di samping bath up. Kini tubuh Maria polos, tak sehelai benangpun menempel di kulit indahnya.


Dylan juga melepaskan celana boxernya dan kini Maria dapat merasakan dengan jelas senjata lelaki itu mengeras dan mulai bergerak-gerak di belakangnya.


Dylan membasahi tubuh Maria sambil menciumi tubuh gadis itu inci demi inci. Bahkan ia pun mulai meninggalkan tanda merah di kulit putih Maria. Kini tangannya mulai bermain di kedua bulatan kenyal milik Maria, meremassnya dan memainkan puncaknya.

__ADS_1


Setelah puas bermain di kedua bulatan kenyalnya, Dylan meraih tangan Maria dan meletakkannya ke senjatanya. Maria berbalik sambil membulatkan matanya menatap Dylan. Menurut Maria benda itu begitu besar dan panjang, jauh dari perkiraan sebelumnya.


Dylan terkekeh melihat ekspresi Maria. "Kenapa?"


"Astaga, apakah ini asli?" pekiknya.


"Ya, tentu saja. Memangnya kenapa?" tanya Dylan balik sambil tertawa pelan.


"Ya, Tuhan. Apakah aku masih hidup setelah ini?" Wajah Maria nampak pucat dan ia benar-benar serius saat mengajukan pertanyaan itu kepada Dylan.


Dylan tertawa renyah mendengar pertanyaan gadis itu. "Ya ampun, Maria sayang! Tidak akan ada yang mati malam ini. Malah sebaliknya, akan ada mahluk kecil dan mungil yang akan hidup di dalam rahimmu. Apa kamu tidak menginginkan itu? Aku rasa mereka jauh lebih imut dan menggemaskan di banding Hello Kitty kesayanganmu itu," sahut Dylan.


Maria terdiam sejenak dengan tatapan yang masih tertuju pada Dylan. Perlahan ia pun menganggukkan kepalanya.


"Ya, aku mau. Tapi ...." Maria menatap senjata Dylan yang masih aktif tersebut sambil tersenyum kecut. "Kira-kira muat, gak?"


"Muat lah!" sahut Dylan yang kemudian membuka pembuangan air di bath up.


Setelah air di Bath Up kering, Dylan mulai menindih tubuh gadis itu. Ia menaikkan kedua kaki Maria ke samping tubuhnya dan mulai mengarahkan senjatanya ke area sensitif gadis itu.


"Tahanlah, mungkin ini akan sedikit sakit. Hanya sedikit, paling-paling seperti di gigit nyamuk." Dylan mencoba menenangkan gadis itu.


"Benarkah?" tanya Maria ragu-ragu.


"Ya!"


Maria mulai memejamkan matanya dan disaat itulah kesempatan Dylan mendorong kuat senjatanya memasuki lorong sempit milik Maria.


"Aaakkh!" Maria memekik sembari membuka matanya dengan lebar. Ia mendorong tubuh Dylan dengan keras dan keluar dari Bath Up tersebut sambil merangkak.


Dylan kembali terkekeh melihat istri kecilnya kabur padahal pertempuran mereka baru saja dimulai.


...***...

__ADS_1


Maaf, Author baru ketemu Pak Ilhamnya sekarang 🙏🙏🙏 nanti kita sambung lagi ya ... bentaran aja, masih ngetik ini ...


__ADS_2