Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 118


__ADS_3

"Lepaskan aku! Apa kalian lupa, aku adalah Nyonya kalian," teriak Ismika yang mencoba memberontak ketika para anak buah Riyadh menahan tubuhnya.


Yang menjadi ketua dari mereka berucap sambil menyeringai. "Berteriak lah sesuka hati Anda, Nyonya. Tidak akan ada yang sudi menolong Anda sekarang. Oh ya, apa Anda sudah lupa bahwa kami mendapatkan tugas untuk menahan Anda, langsung dari Tuan Riyadh? Jadi, tak ada yang bisa menolong Anda sekarang," jawabnya.


Ismika semakin kesal mendengar jawaban lelaki itu. Ia menjerit-jerit agar mereka melepaskannya.


"Lepaskan aku, lepaskan!!!"


Lelaki sangar bertubuh tinggi besar tersebut memerintahkan anak buahnya agar memasukkan wanita itu kedalam mobil mereka.


"Mari kita pulang, Nyonya Ismika. Karena penginapan baru Anda yang nyaman sudah menunggu Anda. Tidak ada AC yang akan menyejukkan tubuh Anda. Tidak ada televisi yang dapat menemani kesunyian Anda dan tak akan ada lagi Tuan Riyadh yang selalu menyusahkan hidup Anda," ucap Lelaki itu sambil menyeringai licik.


"Kalian memang menyebalkan!!!" teriaknya lagi.


Setelah berhasil memasukkan tubuh Ismika kedalam mobil, mereka pun segera melajukan mobil mereka menuju bandara. Mereka akan membawa Ismika kembali ke negara mereka hari itu juga.


Sementara itu.


Dengan langkah cepat, Dian menyusuri lorong-lorong Rumah Sakit. Bersama seorang Bodyguard yang menuntunnya menuju kamar dimana Joe dirawat.


"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Dian kepada Bodyguard yang berjalan di depannya.


"Sebaiknya Anda lihat sendiri, Nyonya Dian," jawab Bodyguard tersebut.


Marissa dan Marcello mengikuti Dian dan Bodyguard tersebut dari belakang. Marcello menuntun Marissa dan melarang wanita itu berjalan dengan cepat.

__ADS_1


"Cha, apa ini perasaanku saja atau memang benar Ibumu ada perasaan lain kepada Joe?" ucap Marcello dengan wajah serius menatap Marissa yang berjalan di sampingnya.


Marissa menekuk wajahnya sambil membalas tatapan Marcello saat itu. Ia tidak terima dengan kecurigaan Marcello saat itu.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Dad? Aku rasa kecemasan yang dirasakan oleh Ibu itu masih di batas wajar. Soalnya Ibu merasa apa yang terjadi kepada Om Joe adalah karena dirinya."


Marcello terkekeh melihat ekspresi Marissa saat mengatakan hal itu. "Ya ampun, Icha sayang. Aku cuma mengatakan apa yang ada dalam pikiranku saja. Soal itu benar atau salah, sebenarnya itu bukan urusanku," jawabnya seraya mengacak pelan puncak kepala Marissa.


"Hhhh!"


Akhirnya mereka tiba di depan ruangan, dimana Joe sedang dirawat. Tepat disaat itu, seorang Dokter yang merawat Joe baru saja keluar dari ruangan tersebut.


Marcello segera menghampiri Dokter tersebut dan menanyakan bagaimana keadaan Joe saat ini.


"Dokter, bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Marcello dengan wajah serius menatap Dokter.


Mendengar jawaban Dokter bahwa Joe membutuhkan transfusi darah, Dian segera menghampiri mereka.


"Dokter, saya ingin mendonorkan darah saya untuk Tuan Joe. Saya pernah bicara dengannya dan dia bilang, golongan darah kami sama," ucap Dian dengan sangat antusias.


"Baiklah kalau begitu Nyonya. Tetapi untuk lebih memastikan, Anda bisa mengecek golongan darah serta kesehatan Anda terlebih dahulu sebelum mendonorkan darah Anda," jawab Dokter.


"Baik, Dok!"


Marissa yang sejak tadi hanya menjadi pendengar yang baik, menautkan kedua alisnya ketika mendengar ucapan Ibunya. Ia melepaskan tangan Marcello yang sejak tadi menggenggam erat tangannya kemudian menghampiri Dian.

__ADS_1


"Ibu serius mau mendonorkan darah untuk Tuan Joe?" tanya Marissa dengan tatapan serius menatap Ibunya.


.


"Ya, Ibu yakin," jawab Dian mantap.


Marissa masih tidak percaya karena setahunya wanita itu tidak berani dengan yang namanya jarum suntik. Jangankan ikut donor darah, saat ia sakit pun, Dian tidak berani disuntik.


"Yakin, Ibu tidak akan pingsan?"


"Marissa!?"


"Ya, baiklah. Terserah Ibu saja, tetapi kalau Ibu pingsan, Marissa tidak mau tahu, ya!"


"Ibu harus berani, Cha. Ini untuk kesembuhan Tuan Joe. Dia sudah menyelamatkan nyawa Ibu jadi sekarang saatnya untuk Ibu membalas jasa Tuan Joe. Walaupun ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan yang ia lakukan untuk Ibu," lirih Dian.


Marissa tersenyum kemudian memeluk tubuh Dian dengan erat. "Ibu benar. Semangat, Bu! Marissa mendukung Ibu."


Sementara Dian memeriksakan kesehatannya, Marissa dan Marcello memilih menunggu di depan ruangan Joe.


"Semoga Om Joe cepat sembuh ya, Dad. Jujur, aku pun sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaannya, tetapi aku tidak ingin memperlihatkannya di depan Ibu. Aku tidak ingin membuat Ibu semakin cemas," ucap Marissa sambil menyandarkan kepalanya di pundak Marcello.


Marcello mengusap lembut pipi Marissa sambil tersenyum kecut. "Bukankah sudah kukatakan pada kalian berdua, sebutir peluru tidak akan membuat seorang Joe menyerah, Cha. Dia adalah lelaki terkuat yang pernah aku kenal selama aku hidup di dunia ini," jawab Marcello.


"Semoga saja ya, Dad."

__ADS_1


...***...


__ADS_2