
"Oh ayolah, Dad. Ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi, yang menikah dengan cara dijodoh-jodohkan. Aku ingin menikah dengan seseorang yang aku cintai, Dad," tolak Melvin.
"Benarkah? Apakah itu artinya kamu sudah memiliki seorang kekasih, Melvin?" tanya Marcello, menatap lekat wajah Melvin.
Melvin menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecut.
"Sebenarnya sih, belum. Tapi-- berikan aku waktu untuk mendapatkan gadis itu, Dad. Aku berjanji setelah berhasil menaklukkan gadis itu, aku akan membawanya ke hadapan kalian kemudian meminta kalian untuk melamarnya. Bagaimana? ha, ha ..." Melvin sempat melirik Joe dan Joe tahu apa maksud dari lirikan pemuda itu.
"Lalu bagaimana denganmu, Marvel?"
"Ya, Marvel saja duluan, Dad. Dia 'kan abang. Jadi dialah yang seharusnya menikah terlebih dahulu," sela Melvin.
Marvel refleks meninju lengan Melvin dengan ekspresi datar sama seperti sebelumnya. Melvin terkekeh sambil mengelus lengannya.
"Sepertinya aku juga butuh waktu, Dad."
"Tidak bisa, Marvel. Apa kalian tidak kasihan melihat Daddy? Daddy sudah tua dan seharusnya seusia Daddy sudah memiliki seorang cucu. Namun, lihatlah Daddy, jangankan cucu, menantu saja belum punya. Bagaimana jika Daddy keburu mati? Kalian pasti akan menyesal karena sudah menolak permintaan terakhir Daddy," tutur Marcello.
Marissa memeluk Marcello dari samping sambil menyandarkan kepalanya ke pundak suaminya itu.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Daddy? Aku 'kan jadi sedih mendengarnya."
"Memang benar itu, Cha. Apa mereka ingin aku mati dulu baru menikah?"
Ketiga anak-anak Marcello terdiam, termasuk Maria.
. . .
"Huft!"
__ADS_1
Terdengar suara hembusan napas berat Marvel. Lelaki tampan itu berdiri di balkon kamarnya seorang diri di saat semua orang sudah terlelap. Matanya fokus pada salah satu kamar yang lampunya masih menyala, di kediaman Tuan Joe.
"Apa yang dilakukannya malam-malam begini? Kenapa dia masih belum tidur?" batin Marvel.
Di saat Marvel masih fokus pada ruangan itu, tiba-tiba saja pintu rumah Tuan Joe terbuka dan nampaklah sosok gadis cantik keluar dari rumah megah tersebut. Gadis itu duduk di teras rumahnya sendirian. Entah apa yang dilakukan oleh gadis itu, Marvel pun tidak tahu.
Dengan langkah cepat, Marvel keluar dari kamarnya kemudian menuruni anak tangga, setapak demi setapak hingga ia berhasil menjejakkan kakinya di lantai dasar.
"Shakila?"
Shakila terperanjat dan lamunannya buyar setelah Marvel menyebut namanya. Ia segera membalikkan tubuhnya dan menggadap lelaki itu.
"Tuan Muda Marvel?"
Shakila segera menghampiri lelaki itu kemudian memperhatikannya dengan seksama.
Marvel hanya diam seribu bahasa dan bibirnya seolah terkunci rapat. Namun, tatapannya terus tertuju pada gadis mungil yang sedang berdiri di hadapannya.
"Tuan Muda?"
"Ehm, ya. Aku tidak bisa tidur dan kulihat kamu pun sama. Jadi, aku kesini untuk menemuimu. Apa masih ada tugas yang tidak bisa kamu selesaikan?" tanya Marvel.
Shakila terkekeh pelan. "Bukan, Tuan. Tugasku sudah selesai dan aku sangat berterima kasih atas bantuan Tuan Muda selama ini. Tapi, entah mengapa malam ini aku tidak bisa tidur. Mataku susah untuk di ajak kompromi," tutur Shakila.
Tidak mungkin Shakila menceritakan pada Marvel apa yang menyebabkan ia tidak bisa tidur malam ini.
"Tuan Muda, kemarilah."
Shakila mengajak Marvel untuk duduk di teras rumahnya dan mereka pun duduk disana sambil menikmati keheningan pada malam itu.
__ADS_1
"Aku dengar dari Daddy, Tuan Muda Marvel dan Tuan Muda Melvin akan segera menikah, benarkah itu?"
Marvel tersenyum kecut sambil memijit pelipisnya. "Itu keinginan Daddy, sedangkan aku sendiri masih belum yakin dengan keputusan itu," jawab Marvel.
"Benarkah? Tapi kenapa, Tuan?"
"Karena aku menyukai seseorang," jawabnya sambil menatap lekat wajah sendu Shakila.
Shakila begitu terkejut mendengar penuturan lelaki itu. Ia tidak menyangka bahwa Marvel ternyata menyukai seseorang. Shakila yakin, gadis yang disukai oleh Marvel bukanlah gadis biasa seperti dirinya.
"Wah, beruntung sekali gadis itu. Apa dia tahu bahwa Tuan menyukainya?"
Shakila mencoba tersenyum walaupun saat itu hatinya terasa disayat-sayat.
"Sepertinya tidak."
Shakila mengerutkan kedua keningnya. "Tapi, kenapa? Apa Tuan tidak pernah memberitahu gadis itu?"
"Karena aku tidak yakin dia juga menyukaiku, Shakila. Sepertinya gadis itu menyukai orang lain," jawabnya.
"Maafkan aku, Tuan Muda Marvel. Mungkin ucapanku sedikit menyakitkan, tetapi aku rasa gadis itu adalah gadis yang bodoh jika ia sampai menolak seseorang sepertimu," tutur Shakila sambil tersenyum getir.
Marvel terkekeh pelan. "Seandainya kamu menjadi gadis itu, apakah kamu akan menerimaku?"
Shakila terdiam sejenak sambil memperhatikan lelaki itu dengan seksama.
"Ya, Tuan. Seandainya aku adalah gadis beruntung itu, aku pasti akan menerimanya. Tetapi sayang, aku bukanlah gadis itu. Aku hanyalah seorang Shakila, anak dari seorang Joe, pengabdi untuk keluarga besar Tuan Marcello," batin Shakila.
...***...
__ADS_1