Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 121


__ADS_3

"Sebenarnya Ibu tidak enak sama Tuan Joe, Cha. Beberapa hari sebelum kejadian itu, Joe sempat mengakui perasaannya kepada Ibu," tutur Dian dengan wajah sendu menatap Marissa.


"Apa?! Mengakui perasaan yang seperti apa, Bu? Jawab, Bu. Jangan buat Icha penasaran!" pekik Marissa dengan mata membulat sempurna menatap Dian.


Dian menggelengkan kepala ketika melihat ekspresi Marissa saat itu. Ia sudah menduga sebelumnya bahwa Marissa pasti akan sangat terkejut setelah mendengar ucapannya.


"Ih, Marissa sayang. Jangan keras-keras dan Ibu harap kamu jangan kasih tau masalah ini kepada Tuan Marcello, ya."


"Iya, iya! Sumpah, Icha tidak akan bilang-bilang sama Tuan Marcello. Tapi, apa dulu? Ibu belum menjawab pertanyaanku dengan jelas perasaan seperti apa yang di utarakan oleh lelaki dingin itu?!" sahut Marissa yang rasa penasarannya sudah berada di ubun-ubun.


Dian terdiam sejenak sambil memperhatikan wajah penasaran Marissa sambil tersenyum kecut. Sebenarnya ia ragu menceritakan masalah ini kepada siapapun, termasuk Marissa.


"Tuan Joe bilang bahwa dia menyukai Ibu sudah sejak lama. Sejak pertama kali kami bertemu, ketika ia menjemputmu di kediaman mendiang Nyonya Melinda dan membawamu ke tempat ini."


Lagi-lagi Marissa membulatkan matanya. Ia tidak menyangka bahwa lelaki dingin itu begitu pandai menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.


"Aku tidak menyangka bahwa Om Joe juga punya perasaan untuk seorang wanita dan hebatnya lagi, wanita yang dapat meluluhkan hatinya adalah Ibuku, aaakkhhh!!!" jerit Marissa.


"Cha," tegur Dian agar Marissa tidak mengeluarkan suara keras.


"Trus, Ibu bilang apa? Jangan katakan Ibu juga mencintainya, ya? Pokoknya Icha tidak setuju, Bu. Ibu harus menikah sama Ayah. Berilah kesempatan untuk Icha, Bu. Icha ingin memiliki keluarga yang utuh. Ada Ayah dan ada Ibu juga," lirih Marissa.

__ADS_1


Kini mata indah milik Marissa terlihat berkaca-kaca. Ia sedih jika seandainya Dian lebih memilih Joe daripada Ayahnya. Walaupun ia tahu bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, tetapi ia tetap ingin Ibunya menikah dengan Tuan Riyadh yang merupakan Ayah kandungnya.


Dian kembali tersenyum kemudian menyentuh pipi Marissa dan mengelusnya dengan lembut.


"Tuan Joe hanya mengutarakan perasaannya saja, Marissa. Ia tidak meminta jawaban dari Ibu apalagi berharap Ibu menerima cintanya. Dia cuma ingin Ibu tahu bahwa selama ini dia memiliki perasaan yang spesial untuk Ibu," tutur Dian.


Marissa begitu bahagia mendengarnya. Ia segera memeluk tubuh Dian dengan erat sambil menciumi kedua pipi wanita itu.


"Lalu apa yang Ibu pikirkan sekarang? Terima saja lamaran Ayah, Bu. Kasihan Ayah, selama ini dia sudah menderita karena menanggung dosanya tanpa bisa memperbaiki semua kesalahannya kepada Ibu," ucap Marissa.


"Tapi, bagaimana dengan Tuan Joe. Ibu takut ia kecewa kemudian marah sama Ibu," sahut Dian.


Marissa tersenyum kemudian menggenggam tangan Dian dengan erat.


"Semoga saja,"


"Tapi, Ibu menerima lamaran Ayah, 'kan?" tanya Marissa lagi.


Dian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kepada Marissa. Marissa begitu bahagia, ia pun kembali memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat.


Setelah selesai bicara dengan Ibunya, Marissa berinisiatif menemui Joe di kamar lelaki itu. Marissa membulatkan matanya ketika melihat kamar lelaki dingin tersebut. Ukuran kamarnya begitu besar bahkan hampir sama dengan kamarnya dulu. Pantas saja Joe di beri julukan oleh para pekerja di Mansion sebagai Boss kedua setelah Marcello.

__ADS_1


Perlahan Marissa mengetuk pintu kamar tersebut dan tidak berselang lama, lelaki itupun kini berdiri tepat di hadapan Marissa. Ia menatap Marissa sambil menaikkan sebelah alisnya. Ia bingung untuk apa istri kecil Tuan Marcello menemuinya di tempat itu.


"Ada perlu apa, Nona?" tanya Joe dengan tatapan dingin menatap Marissa.


"Om, bolehkah kita bicara sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan dan aku rasa ini sangatlah penting. Ini menyangkut masa depanku, Om."


Joe pun akhirnya mengabulkan keinginan Marissa. Ia keluar dari kamar dan segera mengikuti langkah Marissa setelah ia menutup pintunya. Marissa berjalan menuju sebuah ruangan, dimana tak nampak satupun pelayan atau pekerja lainnya disekitar tempat itu.


"Om, Marissa sudah tahu semuanya. Ibu sudah menceritakan semuanya kepada Marissa," ucap Marissa sambil menatap lekat kedua bola mata lelaki dingin tersebut.


Joe menyunggingkan sebuah senyuman tipis di wajahnya. "Apa yang sudah Anda ketahui, Nona?" tanya Joe.


"Tentang perasaanmu terhadap Ibuku," jawab Marissa yakin.


"Lalu?"


"Om Joe, Marissa mohon. Biarkan Ibu menerima lamaran Ayah, ya?! Jangan benci Ibu setelah ia menerima lamaran Ayah nanti," lirih Marissa sambil meraih kedua tangan Joe dan menggenggamnya.


Joe terkekeh pelan. Ia menarik tangannya dari genggaman Marissa. Entah mengapa dia merasa tidak nyaman ketika Marissa menyentuhnya seperti itu.


"Kenapa saya harus marah kepada Nyonya Dian, Nona Marissa? Semua itu adalah pilihannya. Dan saya tidak bisa melarang apalagi membenci Nyonya Dian hanya karena pilihannya jatuh kepada Tuan Riyadh," jawab Joe.

__ADS_1


...***...


__ADS_2