
Keesokan harinya, di kediaman Tuan Joe.
"Dad, Kila berangkat dulu ya," ucap Shakila kepada Joe sebelum ia berangkat menuju tempat kuliahnya.
"Ya, belajar sungguh-sungguh." Joe mengusap puncak kepala Shakila dengan lembut sambil tersenyum hangat kepada anak perempuannya itu.
"Ya, Dad. Kila sayang Daddy." Shakila memeluk tubuh Joe dengan erat dan segera dibalas oleh sang Daddy.
"Apalagi Daddy, Kila. Rasa sayang Daddy jauh lebih besar dari siapapun kepadamu. Bahkan Tuan Muda Marvel pun tidak akan pernah bisa mengalahkan rasa sayang Daddy ke kamu. Kamu harus tahu itu," sahut Joe sembari melerai pelukannya kemudian mencubit pelan hidung Shakila.
Shakila terkekeh pelan. Ia melangkah pergi sambil melambaikan tangannya kepada Joe yang sepertinya nampak berat melepaskan kepergian Shakila.
"Bye, Daddy!" seru Shakila sebelum ia memasuki mobil yang akan mengantarkannya ke kampus.
"Bye!"
Sofia menghampiri Joe kemudian berdiri di samping lelaki itu. Ia memeluk tubuh Joe dari samping sambil tersenyum memperlihatkan mobil Shakila yang sudah keluar dari halaman mansion.
"Tidak terasa ya, Mas. Rasanya baru-baru saja kita menjemputnya dari panti, tau-tau sekarang dia sudah kuliah dan sebentar lagi dipersunting oleh Tuan Muda Marvel," ucap Sofia.
"Ya. Kamu benar, Sofia. Dan entah mengapa rasa sayangku terhadap Shakila tidak pernah berkurang sedikitpun. Malah sebaliknya, aku sangat-sangat menyayanginya. Aku merasa Shakila adalah anak yang membawa keberuntungan untuk keluarga kita." Mata Joe terlihat berkaca-kaca saat ia mengucapkan hal itu.
"Aku juga, Mas."
Sementara itu, mobil yang mengantarkan Shakila terus melaju memecah jalan raya. Tanpa disadari, sebuah mobil mengikuti mobil Shakila dari belakang.
Mobil itu terus mengikuti mobil yang membawa Shakila sejak keluar dari mansion hingga ke suatu tempat yang mulai sepi, sang pemilik mobil itupun mulai beraksi.
__ADS_1
Mobil itu memepet mobil Shakila dan berhenti tepat di depannya. Sopir yang mengemudikan mobil yang ditumpangi oleh Shakila, ketakutan. Apalagi setelah seseorang keluar dari mobil itu kemudian menghampiri mobilnya dan menggedor-gedor kaca mobil dengan bringas.
"Cepat, buka!" teriak lelaki sangar itu dengan wajahnya yang terlihat sangat menakutkan.
"Ada apa ini, Pak?" tanya Shakila panik dan sekaligus ketakutan.
"Saya juga tidak tahu, Nona!" sahutnya juga tidak kalah paniknya.
"Buka pintunya, atau aku tembak!"
Lelaki sangar itu mengeluarkan sebuah senjata api dari dalam saku jaketnya kemudian menodongkannya ke kaca mobil. Pak Sopir yang ketakutan segera membuka pintu mobilnya. Lelaki itu juga mengancam Shakila dan memerintahkan gadis itu agar segera keluar dari dalam mobil.
"Kamu, keluar! Atau kamu ingin merasakan peluru ini menembus kepalamu?" ancamnya kepada Shakila.
"B-baik, Tuan!"
Kini tinggal Shakila yang sangat ketakutan dengan tubuh bergetar hebat. Apalagi lelaki itu sudah mendekatinya sambil menyeringai.
"Ampun, Tuan! Jangan sakiti aku," lirih Shakila dengan air mata bercucuran.
Namun, bukannya kasihan, lelaki itu malah mengeluarkan sebuah sapu tangan yang sudah diberikan obat bius, kemudian membekap mulut Shakila dengan benda tersebut hingga Shakila tidak sadarkan diri.
"Akhirnya ketemu juga!" gumam lelaki itu seraya mengangkat tubuh Shakila yang lemah tak berdaya dan memasukkan ke dalam mobilnya.
Setelah meletakkan tubuh Shakila ke dalam mobil, lelaki itupun segera melaju, meninggalkan mobil dan sopir yang tergeletak di tanah dengan kondisi tidak sadarkan diri.
Lelaki bertubuh tinggi besar dengan wajah sangar itu meraih ponselnya. Ia pun mulai berbincang dengan seseorang yang sepertinya sudah menunggu panggilan darinya.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukanย gadis itu?" tanya seorang laki-laki yang berada di seberang telepon.
"Ya, Tuan! Aku sudah mendapatkannya!" jawabnya sambil menyeringai.
"Bagus! Itu artinya bonus besarmu sudah menunggu," jawab lelaki itu sambil tergelak.
"Terima kasih, Tuan!"
Setelah panggilan dimatikan, lelaki sangar itupun kembali fokus pada mobilnya. Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh lelaki itu tiba disebuah rumah yang dijaga ketat oleh beberapa orang Bodyguard.
"Bawa dia masuk dan letakkan di kamar utama!" titah lelaki yang tadi bicara dengannya lewat ponsel.
"Baik, Tuan!"
Lelaki itu tersenyum puas, apalagi setelah melihat wajah cantik Shakila yang sedang tidak sadarkan diri tergolek di atas tempat tidur mewahnya.
"Sekarang kamu akan menjadi milikku seutuhnya, Gadis Nakal! Tak akan ada yang bisa menemukan dirimu di tempat ini karena tempat ini tersembunyi," gumamnya sambil tersenyum licik.
"Tuan, jangan lupakan bonusku!"
"Tentu saja," jawabnya sambil mengeluarkan sejumlah uang dan menyerahkannya kepada lelaki sangar itu.
"Yes! Terima kasih, Tuan." Lelaki sangar itupun segera pergi dari kamar utama sambil menciumi sejumlah uang yang diberikan oleh bossnya itu.
...***...
Readers, tolong jangan bilang alurnya amburadul atau berbelit-belit. Ini adalah awal pertemuan Aira dan Shakila trus terbongkarnya jati diri mereka. Setelah itu baru fokus ke Kakak Dylan. ๐๐๐ Kalau udah di judge alurnya kacau dan membagongkan, kan author bingung mau melanjutkan. Pokoknya pada intinya tidak ada yang diperkosa atau apapun itu, semua aman.
__ADS_1