
Setelah pertemuan itu, akhirnya diputuskan bahwa setelah Maria menyelesaikan ujian akhir sekolahnya, ia dan Aidan akan segera bertunangan.
"Bagaimana Aidan menurutmu, Maria? Dia laki-laki yang baik, 'kan?" Marcello tersenyum sambil memperhatikan ekspresi wajah Maria yang nampak tidak bersahabat.
"Entahlah, Maria tidak tahu," jawab Maria dengan malas.
"Maria, jangan begitu jawabnya. Daddymu serius itu," ucap Marissa sembari mengelus puncak kepala Maria.
"Maria harus jawab apa, Mom. Maria tidak tahu bagaimana sifat Tuan Aidan yang sebenarnya kepada Maria. Kami 'kan baru kenal sekarang, mana bisa menyimpulkan dia itu baik beneran atau cuma pura-pura baik, hanya dalam satu kali bertemu?"
"Ya, kamu memang benar, Gadis Daddy. Tapi, percayalah pada Daddy bahwa pilihan Daddy tidak pernah salah. Aidan lelaki yang baik dan sangat bertanggung jawab," sela Marcello.
"Ehm, ya sudah. Sebaiknya Maria kembali ke kamar. Maria sudah ngantuk," ucap Maria sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Selamat malam, Maria. Semoga mimpi indah," ucap Marissa.
"Malam, Mom, Dad, Kak Marvel!"
Maria pun segera beranjak dari ruangan itu kemudian menuju kamarnya.
Sementara itu.
Melvin sudah berada di sebuah hotel XX yang sengaja disewa oleh Tuan Felix, salah satu rekan bisnis Tuan Marcello, untuk merayakan pembukaan cabang baru perusahaan miliknya.
"Selamat atas keberhasilannya, Tuan Felix," ucap Melvin sembari mengulurkan tangannya kepada lelaki paruh baya itu.
"Terima kasih, Tuan Melvin. Terima kasih juga karena sudah menyempatkan diri hadir ke pesta sederhanaku ini," ucap Tuan Felix sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
"Sama-sama, Tuan Felix."
Disaat semua orang masih menikmati kemeriahan pesta di ruangan itu, Melvin malah merasa sangat bosan. Sudah berkali-kali Melvin melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Itu artinya ia ingin segera pergi dari pesta yang sangat membosankan itu.
Tuan Felix memperhatikan Melvin dari kejauhan dan ia tahu bahwa lelaki itu sudah jenuh berada di dalam pestanya.
"Persiapkan ruangan khusus dan undang Akira untuk menemani pesta kecilku. Aku ingin Akira menemani salah satu putra Tuan Marcello, anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku kepadanya," titah Tuan Felix kepada salah satu anak buahnya.
"Baik, Tuan."
Setelah anak buahnya pergi, Tuan Felix kembali menghampiri Melvin dan duduk di salah satu kursi yang ada di dekat lelaki muda tersebut.
"Tuan Melvin, bagaimana menurutmu pestaku malam ini?"
"Ehm, menyenangkan."
"Tuan Melvin, bisa ikuti aku sebentar?" ajak Tuan Felix sembari bangkit dari tempat duduknya.
Melvin nampak bingung, tetapi ia tidak menolak. Ia segera bangkit dari tempat duduknya kemudian mengikuti Tuan Felix yang sudah melangkah di depannya.
Tuan Felix menuntun Melvin ke sebuah ruangan, ruangan pribadi Tuan Felix. Cahaya remang-remang di ruangan itu, membuat Melvin semakin merasa tidak nyaman.
"Duduklah, Tuan Melvin."
Tuan Felix mempersilakan Melvin untuk duduk disebuah kursi yang memang sudah di persiapkan untuknya. Setelah Melvin duduk, Tuan Felix pun segera menyusulnya dan duduk tak jauh dari Melvin.
"Aku tahu kamu merasa bosan dengan pestaku dan disini aku jamin kamu tidak akan pernah merasa bosan, Tuan Melvin."
__ADS_1
Tuan Felix tersenyum kemudian bertepuk tangan beberapa kali. Para Pelayan bermunculan dengan membawa minuman beralkohol dengan kadar ringan dan beberapa camilan. Mereka meletakkan minuman serta camilan tersebut ke atas meja.
Salah seorang Pelayan menuangkan minuman beralkohol itu ke dalam gelas kosong kemudian menyerahkannya kepada Tuan Felix dan juga Melvin.
"Silakan, Tuan."
"Maafkan saya, tetapi saya tidak minum-minuman beralkohol," tolak Melvin.
Tuan Felix tergelak mendengar pengakuan Melvin. Ia tidak percaya bahwa lelaki yang terlihat 'Nakal' seperti Melvin ternyata menolak minuman itu.
"Tidak apa, Tuan Melvin. Aku berani menjamin bahwa minuman ini tidak akan membuatmu mabuk. Minuman ini hanya akan membuat tubuhmu terasa lebih hangat. Apalagi jika kamu ditemani oleh seorang penari panas yang sangat terkenal dengan kecantikannya, perkenalkan ...."
Tuan Felix segera bangkit dari tempat duduknya kemudian kembali bertepuk tangan sambil meneriakkan nama seorang wanita.
"Ini dia ... AKIRA!!!"
Seorang wanita bertopeng dengan lekuk tubuh yang begitu sempurna melenggak-lenggok di hadapan Melvin dan Tuan Felix.
Tuan Felix begitu antusias menyambut kehadiran Akira, wanita berpakaian seksi yang bekerja sebagai penari erotis terkenal di antara kalangan lelaki hidung belang kelas atas. Tidak sembarangan orang bisa menyewa jasanya dan Akira pun begitu pilih-pilih saat menerima seseorang yang ingin menyewa jasanya.
"Apa kamu mengenalnya, Tuan Melvin? Dia adalah Akira, seorang penari panas yang sangat terkenal. Tidak mudah mendapatkan gadis ini, Tuan Melvin, bahkan aku saja harus memesannya dari jauh hari."
Mata Melvin fokus pada wanita bertopeng dengan pakaian seksi yang sedang menari di hadapannya. Gerakan gemulai bercampur erotis yang ia ciptakan membuat hasrat setiap lelaki yang melihatnya bangkit.
"Siapa dia? Entah mengapa aku merasa sangat mengenalnya," gumam Melvin tanpa berkedip menatap wanita itu.
...***...
__ADS_1