Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 252


__ADS_3

"Dad, sepertinya feelingmu tentang Udin itu benar, deh," ucap Marissa kepada Marcello ketika Maria sudah kembali ke kamarnya.


"Apa maksudmu?"


"Yang nganterin Maria tadi si Udin, kata Maria sih. Tapi kalau menurutku penampilan Udin itu tidak seperti sopir pada umumnya. Dia terlihat lebih keren dari seorang sopir, malah lebih mirip Boss-Boss ketimbang seorang sopir."


"Jadi, si Udin itu tadi kesini tapi tidak ingin menemuiku?" kesal Marcello, menatap wajah istrinya dengan serius.


"Ish, bukan seperti itu, Dad! Ketika si Udin mengantarkan Maria kesini, Daddy 'kan lagi bertapa di tempat favorit Daddy," sahut Marissa.


"Tempat favoritku? Kamar mandi?"


"Ya! Dimana lagi?"


"Wah, sayang sekali! Padahal aku sangat penasaran seperti apa sebenarnya si Udin itu hingga anak gadisku begitu tergila-gila padanya."


"Yang pastinya dia sangat tampan, Dad," sahut Marissa.


Malam menjelang.


Setelah acara makan malam selesai, Marvel memilih bersantai bersama kedua orang tuanya di ruang utama sambil menunggu rasa kantuk. Sedangkan Maria memilih ke kamar dan Melvin bersantai di depan mansion sambil memainkan ponselnya.


"Vel?" sapa Marissa.


"Ya, Mom."


"Mommy kok penasaran ya sama sosok Tuan Dylan, Bossnya si Udin itu. Kira-kira orangnya seperti apa ya, Vel?"


"Tuan Dylan?" Marvel mengkerutkan keningnya saat bertatap mata dengan Marissa.


"Lah, Mommy-mu masih penasaran ternyata!" sela Marcello sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


"Ya, penasaran lah, Dad! Kata Maria dia sangat baik, bahkan Udin aja diperhatikan olehnya."


"Udin siapa, Dylan siapa? Kalian ini sebenarnya membicarakan siapa, sih?" tanya Marvel penasaran.


"Begini loh, Vel. Adik perempuanmu itu sudah punya kekasih dan namanya Udin. Nah, si Udin ini sopir pribadi dari Tuan Dylan yang katanya salah satu rekan bisnismu, benarkah itu?"


Marvel tidak bisa menahan tawanya ketika nama Udin disebutkan. "Maria, Maria ... apa tidak ada nama yang lebih keren dari pada Udin untuk di jadikan kekasih?"


"Nah, sepemikiran!" celetuk Marcello sambil tersenyum tipis.


"Hhh, kalian belum lihat saja bagaimana penampilan si Udin ini. Jika kalian melihatnya, aku yakin sekali kalian pun pasti akan terpelongo," sahut Marissa kesal.


"Tapi, bukannya Maria akan bertunangan sama Aidan, putra Tuan Alfonso. Kenapa sekarang kalian malah membahas si Udin?"


"Hah, ceritanya panjang. Nanti Daddy ceritakan!" kesal Marcello ketika mendengar nama Aidan disebutkan.


Walaupun bingung, Marvel tetap mencoba tersenyum. "Sebentar, Tuan Dylan, ya?" Marvel mencoba mengingat-ngingat siapa Dylan dan setelah beberapa saat ia pun kembali tersenyum.


"Benarkah, bagaimana orangnya?" tanya Marissa dengan sangat antusias.


"Dia lelaki yang baik dan sangat sopan. Usianya sudah 30 lebih dan ya, aku rasa nama sopirnya memang Pak Udin. Tapi ...." Marvel kembali menautkan kedua alisnya.


"Tapi? Tapi kenapa, Vel? Jangan buat Mommy takut," tanya Marissa dengan mata membesar menatap Marvel.


"Tapi ... masa iya Maria pacaran sama si Udin yang itu? Setahuku, Pak Udin sopirnya Tuan Dylan itu sudah tua dan mungkin hampir seusia Daddy."


Marissa dan Marcello saling tatap dan nampak jelas di raut wajah keduanya bahwa mereka sangka terkejut sekaligus heran.


"Nah, lo!" pekik Marissa dan Marcello secara bersaman.


"Awas saja kalau si Udin ini berani mempermainkan putri kita, aku sendiri yang akan buat perhitungan kepadanya!" kesal Marcello.

__ADS_1


Sementara Marvel, Mommy dan Daddynya masih membahas masalah si Udin KW, Melvin masih asik bersantai di depan mansion sambil bermain dengan ponselnya. Tiba-tiba Joe dan beberapa orang Bodyguard lewat di depannya sambil membungkuk hormat.


"Om! Bolehkah kita bicara sebentar?"


Melvin bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Joe yang kini menghentikan langkahnya.


"Tentu saja, Tuan Muda."


"Ehm, duduklah Om."


Melvin mempersilakan Joe untuk duduk di kursi yang ada di depan mansion. Setelah Joe duduk disana, Melvin pun ikut duduk bersebelahan dengan lelaki itu.


"Om Joe, bolehkah aku bertanya sesuatu tentang Shakila?"


Joe menautkan alisnya sambil membalas tatapan Melvin yang terlihat sangat serius.


"Apa itu, Tuan Muda?"


"Om, sewaktu Tante Sofia melahirkan Shakila apa kalian yakin Shakila hanya sendirian? Ehm, maksudku apa ada kemungkinan jika Shakila terlahir kembar?"


Joe tersenyum kecut sembari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Sebenarnya apa maksud Anda, Tuan Muda. Saya tidak mengerti dan seperti yang ada lihat, Shakila hanya satu dan dia putri pertamaku satu-satunya," ucap Joe mantap.


"Tapi ... aku punya teman, Om. Namanya Aira dan Aira ini begitu mirip sama Shakila. Bahkan saking miripnya, aku sempat mengira bahwa dia adalah Shakila," tutur Melvin dengan wajah serius.


Seketika Joe terdiam dan sekarang ia nampak sedang berpikir.


"Shakila kembar? Apakah itu mungkin?" batin Joe.


"Om?" panggil Melvin karena Joe terdiam dan tak bicara sepatah katapun lagi.


"Dimana gadis itu? Bisakah aku menemuinya, Tuan Muda?" tanya Joe yang akhirnya membuka suaranya setelah sempat terdiam.

__ADS_1


...***...


__ADS_2