
"Zaid, kamu kenapa, Nak?" tanya Ismika.
Ismika menyentuh wajah Zaid yang terluka dan memperhatikannya dengan seksama. Ada beberapa luka lebam di wajah Zaid akibat pukulan dari lelaki itu, bahkan ada di antaranya yang masih mengeluarkan darah walaupun tidak terlalu banyak.
"Jangan pedulikan aku," ketus Zaid.
Pemuda itu menyingkirkan tangan Ismika dari wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar marah dan takut tidak bisa mengontrol emosinya. Ismika kebingungan melihat sikap kasar Zaid. Tidak biasanya Zaid bersikap seperti itu terhadapnya.
"Zaid sayang, sebenarnya kamu kenapa?" tanya Ismika yang semakin heran.
"Tanyakan itu pada kekasihmu, Mah!" jawab Zaid dengan intonasi suara yang mulai naik.
"Kekasihku? A-apa maksudmu?!"
Air mata kekecewaan meluncur dari kedua bola mata Zaid. Ia sudah tidak sanggup lagi membendungnya. Rasa sesak di dadanya membuat ia tidak mampu menahan buliran bening itu untuk tidak tumpah.
"Mama benar-benar tega. Mama membohongi Zaid dengan mengatakan bahwa Papa lah yang selama ini telah berkhianat, hingga membuat keretakan di dalam rumah tangga kalian. Tapi ternyata, Mama adalah pembohong besar! Mama lah biang permasalahannya, Mama lah yang selama ini berselingkuh dengan laki-laki lain dibelakang Papa!" geram Zaid sambil terisak.
"Apa-apaan ini, Zaid! Kenapa kamu malah memfitnah Mama seburuk itu? Ini pasti karena kamu sudah terpengaruh ucapan Papamu, 'kan? Jangan dipercaya, Zaid! Papamu bohong! Dia bohong," elak Ismika.
Zaid menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum sinis. "Sayangnya aku tahu hal ini bukan hanya dari Papa, Mah. Tetapi juga dari lelaki yang barusan Mama kasih uang. Bukankah lelaki itu adalah kekasihmu?!"
DEG!!!
Tubuh Ismika mendadak lemah. Lututnya seakan tak sanggup lagi menahan beban tubuhnya. Ismika menyandarkan tubuhnya di dinding kamar agak tidak merosot ke lantai.
__ADS_1
"Kenapa diam, Mah? Aku harap Mama bersedia mengakuinya dari pada harus mengelak dan bersikeras mengatakan bahwa Papa adalah dalang dari semua ini,"
"Ma-mama tidak mengelak, Zaid. Tetapi itu adalah kenyataannya," lirih Ismika dengan mata berkaca-kaca menatap Zaid.
"Lihatlah ini!" Zaid menyerahkan ponselnya kepada Ismika dan segera disambut oleh wanita itu. "Zaid yakin setelah ini Mama tidak akan bisa mengelaknya lagi," sambung Zaid sembari berlalu menuju kamarnya.
Kini tinggal Ismika yang masih terdiam di ruangan itu dengan tubuh bergetar. Ia memperhatikan sebuah video yang sedang diputar di ponsel milik Zaid. Video yang sengaja Zaid ambil ketika ia berada di cafe. Dimana pengakuan lelaki itu terdengar begitu jelas.
Ismika tidak sanggup memutar video tersebut hingga akhir. Tubuhnya bahkan sudah merosot ke lantai dan air matanya pun kembali menyeruak. Hatinya begitu sakit. Bukan hanya karena pengakuan dari lelaki itu, tetapi pengkhianatan yang dilakukan oleh lelaki itu begitu menggores luka di hatinya semakin dalam.
"Kurang ajarrr! Ternyata dia pun bermain di belakangku. Sekarang bagaimana nasibku? Anakku sudah tidak percaya dengan ucapanku dan lelaki itu juga sudah berkhianat!"
Ismika meremass pakaiannya. Dadanya kembali berdenyut hebat dan terasa sesak.
Riyadh masih berbenah di kantornya. Ia bersiap ingin pulang. Namun, baru saja ia selesai membereskan berkas-berkas pentingnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Riyadh memperhatikan nomor yang tertera di layar ponselnya. Nomor baru yang tidak terdaftar didalam kontaknya. Dengan ragu-ragu, Riyadh mengangkat panggilan itu.
"Ya, hallo. Dengan siapa ini?" tanya Riyadh.
"Hallo, Tuan Riyadh. Kenalkan, nama saya Aamir. Lelaki yang dulu pernah meniduri Istri terkasih Anda, Nyonya Ismika Hanif."
Lelaki itu tertawa setelah berkata seperti itu. Ia seolah bangga karena sudah berhasil mendapatkan hati dari seorang Ismika. Tangan Riyadh bergetar, ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengingat sosok lelaki yang sudah menghancurkan biduk rumah tangganya. Namun, sekarang lelaki itu malah sengaja menghubunginya.
"Apa maumu?" tanya Riyadh.
__ADS_1
Lelaki itu kembali terkekeh dan kemudian ia pun kembali berucap. "Aku hanya ingin memgatakan sesuatu padamu, Tuan Riyadh. Jaga perilaku anak lelakimu, aku bisa saja menghabisinya dalam sekejap mata, tetapi aku masih punya hati dan membiarkan dia hidup. Tetapi lain kali, aku tidak akan berpikir dua kali untuk menghabisnya."
"Apa yang kamu lakukan pada anakku, lelaki sialan!" hardik Riyadh yang sudah tidak dapat menahan emosinya.
"Hanya sedikit pelajaran kecil, Tuan Riyadh. Karena aku tidak suka jika dia mencampuri urusan pribadiku!" jawabnya.
"Awas kamu! Aku tidak akan pernah membiarkan kamu hidup tenang jika terjadi sesuatu kepada anakku!"
"Sudah kubilang, Tuan Riyadh. Anakmu tidak apa-apa. Aku hanya memberikan pelajaran kecil untuknya, tetapi jika ia masih berani ikut campur dalam urusanku, maka aku tidak akan segan-segan menghabisnya!" ancamnya lagi.
Panggilan pun diakhiri oleh lelaki itu. Tuan Riyadh yang sudah tidak sanggup menahan emosinya, segera menghubungi anak buahnya.
"Ya, Tuan?"
"Aku ingin kalian kasih pelajaran untuk kekasih gelap Ismika! Buat dia menyesal dan tidak akan berani mendekati anakku lagi," geramnya.
"Dengan senang hati, Tuan. Bukankah sudah sejak lama kami ingin melakukan itu, hanya saja Tuan selalu melarang kami," jawab anak buahnya dari seberang telepon.
"Oh ya, Tuan. Kami juga punya berita baik untuk Anda, kedua lelaki suruhan Nyonya Ismika sudah di ketemukan. Dan mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat kami," sambung orang itu.
Riyadh menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya. Ia benar-benar senang mendengar kabar baik itu.
"Baiklah, aku akan segera kesana," jawabnya.
...***...
__ADS_1