Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 255


__ADS_3

Dengan sabar Dylan duduk di dalam mobil sambil menunggu Maria menyelesaikan pelajarannya hari ini. Beberapa saat kemudian bell sekolah pun berbunyi, seluruh siswa dan siswi di SMA tersebut berhamburan menuju gerbang dan juga tempat parkir.


Dari kejauhan, nampak seorang gadis dengan wajah ceria berlari kecil menghampiri mobil Dylan. Ia terus tersenyum bahkan hingga Dylan membukakan pintu mobil untuknya.


"Sudah lama menunggu, Om?"


"Tidak juga."


Setelah Maria duduk di dalam mobil, Dylan pun segera menyusulnya kemudian melajukan kendaraan beroda empat tersebut menuju sebuah tempat, dimana Aidan sudah menunggu kedatangan mereka.


Karena melihat jalan yang ditempuh oleh Dylan bukanlah jalan menuju mansionnya, Maria pun kebingungan. Ia memperhatikan sekeliling jalan dengan alis berkerut.


"Kita mau kemana, Om?" tanya Maria heran.


"Ke suatu tempat, Nona Maria. Maafkan aku karena tidak memberitahukan hal ini sebelumnya," sahut Dylan yang masih fokus pada mobilnya.


"Memangnya ada apa sih, Om. Sepertinya ada masalah, ya? Sejak tadi Maria perhatikan raut wajah Om nampak sedih, begitu?" Maria menatap lekat wajah Dylan yang masih menatap lurus ke depan.


Dylan tersenyum tipis. "Kamu akan tau nanti, Nona."


Maria menkuk wajahnya sebentar dan ia pun tidak bertanya lagi. Setelah beberapa saat, mobil yang dikemudikan oleh Dylan pun berhenti di tempat parkir sebuah Restoran mewah yang terletak di tengah kota.


"Wah, ternyata Om mau ngajakin Maria makan siang disini, ya? Kebetulan sekali perut Maria sudah sangat lapar, Om!" ucap Maria ketika Dylan membukakan pintu mobil untuknya.


Dylan hanya bisa tersenyum getir melihat Maria yang begitu bersemangat setelah mengetahui bahwa Dylan mengajaknya ke Restoran tersebut.

__ADS_1


"Mari, Nona. Ikutlah denganku," ucap Dylan sembari menyerahkan tangan kekarnya kepada Maria. Gadis itu tersenyum kemudian segera melingkarkan tangannya ke tangan kekar Dylan dan melangkah bersama lelaki itu memasuki restoran tersebut.


"Memangnya Om lagi punya banyak duit ya, sampai ngajakin Maria makan siang di Restoran mahal ini?" tanya Maria sambil memperhatikan ekspresi wajah Dylan saat itu.


Dylan tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil mengedarkan pandangannya. Hingga akhirnya tatapan Dylan terhenti pada sosok Aidan yang kini sudah duduk di sebuah meja VIP yang sudah disewa oleh lelaki itu sebelumnya. Lelaki itu tersenyum tipis menyambut kedatangan Maria dan Dylan.


Ekspresi bahagia Maria tiba-tiba saja sirna setelah melihat sosok Aidan yang ternyata juga berada di tempat itu.


"Kenapa Om Mengajakku kesini? Jangan-jangan kalian berencana untuk menjebakku, ya?!" pekik Maria sembari menghentikan langkahnya. Ia menatap tajam ke arah Dylan dengan wajah kesal.


Dylan kembali menghampiri Maria kemudian meraih tangan gadis itu. "Bukan seperti itu, Nona Maria. Demi Tuhan, aku dan Tuan Aidan tidak memiliki niat buruk padamu apalagi sampai menjebakmu. Percayalah padaku," sahut Dylan.


Maria menatap kedua bola mata Dylan dengan seksama dan ia yakin tidak ada kebohongan disana. Gadis itupun pun akhirnya luluh dan percaya pada ucapan Dylan.


"Selamat siang, Tuan Aidan."


Dylan menarik sebuah kursi untuk Maria dan mempersilakan gadis itu untuk duduk disana, begitupula dirinya.


"Sebenarnya ada apa ini?" ketus Maria.


"Tenang saja, Maria sayang."


Aidan mencoba meraih tangan Maria yang terulur di atas meja, tetapi dengan sigap Maria menarik tangannya kembali kemudian menyembunyikannya ke bawah meja.


"Hari ini aku ingin semuanya menjadi jelas, Maria. Biarkan lelaki ini tahu siapa yang lebih pantas menjadi pasanganmu." lanjut Aidan sambil tersenyum getir. Ia merasa sedikit malu karena Maria menolak disentuh olehnya.

__ADS_1


"Apa maksudnya, aku tidak mengerti?" tanya Maria dengan wajah heran menatap Aidan dan Dylan secara bergantian.


"Aku ingin kamu memilih salah satu di antara kami yang pantas untuk menjadi pasanganmu. Walaupun sebenarnya aku sangat yakin bahwa kamu pasti akan memilihku daripada dia." Aidan melirik Dylan yang sejak tadi hanya diam seribu bahasa.


"Kenapa kamu sangat yakin bahwa aku akan memilihmu, Tuan Aidan?" tanya Maria.


Aidan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil terus menyunggingkan sebuah senyuman hangat kepada Maria.


"Tentu saja aku sangat yakin! Pertama, aku adalah calon tunangan yang dipilih oleh Tuan Marcello untukmu, Maria sayang. Dan yang kedua, aku bisa pastikan bahwa kamu akan bahagia jika memilihku menjadi calon suamimu. Aku akan memanjakanmu, memberikanmu semua kemewahan, pakaian serta perhiasan mahal," ucap Aidan dengan kepala terangkat.


Aidan bertepuk tangan beberapa kali dan tidak beberapa lama seorang Pelayan di Restoran itu menghampiri meja mereka dengan membawa sebuah kotak perhiasan. Lelaki itu menyerahkan benda tersebut kepada Aidan dan segera disambut olehnya.


"Lihatlah, Maria!"


Aidan membuka kotak perhiasan tersebut ke hadapan Maria sambil tersenyum puas. Apalagi saat ia melihat Dylan yang nampak tidak bisa berkutik. Ia menyerahkan satu set perhiasan mahal tersebut kepada Maria dan segera disambut oleh gadis itu.


"Itu hanya sebagian kecil, Maria sayang. Kau akan mendapatkan yang lebih banyak lagi jika kamu memilihku menjadi kekasihmu," ucapnya.


Dylan terdiam sambil memperhatikan ekspresi Maria saat itu. Dulu Amalia juga terkecoh dengan janji manis yang dilontarkan oleh Aidan dan ia takut Maria akan menjadi Amalia kedua yang rela meninggalkannya demi sebuah janji manis yang keluar dari bibir lelaki itu.


"Nona Maria," lirih Dylan.


Maria masih diam dan matanya tetap tertuju pada perhiasan mahal tersebut.


...***...

__ADS_1


__ADS_2