
Tidak berselang lama, Dokter pun keluar dari kamar mandi bersama Sofia dan kembali menuntun wanita itu ke tempat tidur.
Joe serta pasangan kepo itupun segera menghampiri tempat tidur Joe, dimana Sofia kembali berbaring disana sambil memijit kepalanya yang sakit.
"Bagaimana, Dok?" tanya Joe dengan wajah penuh harap menatap Dokter cantik itu. Begitupula Marissa dan Marcello, mereka sudah tidak sabar ingin mendengarkan jawaban dari sang Dokter.
Sebelum Dokter itu menjawab pertanyaan Joe, ia kembali melirik benda kecil yang sedang ia pegang kemudian tersenyum puas.
"Selamat, Tuan Joe. Istri Anda positif hamil," jawab Dokter.
"Oh Tuhan, terima kasih! Terima kasih sudah menitipkannya kepada kami," ucap Joe dengan mata berkaca-kaca menghampiri Sofia.
Ia menciumi wajah Sofia dan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada istri kecilnya itu.
"Oh, Om Joe so sweet," gumam Marissa sembari menyandarkan kepalanya di pundak Marcello.
"Heh, aku juga seperti itu saat tau bahwa kamu sedang mengandung bayi-bayiku," protes Marcello yang tidak terima ketika Marissa menyebut Joe itu manis.
Setelah Dokter yang memeriksa Sofia pamit, Marcello kembali menggoda Joe.
"Puasa dulu ya, Joe! Beruntung aku sudah melewati masa-masa itu," ucap Marcello sambil terkekeh.
"Sofia, berdoalah agar yang ngidam Om Joe, bukan kamu! Biar Om tahu bagaimana rasanya ngidam," sambung Marissa.
"Benar! Biar dia merasakan apa yang pernah aku rasakan! Dan kamu tahu bagaimana rasanya, Joe? Benar-benar nikmat," timpal Marcello sambil tertawa jahat.
"Dasar, majikan somplak! Bukannya mendoakan yang baik-baik, malah mendoakan yang tidak-tidak. Hmm, nasib-nasib," keluh Joe dalam hati.
Joe hanya bisa tersenyum walaupun sebenarnya dia sedang kesal. Sedangkan Sofia, jangankan membalas ucapan pasangan itu, membuka matanya saja ia sudah tidak sanggup.
"Sebaiknya kita kembali saja, Dad. Biarkan Sofia beristirahat," ucap Marissa.
__ADS_1
Marissa menghampiri Sofia yang masih tergolek di atas tempat tidurnya dengan mata terpejam. Ia meraih tangan Sofia kemudian menggenggamnya.
"Selamat ya, Sofia."
Sofia membuka matanya dan mencoba tersenyum kepada Marissa.
"Terima kasih, Nona. Rasanya saya sudah tidak sabar menanti hari, dimana bayi-bayi kita lahir dan meramaikan tempat ini," jawab Sofia.
"Ya, aku juga."
Setelah mengucapkan hal itu, Marissa pun pamit dan mengajak serta suaminya meninggalkan kamar Joe. Namun, sebelum Marissa dan Marcello benar-benar keluar dari ruangan itu, lelaki jahil itu masih sempatnya meneriaki Joe sambil tertawa jahat.
"Selamat berpuasa, Joe!" ucapnya di sela tawa jahatnya.
Joe menghembuskan napas berat sambil menggelengkan kepalanya.
"Seandainya aku tidak menyayangi lelaki itu, mungkin aku sudah lama kabur dari mansion ini. Coba kamu dengar ucapan-ucapannya. Sungguh mengesalkan, bukan," gerutu Joe.
"Ya, sikapnya begitu mengesalkan dan sialnya aku begitu menyayangi lelaki itu," ucap Joe lagi.
. . .
Malam pun menjelang.
Semua penghuni mansion sedang terlelap di alam mimpi mereka masing-masing. Kecuali para penjaga keamanan yang masih stay berjaga di tempat itu.
Begitupula pasangan Joe dan Sofia. Walaupun malam ini adalah malam pertama Joe mulai berpuasa, tetapi lelaki itu berhasil melewatinya demi sang buah hati.
Tiba-tiba saja Sofia terbangun dari tidurnya, mungkin karena tadi ia tertidur lebih awal. Beruntung, sekarang rasa sakit di kepala Sofia sudah mulai berkurang. Ia bangkit kemudian duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
"Mas ... mas ...," ucap Sofia sembari menggoyang-goyangkan tubuh Joe yang sedang terlelap di sampingnya.
__ADS_1
"Mas, bangun. Buka matanya!" titah Sofia.
Namun, lelaki bertubuh besar itu tidak juga bergerak. Sofia kesal, ia memencet hidung Joe hingga lelaki itu kesusahan bernapas.
"Apaan sih, Sayang?!" gumam joe sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Bangun, temani aku."
Joe mengucek matanya yang masih kabur kemudian bangkit dan duduk di hadapan Sofia. Ia menatap istri kecilnya itu dengan wajah bantalnya.
"Apa?"
"Temani aku ke dapur, aku ingin makan sesuatu," ucap Sofia sambil memelas kepada lelaki itu.
Joe melirik jam dinding di kamarnya kemudian kembali menatap Sofia.
"Ini jam 2 pagi, Sofia. Memangnya kamu mau makan apa pagi-pagi begini?" tanya Joe.
"Apa saja, ya. Aku lapar!"
"Baiklah, mari."
Sambil menguap, Joe menuntun Sofia keluar dari kamarnya kemudian menuju dapur. Tak ada sesiapapun disana, mansion itu sepi seperti tidak berpenghuni.
"Kamu lihat, Sayang. Tidak ada sesiapapun disini. Hanya aku dan kamu serta calon bayi kita yang berkeliaran di ruangan mencari makan. Ada-ada saja," gerutu Joe.
"Ya, mau bagaimana lagi? Perutku sangat lapar. Sejak tadi siang aku belum makan apa-apa, 'kan," kesal Sofia.
"Ya, ya, baiklah! Sekarang kamu mau makan apa?" tanya Joe sembari memeriksa lemari penyimpanan makanan.
"Aku ingin makan nasi goreng lengkap dengan ayam suwir serta telur mata sapi. Jangan lupa bawang gorengnya yang banyak," sahut Sofia sambil membayangkan nasi goreng tersebut.
__ADS_1
...***...