
Perlahan Marissa meraih lingerie uniknya dan mengganti lingerie yang sedang ia kenakan dengan lingerie tersebut di hadapan sang suami.
Marcello terus memperhatikan Marissa sambil tersenyum. Ia senang dapat menghukum istri kecilnya itu dan berharap agar Marissa tidak lagi melakukan hal konyol lainnya. Hal konyol yang dapat merugikan orang lain, terutama pasangan Joe dan Sofia.
Setelah selesai mengenakan lingerienya, Marissa memasang bando berbentuk telinga macan itu ke kepalanya dengan wajah menekuk. Tidak lupa, cambuk kecil yang selalu ia gunakan ketika jiwa nakalnya sudah 'On'. Namun, sayangnya jiwa nakalnya sedang berada dalam mode 'Off' untuk malam ini dan itu membuat dia sangat kesal.
"Ayo, Kucing Kecil! Kemarilah," ucap Marissa sambil menghampaskan cambuknya ke atas tempat tidur.
Marcello terkekeh melihatnya karena saat ini Marissa melakukannya dengan setengah hati. Maklum mood bumil itu masih belum terkontrol dengan baik.
"Kemarilah, Macan Buntingku! Apa kamu tidak lihat King Cobraku sudah aktif sejak tadi," sahut Marcello.
. . .
Dua bulan kemudian, di kediaman Tuan Riyadh.
"Aduh, ini sudah dua bulan! Apa aku lagi isi, ya?" gumam Dian yang sedang berada di dalam kamarnya dengan wajah panik.
Dian terus memperhatikan sebuah benda yang sedang ia pegang dengan tangan gemetar. Dengan sabar, Dian menunggu hasil yang akan terlihat di test pack tersebut. Hingga setelah beberapa detik kemudian, hasilnya pun mulai terlihat dan hasilnya begitu mengejutkan.
"Ya Tuhan, ternyata benar! Aku hamil!" pekik Dian dengan wajah pucat pasi.
Dian segera keluar dari kamarnya sambil membawa test pack tersebut bersamanya. Riyadh yang sedang merapikan kemejanya, tersenyum hangat ketika bertatap mata dengan istrinya itu.
__ADS_1
"Wajahmu kenapa, Sayang? Seperti habis melihat hantu saja," goda Riyadh sambil terkekeh pelan.
"Sayang, boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?" Dian menghampiri Riyadh kemudian berdiri di samping lelaki itu.
"Apa? Tanyakanlah," sahut Riyadh sembari merengkuh pundak Dian.
"Seandainya kita punya anak di usia kita sekarang, apa tidak lucu? Kita 'kan sudah sama-sama tua. Kamu sudah berusia 45 tahun, sedangkan aku sudah hampir genap 39 tahun, masa iya kita punya anak lagi?"
Riyadh terkekeh mendengarnya. "Kenapa harus malu. Kita 'kan suami istri dan bukan pasanga mesum. Jadi, jika seandainya Tuhan menitipkan kita seorang bayi lagi, kenapa tidak?!" sahut Riyadh dengan tenangnya.
Dian terdiam sambil menatap suaminya lekat. Namun, ekspresi wajah paniknya masih terlihat dengan sangat jelas.
"Memang kenapa, sih? Pagi-pagi sudah ngomongin bayi aja," tanya Riyadh tanpa curiga sedikitpun.
Dian menyerahkan test pack yang tadi ia pegang kepada Riyadh dan lelaki itupun menyambutnya dengan wajah tenang.
"Test pack?" tanya Riyadh.
Riyadh memperlihatkan benda itu kemudian tidak lama setelahnya ia pun tersenyum lebar sembari memegang kedua pipi Dian.
"Dan hasilnya?" tanya Riyadh penuh harap dengan mata berkaca-kaca menatap Dian.
"Positif, Sayang! Apa kamu tidak melihat hasil yang tertulis disana?"
__ADS_1
"Oh Tuhan, syukurlah! Akhirnya kita diberikan kepercayaan lagi untuk memiliki momongan dan aku sangat bahagia."
Riyadh menciumi seluruh wajah Dian sambil terus mengucap syukur. Berbanding terbalik dengan Riyadh yang begitu bahagia menyambut kehamilannya, Dian malah merasa sangat khawatir. Selain karena usianya yang sudah tidak muda lagi, ia juga takut sesuatu terjadi ketika melahirkan nanti.
Melihat kegundahan di wajah Dian, Riyadh pun mencoba meyakinkan istrinya itu. Riyadh menuntun Dian duduk di tepian tempat tidur mereka sambil terus menatap wajahnya yang terlihat sendu.
"Bayi ini anugerah terindah, Sayang. Jadi, syukurilah. Di luaran sana masih banyak pasangan yang tidak diberikan kepercayaan untuk menjadi orang tua dan di sini kita menjadi salah satu pasangan yang beruntung. Walaupun usia kita sudah tidak lagi muda, tetapi Tuhan masih mempercayai kita dengan menitipkan mahluk mungil ini untuk hidup bersama kita," tutur Riyadh mencoba meyakinkan Dian.
Dian menghembuskan napas berat kemudian memeluk tubuh Riyadh sambil menyandarkan kepalanya ke dada lelaki itu.
"Jujur, sebenarnya aku malu dan sekaligus takut. Aku malu karena usia kita sudah tidak muda lagi dan aku takut terjadi sesuatu kepada bayi ini ketika melahirkan nanti," lirih
"Hush! Kenapa bicara seperti itu?! Yakinlah, tidak akan terjadi apa-apa padamu dan juga bayi kita. Kalau perlu aku akan cari Dokter Kandungan terbaik untuk memantau perkembangan bayi kita dan juga kondisimu nantinya," lanjut Riyadh sambil mengelus puncak kepala Dian dengan lembut.
"Apa yang akan di katakan oleh Marissa, ya? Apakah dia akan senang mendengar berita ini?"
"Tentu saja Marissa senang. Coba kita lihat bagaimana reaksi Zaid,"
Riyadh melerai pelukan mereka dan mengajak Dian bangkit dari tempat itu dan menuntunnya keluar kamar. Dian kembali ragu dan mencoba menghentikan langkahnya.
"Jangan sekarang, Mas. Aku malu," tutur Dian dengan wajah cemas menatap wajah semringah Riyadh.
"Tidak apa, Sayang. Percayalah padaku," sahut Riyadh sembari mengajak Dian kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Zaid, karena kebetulan saat itu Zaid sedang menginap di kediaman baru mereka.
__ADS_1
...*** ...