Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 38


__ADS_3

Karena kondisi Marissa yang hanya mengalami cidera ringan, Dokter pun memperbolehkan dirinya pulang hari itu juga. Marissa, Marcello dan Sarrah baru saja tiba di halaman depan Mansion milik Marcello.


Gadis itu dengan langkah cepat, memasuki Mansion tersebut dan meninggalkan pasangan itu dibelakangnya.


"Hati-hati jalannya, Cha! Nanti kakimu sakit lagi," ucap Marcello dengan setengah berteriak.


Lelaki itu begitu cemas ketika melihat Marissa berjalan dengan langkah cepat tanpa menghiraukan cedera pada kakinya. Marcello segera mengejar Marissa dan mensejajarkan langkahnya bersama gadis itu.


"Kaki Icha baik-baik aja kok, Dad! Lihat ini, ini, ini!" ucap Marissa.


Gadis itu melompat-lompat di tempat ia berdiri untuk meyakinkan kepada Marcello bahwa kakinya baik-baik saja. Namun, pada lompatan terakhir rasa ngilu itupun kembali menyerang. Dan,


"Aw!!!"


Marissa hampir saja terjatuh. Beruntung Marcello cekatan. Dengan cepat, ia meraih tubuh Marissa dan menahannya agar tidak jatuh ke lantai. Untuk beberapa saat Marcello kembali terpana akan keindahan kedua bola mata Marissa yang saat ini juga membalas tatapannya.


"Dad?!" panggil Marissa, karena lelaki itu tidak juga melepaskan tubuhnya.


Marcello tersadar setelah Marissa memanggilnya. Ia segera melepaskan tubuh Marissa setelah memastikan Gadis itu dapat berdiri dengan benar.


"Dasar bandel! Sudah dibilang hati-hati, malah melompat-lompat!" gerutunya.


Sarrah masih berdiri dibelakang Marcello. Ia memutarkan bola matanya ketika menyaksikan adegan yang baru saja terjadi didepan matanya dan ia benar-benar sudah muak melihat tingkah Gadis itu.


"Sudahlah, Marcel! Gadis itu baik-baik saja! Seharusnya kamu lebih mencemaskan aku daripada anak kesayanganmu itu!" kesal Sarrah sembari menyilangkan tangannya.

__ADS_1


Marissa sadar saat itu Sarrah sudah terpancing emosi. Ia segera menjauh dari pasangan itu kemudian kembali ke kamarnya.


"Cha?!" panggil Marcello.


Namun, Gadis itu tak peduli. Ia terus melangkah menuju kamarnya. Marcello membuang napas kasar sembari memperhatikan Marissa yang terus berjalan menjauhinya. Setelah Marissa menghilang dari pandangannya, Marcello berbalik kemudian menatap Sarrah yang masih berdiri dibelakangnya dengan wajah kesal.


"Sarrah, sebenarnya aku sangat peduli padamu. Lihat saja, bagaimana khawatirnya aku melihat kondisi jarimu yang membengkak. Aku tidak peduli berapapun harga cincin itu, Sarrah. Demi kesembuhan jarimu, jangankan menghancurkan satu cincin, sepuluh cincin dengan harga yang sama pun, aku tidak masalah! Tetapi, kamu sendiri yang menolaknya, bukan. Padahal Dokter sudah memberikan saran yang tepat untuk mengobati jarimu," ucap Lelaki itu.


Sarrah terdiam, apa yang dikatakan oleh lelaki itu memang benar.


Setelah mengucapkan hal itu, Marcello bergegas pergi dan kembali ke ruang pribadinya. Sarrah pun tidak tinggal diam, ia mengikuti langkah kaki jenjang milik Marcello dari belakang dengan setengah berlari, mencoba mensejajarkan langkahnya dengan lelaki itu.


Marcello masuk kedalam ruangan pribadinya, begitupula Sarrah.


"Oh, Ayolah ... Sarrah! Sekarang kamu mau apa lagi?!" ucap Marcello, ketika menyadari bahwa Sarrah mengikutinya masuk kedalam ruangan itu.


"Apa maksudmu?"


"Apa kamu tidak menyadari sikapmu selama ini kepada Gadis itu, Marcello? Kasih sayang dan perhatian yang kamu berikan kepadanya, bukanlah kasih sayang seorang Ayah kepada Anak gadisnya, tetapi lebih condong ke perasaan seorang laki-laki kepada wanita, iya kan?!"


Marcello terkekeh sembari memijit pelipisnya. "Yang benar saja! Aku mencintai Marissa ...?" Marcello kembali tergelak.


Sementara itu, di kamar Marissa.


Baru saja, Marissa memasuki kamarnya, tiba-tiba ia teringat bahwa ponselnya tertinggal didalam mobil.

__ADS_1


"Oh, Astaga! Ponselku ...." Marissa menepuk jidatnya.


Itu artinya ia harus kembali lagi kebawah untuk mengambil kembali benda pipih itu. Sambil menggerutu, Marissa melangkahkan kakinya kembali menuju halaman depan. Ya, paling tidak sampai ia bertemu dengan salah satu Pelayan kemudian meminta Pelayan tersebut untuk mengambilkan ponsel kesayangannya.


Namun, ketika ia melewati ruang pribadi Marcello, langkahnya terhenti. Perlahan ia menghampiri ruangan itu dan mencoba mendengarkan suara ribut-ribut dari dalam ruangan tersebut.


"Sudah cukup, Marcel! Akui saja! Tidak perlu mengelak, aku sudah tahu semuanya!" teriak Sarrah sambil terisak.


"Akui apa?!" sahut Marcello.


"Aku tahu bahwa Marissa bukanlah anak kandungmu ataupun anak kandung Melinda! Dia hanya anak yang kalian adopsi dari panti asuhan, ya kan?! Aku sudah dengar semuanya, Marcel, ketika kamu menceritakan masa lalu Gadis itu kepada Joe, diruangan ini!" teriak Sarrah.


Teriakan Sarrah bahkan terdengar dengan sangat jelas di telinga Marissa yang sedang menguping pembicaraan mereka. Seluruh tubuh Marissa bergetar, napasnya tersengal-sengal dan wajahnya pun ikut memucat.


"A-apa itu benar? Jadi selama ini aku ..." lirih Marissa dengan terbata-bata.


"Cukup, Sarrah! Diam!" teriak Marcello.


Lelaki itu bangkit dari tempat duduknya kemudian dengan cepat menghampiri Sarrah dan menutup mulut wanita itu.


"Jangan pernah ceritakan hal ini pada Marissa! Dia akan tetap menjadi anakku, sekarang dan selamanya!" bisik Marcello dengan wajah kesal menatap Sarrah.


Sarrah menepis tangan Marcello kemudian kembali berteriak seraya menjauhi lelaki itu.


"Biarkan! Biarkan semua orang tahu! Biarkan Gadis itu tahu, agar ia tahu batasan dirinya! Dia bukanlah siapa-siapa dirimu, dia tidak memiliki hak apapun atas dirimu!" sambung Sarrah.

__ADS_1


...***...


__ADS_2