Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 120


__ADS_3

Dian pun tidak kalah shok mendengar penuturan Riyadh. Wanita itu bahkan menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan. Ia tidak menyangka bahwa lelaki itu datang berkunjung ke Mansion khusus untuk melamarnya.


"Bagaimana, Dian? Apa kamu bersedia menerima lamaranku?" tanya Riyadh karena masih tak ada jawaban yang keluar dari bibir wanita itu.


Dian menatap cincin cantik itu kemudian tatapannya beralih kepada lelaki yang sedang memegang cincin tersebut. Dian berpikir keras, ia masih bingung dengan perasaannya terhadap lelaki itu.


"Tu-Tuan Riyadh, bolehkan aku meminta waktu untuk memikirkannya?" jawab Dian dengan terbata-bata.


Marissa menepuk jidatnya setelah mendengar jawaban sang Ibu. Ia tidak percaya bahwa Ibunya masih butuh waktu untuk menjawab lamaran Ayahnya.


"Aduh, Ibu! Katakan 'Ya' saja, apa susahnya sih," gerutu Marissa.


"Hust! Kamu itu suka ikut campur saja. Biarkan mereka memutuskannya sendiri, kita cukup jadi penonton saja!" sahut Marcello.


"Tapi 'kan, Dad! Aku jadi kesal soalnya,"


"Sudah, diam."


Riyadh nampak kecewa setelah mendengar jawaban Dian. Namun, tetap ia usahakan untuk terus tersenyum hangat kepada wanita itu.


"Tapi, kenapa? Apa kamu masih membenciku, Dian?" lirih Riyadh.


"Bu-bukan! Bukan seperti itu, Tuan Riyadh. Jujur, aku tidak pernah membenci Anda. Tetapi, sepertinya saya harus membicarakan hal ini kepada Marissa dulu. Benar 'kan, Marissa?"


Dian melirik Marissa yang wajahnya terlihat menekuk. Wanita itu memberi kode kepada Marissa agar mengiyakan jawabannya. Dian menganggukkan kepala dan mengedipkap mata berulang-ulang kepada anak perempuannya itu. Sedangkan Marissa memutarkan bola matanya. Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran sang Ibu hingga meminta waktu hanya untuk berkata 'Ya' saja.

__ADS_1


"Nah, benar 'kan? Marissa pun mengerti. Kami harus membicarakannya dulu," jawab Dian sambil tersenyum kecut menatap Riyadh.


Riyadh menghembuskan napas berat sambil memperhatikan wajah cantik Dian saat itu.


"Baiklah, besok aku akan kembali lagi kesini untuk meminta jawaban darimu. Tapi aku mohon padamu, Dian. Jangan pernah berkata 'Ya' jika kamu hanya terpaksa," jawab Riyadh dengan wajah sendu menatap wanita itu.


Dian pun menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, tentu saja, Tuan Riyadh. Saya akan menjawab lamaran Anda sesuai dengan kata hati saya," jawab Dian yakin.


Riyadh kembali tersenyum walaupun jelas sekali senyuman itu nampak di paksakan. Ia mengembalikan cincin cantik itu ke dalam kotak berwarna gold tersebut kemudian menyimpannya lagi ke dalam saku celana yang sedang ia kenakan.


Sekarang ia berbalik kemudian menatap Marcello dan Marissa yang masih berdiri di belakangnya. Ia melemparkan senyuman hangatnya kepada pasangan itu kemudian berpamitan.


"Sepertinya aku harus kembali, Marcello. Dan mungkin, besok aku akan kembali lagi kesini. Meminta jawaban soal lamaranku kepada Dian," ucap Riyadh sembari melirik lagi kearah wanita cantik yang kini berdiri di belakangnya.


"Tentu saja, Tuan Riyadh. Dengan senang hati, kami akan selalu menunggu kedatanganmu," jawab Marcello.


"Ayah tenang saja. Sebenarnya Ibu hanya gugup. Marissa yakin sekali, Ibu pasti akan berkata 'Ya' besok. Jadi, Ayah jangan berkecil hati dulu, ya?!" ucap Marissa sambil menggandeng tangan lelaki itu.


Riyadh terkekeh mendengar ucapan anak perempuannya itu. Ia merangkul pundak Marissa kemudian mencium keningnya.


"Ayah bukan tipe lelaki yang pantang menyerah, Cha. Ayah akan tetap berjuang sampai titik darah penghabisan!" jawabnya.


"Nah, begitu dong, Yah! Marissa senang mendengarnya."


Menjelang malam.

__ADS_1


Dian duduk di tepi tempat tidurnya dengan wajah bimbang. Saat itu Marissa sudah berada di depan pintu kamarnya. Marissa ingin mengajak bicara soal lamaran Tuan Riyadh. Perlahan, Marissa mengetuk pintu tersebut sambil memanggil-manggil Ibunya.


"Bu, ini aku, Marissa. Bolehkah aku masuk?" tanya Marissa dari luar kamar.


Lamunan Dian buyar, ia segera bangkit dari posisinya kemudian berjalan menghampiri pintu kamar.


"Sebentar, Nak."


Dengan sabar, Marissa menunggu pintu terbuka hingga ia melihat sang Ibu yang kini berdiri di depan pintu sambil tersenyum hangat kepadanya.


"Masuklah, Nak."


Dian meraih tangan Marissa kemudian menuntunnya menuju tepian tempat tidur dan mendudukkan Marissa disana.


"Bagaimana, Bu?" tanya Marissa yang sudah tidak sabar mengetahui jawaban Dian saat itu.


Wajah bimbang itu pun kembali lagi. Dian bingung harus menjawab apa tentang lamaran itu. Marissa pun turut bingung setelah melihat ekspresi wajah Ibunya saat itu. Hal itu membuat dia penasaran sebenarnya apa yang ada di pikiran Dian sekarang.


"Memangnya ada apa sih, Bu? Sepertinya Ibu susah sekali untuk berkata 'Ya'?" tanya Marissa.


"Sebenarnya,"


Dian kembali menghembuskan napas berat dan menatap Marissa dengan tatapan sendu.


"Sebenarnya apa, Bu? katakan?!" tanya Marissa yanb semakin penasaran.

__ADS_1


...***...


__ADS_2