Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 154


__ADS_3

Di sebuah kamar kosong, di lantai dua. Sofia sedang di rias oleh seorang Mua terkenal yang memang sengaja disewa oleh Marissa untuk merias Sofia. Marissa ingin Sofia tampil istimewa walaupun pernikahan mereka terkesan mendadak.


"Aduh, Nona ... saya gugup." Sofia menggenggam tangan Marissa dan Marissa merasakan tangan gadis itu terasa sangat dingin.


"Semua orang juga begitu, kok. Aku juga gugup di hari pernikahanku bersama Tuan Marcello," jawab Marissa sambil tersenyum hangat, mengingat pernikahan mendadaknya.


"Apa Tuan Joe bisa menerima saya? Saya takut Tuan Joe malah menghindari saya atau yang lebih parahnya lagi, Tuan Joe pergi meninggalkan saya, di malam pertama kami, hhh!" Tubuh Sofia bergidik ketika membayangkan hal mengerikan itu.


Marissa terkekeh pelan. "Maaf ya, Sofia. Tapi aku ingin berkata jujur padamu. Joe itu sudah tua, gengsinya tinggi. Tinggal kerahkan saja kemampuanmu sebagai seorang wanita, dia pasti luluh."


"Bagaimana caranya, Nona? Saya tidak mengerti," tanya Sofia dengan wajah heran menatap Marissa.


Marissa mendekatkan wajahnya kepada gadis itu kemudian membisikkan sesuatu.


"Begini, sshshshshshhs ...."


Sofia terkekeh pelan sambil terus mendengarkan bisikan nakal majikannya tersebut.


"Apakah tidak apa-apa seperti itu, Nona?"


"Tentu saja tidak apa-apa. Lagipula dia sudah menjadi suami sah mu, 'kan? Memang ada ya, yang bilang kalau menggoda suami sendiri itu salah?" ucap Marissa.


Sofia tersenyum kecut sembari membalas tatapan sang majikan. "Ya, enggak ada sih, Non."

__ADS_1


"Nah, 'kan?" lanjut Marissa.


Sementara kedua wanita itu sedang asik mengobrol.


Joe sedang galau di dalam kamarnya. Ia tidak tahu harus bagaimana menanggapi pernikahannya. Apakah harus senang atau malah bersedih. Ia bahkan masih belum bisa berpikir dengan jernih untuk saat ini.


"Ya Tuhan, apakah Sofia memang benar-benar jodoh yang dipersiapkan untukku?"


Tiba-tiba saja Marcello muncul, lelaki itu menghampirinya sambil menyeringai.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan, Joe! Nikmati saja," Marcello menepuk pundak Joe.


Joe hanya melemparkan senyum getirnya kepada Marcello tanpa bisa berkata apa-apa.


"Dulu aku juga merasakan apa yang kamu rasakan saat ini, Joe. Aku harus menikahi Marissa padahal aku sendiri masih belum yakin akan perasaanku padanya. Tapi sekarang kamu lihat sendiri bagaimana hubungan kami, 'kan? Kami baik-baik saja. Malah hubungan kami semakin hari semakin mesra saja," tutur Marcello dengan bangganya.


"Itulah yang membuatku ragu, Tuan Marcello. Aku tidak ingin menjadi seperti Anda. Singa tangguh dan kejam sekarang menjadi kucing kecil yang lucu dan imut setelah gadis kecil itu menguasai hidup Anda. Haruskah aku juga menjadi seperti itu? Oh Tuhan, jangan timpa aku dengan karma menyedihkan itu, jangan ..." batin Joe.


"Sudah, tidak usah dipikirkan lagi. Mari kita keluar, Pak Penghulu sudah menunggu kehadiranmu," ajak Marcello.


Joe pun menganggukkan kepalanya kemudian melangkah bersama Marcello menuju ruang utama. Ruangan yang mendadak disulap menjadi tempat diselenggarakannya pernikahan Joe dan Sofia hari itu.


Setibanya di ruangan itu, Joe menyalami orang-orang yang ada disana termasuk para saksi dan Pak penghulu. Setelah selesai menyalami mereka, ia pun segera duduk tepat dihadapan Pak Penghulu.

__ADS_1


Pak penghulu tersenyum ketika bertatap mata dengan Joe. Ia melihat wajah lelaki itu nampak pucat.


"Jangan terlalu tegang, Tuan Joe. Karena kehadiran saya disini bukan untuk mengajak Anda bergelut," goda Pak Penghulu.


"Saya gugup, Pak." Joe kembali tersenyum kecut.


. . .


"Ayo, Sofia! Yakinlah, kamu pasti bisa!" ucap Marissa sembari menuntun Sofia menuju ruangan dimana Joe dan yang lainnya sudah menunggu kehadiran Sofia, sang mempelai wanita.


"Huft! ... huft! ... huft!" berkali-kali Sofia menarik napas dalam kemudian menghembuskan pelan agar rasa gugupnya berkurang.


"Nah, itu mereka!" ucap Marcello ketika melihat Marissa tiba di ruangan itu sambil menuntun Sofia yang terlihat sangat cantik dengan kebaya pengantin modern. Kebaya yang dirancang oleh seorang Desainer kondang. Bahkan payet-payet yang menghiasi kebaya tersebut dikerjakan langsung oleh sang Desainer dengan jari-jemari gemulainya.


Sontak saja semua orang yang ada diruangan itu menoleh kearah mereka. Dua wanita cantik yang kini berjalan di tengah-tengah ruangan tersebut.


Joe yang sejak tadi menahan rasa gugupnya, malah semakin gugup ketika menyaksikan kecantikan gadis ingusan yang akan menjadi pasangan hidupnya itu.


Ketika Marissa mendudukkan Sofia di samping Joe, Sofia sempat melemparkan senyumnya kepada Assisten dingin itu. Namun, karena saking gugupnya, Joe tidak bisa membalasnya.


"Jangan buat hal yang memalukan, Joe! Harga dirimu dipertaruhkan malam ini," batin Joe sambil meremass-remass kedua tangannya yang terasa dingin, di bawah meja kecil yang berada di antara dirinya dan Pak Penghulu.


"Sebaiknya kita mulai saja acaranya," ucap Pak Penghulu sambil tersenyum hangat menatap wajah pucat Joe.

__ADS_1


Joe menganggukkan kepalanya pelan. Padahal saat itu hatinya sedang berteriak, "Jangan ... aku belum siap, Pak!!!"


...***...


__ADS_2