
Di perjalanan menuju mansion, Joe terus terbayang-bayang dengan bayi mungil tersebut. Entah mengapa bayi perempuan cantik itu terus saja menghantui pikirannya.
Setibanya di mansion, Joe bergegas memarkirkan mobilnya kemudian berjalan dengan cepat memasuki tempat megah tersebut. Orang pertama yang ingin dia temui adalah Sofia, istri mungilnya.
Ia mengelilingi mansion untuk mencari sosok wanita mungil itu dan akhirnya ia menemukan Sofia sedang berada di kamar si kembar Marvel dan Melvin.
"Sofia," sapa Joe sembari menghampiri wanita itu.
"Sayang, kemarilah," balas Sofia sembari menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya. Saat itu Sofia sedang duduk di sofa yang ada di kamar si kembar.
Joe pun mendekat kemudian duduk di samping Sofia. Sofia tersenyum sembari melabuhkan ciuman hangat di pipi lelaki itu.
"Bagaimana?" tanya Joe.
Ekspresi wajah Sofia mendadak sendu. Perlahan ia menggelengkan kepalanya kemudian berucap.
"Masih belum. Ini aku lagi dapet, Mas."
Joe menghembuskan napas panjang sambil melemparkan senyuman hangatnya kepada wanita itu. "Tidak apa, kita coba lagi. Asal jangan menyerah saja," ucap Joe.
Joe merengkuh tubuh Sofia kemudian membiarkan wanita itu bersandar di dada bidangnya. Sejenak mereka terdiam sembari memperhatikan Marvel dan Melvin bermain di ruangan itu.
Jika Melvin sang adik sedang asik bermain dengan mobil-mobilannya. Berbeda dengan Marvel, sang kakak. Bocah itu lebih memilih duduk dengan berbagai macam buku bacaan anak-anak yang ada di samping tubuhnya. Walaupun bocah dua tahun tersebut belum mengerti apa yang tertulis di buku tersebut, tetapi hal itu begitu menarik buatnya di banding sebuah mainan.
__ADS_1
"Lihatlah Marvel dan Melvin. Mereka kembar identik, tetapi ketertarikan mereka terlihat sangat jelas berbeda," ucap Joe.
"Ya, kamu benar, Sayang. Marvel jauh lebih mengerti dan lebih pandai dari adiknya, Melvin," sahut Sofia.
Tiba-tiba saja Joe teringat akan bayi mungil yang ada di panti asuhan. Ia ingat akan keinginan Sofia dua tahun yang lalu, dimana istri kecilnya itu ingin mengadopsi seorang anak sebagai anak pancingan. Walaupun Joe sama sekali tidak mempercayai hal itu, tetapi tidak ada salahnya untuk Joe mempertanyakan hal itu kepada Sofia.
"Sofia."
"Hmmm." Sofia bergumam sambil mendongak menatap Joe.
"Tadi saat aku mengantarkan undangan ke Panti Asuhan, aku melihat ada seorang bayi perempuan yang baru saja menjadi penghuni baru tempat itu. Sepertinya usia bayi itu baru beberapa hari, Sofia."
Sofia tersenyum lebar setelah mendengar penuturan Joe saat itu. "Jadi, bolehkah aku mengadopsinya?" tanya Sofia tanpa basa-basi.
Sofia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Mas. Aku berjanji!"
Joe terdiam untuk sesaat, tetapi matanya tetap tertuju pada Sofia.
"Baiklah, nanti kita ke Panti dan urus semua surat-menyuratnya. Semuanya harus jelas dan bayi itu harus benar-benar menjadi milik kita. Aku tidak ingin suatu saat nanti ada seseorang yang akan merebutnya dari kita," tutur Joe.
"Ya, aku sangat setuju!" jawab Sofia dengan sangat antusias.
Sofia memeluk erat tubuh Joe sembari mengucapkan terima kasih kepada lelaki itu karena sudah mengizinkannya mengadopsi bayi tersebut.
__ADS_1
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali para pekerja di mansion sudah disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan untuk mempersiapkan pesta ulang tahun si kembar yang akan dilaksanakan pada hari ini.
Di saat semua orang sedang sibuk, sang pemilik mansion malah masih asik bergulat di dalam selimut mereka yang hangat.
"Ayo, Tuan Marcello! Sudahlah, bukankah hari ini kita akan disibukkan dengan acara ulang tahun si kembar? Kenapa kamu malah sibuk mengajakku bergelut di dalam selimut!"
Marissa mencoba melepaskan pelukan Marcello yang mendekap erat tubuhnya. Bukannya lepas, pelukan lelaki itu malah semakin erat saja.
"Sekali lagi, ya!" ajak Marcello sembari mengecupi puncak bulatan kenyal milik sang istri.
"Kita sudah bergelut dua kali tadi malam. Apa kamu masih belum puas?" tanya Marissa.
"Belum, Sayang. Nih, buktinya King Cobra-ku bangkit lagi," jawabnya sembari menggesek-gesekan si King Cobra ke paha Marissa.
"Ya, Tuhan! Aku curiga, apa jangan-jangan kamu ...."
Marcello terkekeh pelan. "Ya, tadi malam aku minum sesuatu. Kita 'kan sedang dalam proses pembuatan dede bayi buat Marvel dan Melvin. Siapa tahu kita dapat baby girl, ya 'kan?"
"Hhhh, siapa bilang? Marvel dan Melvin masih terlalu kecil dikasih adik. Nanti kasihan mereka," ucap Marissa.
Marcello tidak peduli apa kata sang Istri. Ia menaiki tubuh Marissa kemudian menuntun King Cobra-nya menuju Nona cantiknya Marissa.
__ADS_1
...***...